KONCOdewe.com – Dalam perjalanan hidup, manusia sering merasa telah berjalan di jalur yang benar.
Namun ketika mencoba menengok lebih dalam ke dalam hati, ada dua kecenderungan yang kerap muncul tanpa disadari.
Yaitu mudah mengeluh saat menghadapi kesulitan dan cenderung menahan kebaikan ketika berada dalam kelapangan.
Fenomena ini bukan sekadar realitas sosial, tetapi telah lama dijelaskan dalam ajaran agama sebagai bagian dari kelemahan dasar manusia yang perlu dibina dan diarahkan.
Sifat tersebut bukan untuk disesali, melainkan untuk dikenali agar manusia dapat belajar mengendalikan dirinya.
Justru dari kesadaran inilah proses pembentukan karakter dimulai, sebuah perjalanan panjang menuju pribadi yang lebih sabar, bersyukur, dan dermawan.
Ketika Kesulitan Terasa Lebih Besar dari Nikmat
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, keluhan sering menjadi bahasa sehari-hari.
Masalah kecil terasa berat, rintangan sederhana tampak menakutkan, dan harapan mudah memudar ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana.
Fenomena ini menunjukkan kecenderungan manusia untuk lebih fokus pada kekurangan dibandingkan nikmat yang dimiliki.
Padahal jika dihitung dengan jujur, jumlah nikmat sering kali jauh lebih banyak daripada kesulitan yang datang.
Dari sudut pandang psikologi, manusia memiliki kecenderungan negativity bias, lebih mudah memperhatikan hal buruk daripada hal baik.
Naluri ini berasal dari insting bertahan hidup di masa lalu, ketika manusia harus peka terhadap ancaman demi keselamatan.
Akibatnya, masalah terasa lebih menonjol, sementara nikmat dianggap biasa saja.
Tidak heran jika keluhan terasa begitu alami, sementara rasa syukur membutuhkan latihan dan kesadaran yang terus diasah.
Ketika Kelapangan Justru Melahirkan Kekikiran
Menariknya, ketika kondisi hidup mulai membaik, kelemahan lain kerap muncul. Rasa takut kehilangan membuat sebagian orang menahan kebaikan.
Harta yang seharusnya menjadi sarana berbagi justru dijaga rapat karena kecemasan terhadap masa depan.
Kekikiran sering berakar pada rasa takut miskin. Di dalam diri manusia terdapat dorongan naluriah untuk menyimpan dan melindungi apa yang dimiliki.
Seolah ada suara kecil yang berbisik, “Simpan saja dulu, jangan diberikan.”
Padahal di sisi lain, manusia juga dianugerahi empati dan keinginan untuk membantu sesama.
Dua dorongan ini berjalan berdampingan, menunggu mana yang lebih sering dilatih dalam kehidupan sehari-hari.
Dua Sisi dalam Diri Manusia
Al-Qur’an menggambarkan kecenderungan ini secara tegas dalam Surah Al-Ma’arij ayat 19–21.
Manusia diciptakan dengan sifat mudah gelisah, mudah mengeluh saat ditimpa kesusahan, dan cenderung kikir ketika memperoleh kebaikan.
Ayat ini seolah menjadi cermin yang memperlihatkan sisi lemah manusia. Ketika sulit, keluhan muncul.
Ketika lapang, rasa takut kehilangan mengambil alih. Namun ayat tersebut bukanlah vonis, melainkan pengingat agar manusia memperbaiki diri melalui iman dan latihan ibadah.
Al-Qur’an juga menegaskan bahwa kekikiran sering bersumber dari rasa takut kekurangan.
Ketakutan ini membuat manusia menahan kebaikan, padahal berbagi justru membuka pintu keberkahan.
Meski memiliki kecenderungan mengeluh dan kikir, manusia juga memiliki potensi kebalikannya: kemampuan bersyukur, bersabar, dan gemar berbagi.
Dua sisi ini selalu berjalan berdampingan dalam diri setiap orang.
Sisi lemah seperti keluhan, ketakutan, dan egoisme berhadapan dengan sisi mulia berupa syukur, kepercayaan, dan kedermawanan.
Sisi mana yang dominan sangat bergantung pada kebiasaan yang dibangun setiap hari.
Dengan kata lain, manusia tidak ditentukan oleh sifat dasarnya, melainkan oleh latihan yang dilakukan sepanjang hidup.
Ibadah sebagai Jalan Perubahan
Al-Qur’an memberikan kabar menenangkan: tidak semua manusia terjebak dalam sifat keluh kesah dan kekikiran.
Ada kelompok yang mampu mengendalikan diri, yaitu mereka yang menjaga ibadahnya.
Ibadah bukan hanya ritual, tetapi sarana pembentukan karakter.
Shalat melatih kesabaran dan ketenangan, zakat dan sedekah menumbuhkan kedermawanan, sedangkan dzikir membiasakan hati untuk bersyukur.
Melalui ibadah, kelemahan dapat diubah menjadi kekuatan. Keluhan perlahan berubah menjadi sabar, dan kekikiran berganti menjadi kemurahan hati.
Perubahan tidak terjadi dalam sekejap. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang setiap hari.
Mengganti keluhan dengan syukur, serta menukar kekikiran dengan kedermawanan, adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kesungguhan.
Manusia tidak dituntut menjadi sempurna sejak awal. Yang dituntut adalah kemauan untuk memperbaiki diri sedikit demi sedikit sepanjang hidup.
Pada akhirnya, mengeluh dan kikir hanyalah titik awal perjalanan. Sementara syukur dan kedermawanan adalah tujuan yang dapat dicapai melalui latihan jiwa yang konsisten.
Dari sinilah manusia belajar bahwa karakter mulia tidak hadir secara tiba-tiba, melainkan tumbuh dari kebiasaan yang terus dipelihara setiap hari. (kangtop)













