Donald Trump Kirim JD Vance ke Swiss, Mampukah Negosiasi dengan Iran Redakan Krisis?

Politik6 Dilihat

KONCOdewe.com – Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance dilaporkan telah bertolak dari Washington menuju Swiss untuk menghadiri perundingan dengan Iran yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu (21/6/2026).

Keberangkatan tersebut dikonfirmasi oleh Sekretaris Persnya, Luke Schroeder, melalui unggahan di media sosial X.

Dalam unggahan itu, Schroeder menyebut Vance telah meninggalkan Washington, D.C. menuju Swiss.

Ia juga membagikan rekaman video yang memperlihatkan sang wakil presiden menaiki pesawat kepresidenan sebelum bertolak ke lokasi perundingan.

Sebelumnya, Vance sempat mengungkapkan kepada Fox News bahwa dirinya kemungkinan akan bergabung dengan delegasi Amerika Serikat dalam pembicaraan dengan Iran apabila seluruh persiapan telah rampung.

Rencana tersebut sempat tertunda karena delegasi Iran belum tiba di Swiss sesuai jadwal awal.

Delegasi Iran Akhirnya Tiba di Swiss

Pada Sabtu (20/6), Kementerian Luar Negeri Swiss mengonfirmasi bahwa rombongan Iran telah tiba di negara tersebut.

Kehadiran delegasi ini membuka jalan bagi dimulainya pembicaraan yang sebelumnya dijadwalkan pada 19 Juni namun tertunda.

Di sisi lain, Pemerintah Pakistan juga memastikan Perdana Menteri Shehbaz Sharif bersama delegasi tingkat tinggi telah berangkat dari Islamabad menuju Swiss.

Yaitu untuk mengambil peran sebagai mediator dalam dialog antara Washington dan Teheran.

Fokus pada Gencatan Senjata dan Program Nuklir

Pertemuan Amerika Serikat dan Iran kali ini tidak hanya membahas upaya mewujudkan gencatan senjata permanen.

Tetapi juga menjadi langkah awal untuk melanjutkan negosiasi mengenai program nuklir Iran.

Vance mengatakan dirinya berharap pertemuan tersebut mampu menghasilkan kemajuan nyata.

Baik terkait isu nuklir maupun stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan Lebanon.

BACA:  Kabar Gembira! Iran–AS Sepakati Perdamaian, Penandatanganan Dijadwalkan di Swiss 19 Juni

“Saya hanya berada di sana selama satu atau dua hari. Harapan saya, kita dapat membuat kemajuan dalam persoalan nuklir sekaligus gencatan senjata di Lebanon,” ujar Vance sebelum keberangkatannya.

Menurut laporan media pemerintah Iran, delegasi Teheran dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, didampingi Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi serta Gubernur Bank Sentral Abdolnaser Hemmati.

Selat Hormuz Kembali Jadi Sorotan

Di tengah persiapan perundingan, Iran kembali mengumumkan penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

Langkah tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas perdagangan energi global meskipun aktivitas pelayaran masih terus berlangsung.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melaporkan sebanyak 55 kapal dagang tetap melintasi Selat Hormuz pada Sabtu dengan muatan lebih dari 17 juta barel minyak.

Sejumlah pengamat menilai pengumuman Iran lebih bersifat tekanan diplomatik daripada penutupan penuh jalur pelayaran.

Namun, situasi tersebut tetap menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi proses negosiasi yang sedang berlangsung.

Israel dan Lebanon Masih Menjadi Tantangan

Selain isu nuklir, pembicaraan di Swiss juga dibayangi konflik antara Israel dan Hizbullah di Lebanon selatan.

Bentrokan yang terjadi beberapa hari terakhir sempat menyebabkan jadwal perundingan mengalami penundaan.

Vance menilai ketegangan antara Israel dan Hizbullah mulai menunjukkan tanda-tanda mereda.

Meski kedua pihak masih harus menjaga komitmen agar proses perdamaian tidak kembali terganggu.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan pasukan Israel akan tetap berada di zona perbatasan Lebanon selama ancaman dari Hizbullah masih dianggap ada.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan masih optimistis kesepakatan dengan Iran dapat dicapai dalam tenggat waktu negosiasi yang telah disepakati.

BACA:  China dan Rusia Sepakat Dorong Perdamaian Global di Tengah Konflik Timur Tengah

Ia berharap dialog di Swiss mampu menghasilkan kerangka pembicaraan yang lebih konkret.

Sekaligus membuka jalan bagi penyelesaian berbagai persoalan yang selama ini menjadi sumber ketegangan antara kedua negara. (kangtop)