KONCOdewe.com – Pemerintah Iran menegaskan dukungannya kepada Oman di tengah meningkatnya tensi geopolitik terkait pengelolaan Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkapkan bahwa dirinya telah melakukan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi, untuk membahas berbagai isu strategis, termasuk masa depan pengelolaan Selat Hormuz.
Dalam pertemuan tersebut, Iran menyatakan solidaritasnya kepada Oman terhadap berbagai tekanan dan ancaman yang muncul belakangan ini.
Melalui pernyataan yang disampaikan di platform X, Araghchi menegaskan bahwa pengelolaan Selat Hormuz harus tetap berlandaskan prinsip kedaulatan negara dan hukum internasional.
Ia juga menyebut Iran dan Oman sepakat pentingnya melibatkan negara-negara tetangga dalam setiap pembahasan yang berkaitan dengan stabilitas kawasan.
Pernyataan itu muncul setelah Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, mengingatkan Oman bahwa Washington akan mengambil langkah terhadap pihak mana pun yang membantu Iran memperoleh pendapatan dari aktivitas transit di Selat Hormuz.
Situasi semakin memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan peringatan keras kepada Oman terkait kemungkinan upaya negara tersebut untuk mengambil peran lebih besar dalam pengelolaan jalur pelayaran strategis tersebut.
Konflik Regional Masih Membayangi
Kawasan Teluk Persia masih berada dalam sorotan dunia sejak pecahnya konfrontasi antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran beberapa bulan lalu.
Pada akhir Februari, serangan yang dilancarkan AS dan Israel ke sejumlah target di Iran memicu respons militer dari Teheran yang menargetkan wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Meski sempat meningkatkan kekhawatiran akan konflik yang lebih luas, kedua pihak kemudian mengumumkan gencatan senjata pada 7 April.
Sejak saat itu, upaya diplomatik terus dilakukan untuk mencari solusi jangka panjang yang dapat mengakhiri ketegangan.
Kesepakatan Awal Gencatan Senjata 60 Hari
Menurut sejumlah sumber Amerika Serikat yang dikutip Anadolu, tim perunding Washington dan Teheran telah mencapai kesepakatan awal mengenai perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari.
Kesepakatan tersebut juga mencakup kerangka awal pembahasan terkait program nuklir Iran.
Meski demikian, Presiden Donald Trump disebut belum memberikan persetujuan final terhadap rancangan nota kesepahaman yang telah disusun para negosiator dari kedua negara.
Sebagian besar poin kesepakatan dilaporkan telah disepakati, namun masih menunggu keputusan politik dari Gedung Putih.
Laporan media Axios menyebut bahwa pembahasan yang lebih luas mengenai tuntutan Amerika Serikat terhadap program nuklir Iran masih membutuhkan proses negosiasi lanjutan.
Sumber yang dikutip media tersebut menyatakan bahwa pihak Iran telah mengindikasikan kesiapan untuk menandatangani kesepakatan, meskipun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari Teheran.
Selat Hormuz Tetap Dibuka untuk Pelayaran
Dalam rancangan nota kesepahaman yang sedang dibahas, aktivitas pelayaran komersial melalui Selat Hormuz akan tetap dijamin berjalan normal tanpa gangguan.
Iran juga disebut akan bertanggung jawab membersihkan seluruh ranjau di kawasan jalur pelayaran tersebut dalam kurun waktu 30 hari.
Selain itu, Teheran diminta tidak memberlakukan pungutan tambahan maupun menghambat lalu lintas kapal dagang yang melintas.
Sebagai bagian dari kesepakatan, blokade maritim yang diberlakukan Amerika Serikat akan dicabut secara bertahap seiring pulihnya aktivitas perdagangan dan pelayaran internasional di kawasan tersebut.
Bahas Nuklir dan Pelonggaran Sanksi
Rancangan kesepakatan juga memuat komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.
Selama masa gencatan senjata 60 hari, kedua pihak akan memprioritaskan pembahasan terkait cadangan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi serta aktivitas pengayaan nuklir Iran.
Sebagai imbalannya, Amerika Serikat dikabarkan siap membuka pembicaraan mengenai pelonggaran sejumlah sanksi ekonomi serta kemungkinan pencairan aset Iran yang selama ini dibekukan.
Selain itu, mekanisme untuk memperlancar distribusi bantuan kemanusiaan dan pengiriman barang ke Iran juga menjadi bagian dari agenda yang sedang dirundingkan.
Jika tercapai kesepakatan final, langkah tersebut berpotensi menjadi titik penting dalam meredakan ketegangan yang selama beberapa bulan terakhir mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah dan jalur perdagangan global. (kangtop)













