Buah Pare Hambat Virus HIV? Ini Kandungan, Manfaat, dan Fakta Penelitiannya

Kesehatan32 Dilihat

KONCOdewe.com – Pare selama ini lebih dikenal sebagai sayuran bercita rasa pahit yang sering dihindari banyak orang.

Namun di balik rasanya yang khas, buah dengan nama ilmiah Momordica charantia ini menyimpan beragam kandungan nutrisi dan senyawa bioaktif yang telah lama menjadi perhatian para peneliti.

Dalam pengobatan tradisional, pare telah dimanfaatkan untuk membantu mengatasi berbagai keluhan kesehatan, mulai dari diabetes hingga gangguan pencernaan.

Bahkan, sejumlah penelitian pernah menyoroti potensi senyawa yang terkandung di dalamnya terhadap virus HIV dan pertumbuhan sel kanker.

Meski demikian, temuan-temuan tersebut masih memerlukan penelitian klinis lebih lanjut .

Dan belum berarti pare dapat menggantikan pengobatan medis yang telah terbukti efektif, termasuk terapi antiretroviral (ARV) untuk HIV.

Kaya Nutrisi Penting bagi Tubuh

Pare merupakan salah satu buah yang memiliki kandungan gizi cukup lengkap.

Dalam setiap 100 gram pare terkandung sekitar 29 kalori, 1,1 gram protein, 0,3 gram lemak, dan 6,6 gram karbohidrat.

Selain itu, buah ini juga mengandung mineral penting seperti kalsium, fosfor, serta zat besi yang dibutuhkan tubuh.

Tak hanya itu, pare juga kaya vitamin, di antaranya vitamin A, vitamin B, dan vitamin C, serta memiliki kandungan air yang mencapai lebih dari 90 persen.

Kombinasi nutrisi tersebut menjadikan pare sebagai salah satu bahan pangan yang rendah kalori sekaligus kaya manfaat.

Hampir Seluruh Bagian Tanaman Bermanfaat

Tidak hanya buahnya, hampir seluruh bagian tanaman pare diketahui memiliki kandungan senyawa yang berbeda-beda.

Buah pare muda secara tradisional kerap dimanfaatkan untuk membantu mengontrol kadar gula darah, mengatasi gangguan pencernaan, malaria, penyakit kuning, hingga bronkitis.

BACA:  Mengapa Rasulullah SAW Jarang Sakit? Jawabannya Ada pada 8 Kebiasaan Ini

Daunnya mengandung zat pahit alami, minyak lemak, protein, kalsium, fosfor, zat besi, serta vitamin A, B1, dan C.

Kandungan tersebut dipercaya membantu melindungi kulit dari dampak paparan sinar ultraviolet sehingga dapat mengurangi risiko munculnya flek hitam dan kerutan.

Sementara itu, akar pare mengandung asam momordial dan asam aleonolat yang dalam pengobatan tradisional dimanfaatkan untuk membantu mengatasi disentri amuba dan wasir.

Adapun biji pare diketahui mengandung saponin, alkaloid, triterpenoid, serta berbagai senyawa antioksidan yang berpotensi membantu menangkal radikal bebas dan menghambat kerusakan sel.

Pernah Diteliti Memiliki Senyawa Antivirus HIV

Salah satu penelitian yang cukup banyak dikutip terkait pare dilakukan oleh Prof. Lee-Huang dari Universitas New York.

Penelitian tersebut mengidentifikasi adanya beberapa protein alami pada biji pare tua, yakni alpha-momorcharin, beta-momorcharin, dan MAP30 (Momordica Antiviral Protein 30).

Dalam penelitian laboratorium, senyawa tersebut menunjukkan aktivitas yang berpotensi menghambat perkembangan virus HIV.

Bahkan, laporan awal menyebutkan adanya kapsul berbahan bubuk biji pare yang digunakan sebagai terapi pendamping sehingga sejumlah pasien HIV di Thailand dan Amerika Serikat tampak mengalami perbaikan kondisi klinis.

Namun demikian, hingga kini terapi standar HIV yang direkomendasikan secara internasional tetap menggunakan obat antiretroviral (ARV).

Berbagai penelitian mengenai pare masih bersifat pendukung dan belum dapat dijadikan sebagai pengganti pengobatan utama bagi penderita HIV.

Berpotensi Menghambat Pertumbuhan Sel Kanker

Selain kaitannya dengan HIV, pare juga menjadi objek penelitian mengenai potensi antikanker.

Penelitian dari tim University of Colorado, Amerika Serikat, melaporkan bahwa pare mengandung senyawa yang mampu menghambat reproduksi beberapa jenis sel kanker dalam penelitian laboratorium.

Temuan serupa juga pernah dipublikasikan dalam majalah Kenko edisi September 2003 di Jepang.

BACA:  Tak Hanya Enak, Ternyata Belimbing Menyimpan Segudang Khasiat, dari Menjaga Pencernaan hingga Membantu Turunkan Kolesterol

Dalam penelitian tersebut, tikus yang telah diinjeksi sel kanker kemudian diberikan ekstrak pare.

Hasilnya menunjukkan pertumbuhan sel kanker menjadi lebih lambat dibandingkan kelompok pembanding.

Para peneliti menyebut salah satu senyawa aktif dalam pare, yakni lesichin, bersama beberapa zat bioaktif lainnya diduga mampu merangsang sistem kekebalan tubuh sehingga membantu tubuh melawan perkembangan sel kanker.

Buku karya B.R. Ratna dkk. (2009) juga menyebutkan bahwa konsumsi pare termasuk salah satu pola makan yang dianjurkan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan payudara.

Tetap Perlu Dikonsumsi Secara Bijak

Meski memiliki banyak potensi manfaat berdasarkan penelitian awal dan penggunaan tradisional, konsumsi pare tetap harus dilakukan secara bijak.

Khasiat yang ditemukan pada penelitian laboratorium maupun hewan tidak selalu memberikan hasil yang sama pada manusia.

Karena itu, pare sebaiknya diposisikan sebagai bagian dari pola makan sehat, bukan sebagai pengganti obat-obatan yang diresepkan tenaga medis.

Bagi penderita penyakit kronis, termasuk HIV maupun kanker, konsultasi dengan dokter tetap menjadi langkah utama sebelum menggunakan pare sebagai terapi pendamping.

Dengan kandungan nutrisi yang melimpah dan berbagai senyawa bioaktif di dalamnya, pare tetap menjadi salah satu tanaman pangan yang menarik untuk terus diteliti.

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, bukan tidak mungkin berbagai manfaat buah pahit ini akan semakin terungkap melalui penelitian klinis yang lebih kuat di masa mendatang. (kangtop)