KONCOdewe.com – Nilai tukar rupiah memulai perdagangan Senin (20/7/2026) dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Doo Financial Futures pada pukul 09.05 WIB, mata uang Garuda dibuka di level Rp17.992 per dolar AS, atau melemah sekitar 0,40 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Tekanan terhadap rupiah dipicu menguatnya dolar AS di pasar global seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Situasi tersebut juga mendorong kenaikan harga minyak dunia sehingga investor kembali mengalihkan dana ke aset-aset yang dinilai lebih aman (safe haven), termasuk dolar AS.
Tidak hanya rupiah, sejumlah mata uang Asia juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS.
Dolar Taiwan menjadi mata uang dengan penurunan terbesar, yakni 0,29 persen.
Disusul peso Filipina yang turun 0,16 persen, baht Thailand melemah 0,02 persen, serta dolar Hong Kong yang terkoreksi 0,01 persen.
Di sisi lain, beberapa mata uang Asia justru menguat. Won Korea Selatan memimpin penguatan dengan kenaikan 0,32 persen, diikuti ringgit Malaysia 0,21 persen.
Selain itu, rupee India naik 0,07 persen, dolar Singapura menguat 0,05 persen, yuan China bertambah 0,04 persen, dan yen Jepang menguat 0,03 persen.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi sentimen eksternal.
Terutama memanasnya konflik di Timur Tengah yang mengerek harga minyak dunia sekaligus memperkuat indeks dolar AS.
Meski demikian, menurutnya pelemahan rupiah berpotensi terbatas karena masih mendapat dukungan dari sejumlah faktor domestik.
Salah satunya adalah Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu pekan ini.
Lukman memperkirakan Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuan.
Langkah tersebut diyakini dapat meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik dan membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Selain itu, arus dana asing yang mulai kembali masuk ke pasar keuangan Indonesia juga menjadi sentimen positif.
Investor disebut mulai memanfaatkan harga aset yang dinilai menarik dengan melakukan bargain hunting, terutama di pasar saham.
Dengan kombinasi sentimen global dan domestik tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Sementara itu, di pasar global, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama dunia. Mengutip Reuters, indeks dolar AS (DXY) naik 0,1 persen ke level 100,84.
Dolar juga menguat terhadap yen Jepang menjadi 162,48 yen, level tertinggi sejak 9 Juli 2026, seiring meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven.
Euro melemah 0,1 persen ke USD1,1426, sedangkan poundsterling Inggris relatif stabil di USD1,3445.
Dolar Australia turun 0,1 persen menjadi USD0,6975, sementara dolar Selandia Baru melemah 0,2 persen ke USD0,5833.
Analis Westpac menilai pergerakan pasar valuta asing masih relatif tenang, meski dolar AS tetap menunjukkan penguatan.
Pada saat yang sama, harga minyak mentah Brent melonjak 3,3 persen menjadi USD90,97 per barel setelah Amerika Serikat melanjutkan serangan terhadap Iran selama sembilan malam berturut-turut.
Pelaku pasar juga menanti keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) pada 29 Juli 2026.
Berdasarkan indikator FedWatch CME Group, peluang bank sentral AS mempertahankan suku bunga kini mencapai 85,6 persen, lebih tinggi dibandingkan sekitar 61,5 persen sebulan lalu.
Di sisi lain, Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, menilai inflasi yang masih tinggi membuka peluang kenaikan suku bunga kembali.
Pernyataan tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu topik utama dalam rapat The Fed mendatang dan berpotensi memengaruhi arah pergerakan pasar keuangan global. (kangtop)










