Usai Ketegangan dengan AS, Iran dan Oman Bergerak Cepat Bahas Pengelolaan Selat Hormuz

Politik56 Dilihat

KONCOdewe.com – Iran dan Oman mulai mengambil langkah konkret dalam membahas masa depan pengelolaan Selat Hormuz dengan menggelar pertemuan perdana komite bersama di Muscat, Oman.

Forum tersebut menjadi tindak lanjut atas kesepakatan kedua negara untuk memperkuat koordinasi terkait salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.

Yang belakangan menjadi pusat perhatian akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Dikutip dari Antara, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kasem Gharibabadi, mengungkapkan bahwa pertemuan pertama komite bersama tersebut telah berlangsung dan membahas berbagai isu terkini yang berkaitan dengan Selat Hormuz.

Melalui akun media sosial X, Gharibabadi menjelaskan bahwa kedua negara saling bertukar pandangan mengenai pengelolaan selat pada masa mendatang.

Pembahasan dilakukan dengan mengacu pada Pasal 5 Memorandum Islamabad serta tetap menghormati hak-hak kedaulatan negara-negara yang berada di sepanjang wilayah pesisir.

Komite Dibentuk Setelah Kesepakatan Iran dan Oman

Pembentukan komite bersama ini sebelumnya telah diumumkan oleh Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, pada 23 Juni lalu.

Saat itu, Iran dan Oman sepakat membentuk wadah khusus yang bertugas memfasilitasi dialog mengenai pengelolaan Selat Hormuz.

Termasuk berbagai tantangan yang muncul seiring meningkatnya dinamika keamanan di kawasan tersebut.

Kerja sama ini dinilai menjadi bagian dari upaya kedua negara untuk menjaga stabilitas jalur pelayaran internasional yang selama ini menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.

Iran Sebut Tatanan Baru Sedang Dibangun

Beberapa waktu sebelumnya, tepatnya pada pertengahan Juni, pemerintah Iran menyatakan bahwa tatanan baru di Selat Hormuz tengah dibangun melalui koordinasi dengan Oman.

BACA:  Di Tengah Penutupan Selat Hormuz, AS dan Iran Duduk Semeja di Swiss

Pernyataan tersebut diperkuat oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang menegaskan bahwa Selat Hormuz selama bertahun-tahun terbuka bagi pelayaran internasional.

Namun menurutnya, kondisi di jalur laut strategis itu tidak akan lagi sama setelah terjadinya serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Pemerintah Iran juga menegaskan tengah menyiapkan mekanisme baru berupa pungutan atas layanan keamanan bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Meski demikian, otoritas Iran menyatakan mekanisme tersebut tidak akan diberlakukan dalam bentuk biaya pelayaran konvensional.

Iran Berkomitmen Tidak Memungut Biaya Selama 60 Hari

Berdasarkan memorandum perdamaian yang disepakati dengan Amerika Serikat pada 18 Juni, Iran berjanji tidak akan mengenakan pungutan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz selama 60 hari.

Kesepakatan tersebut menjadi bagian dari upaya meredakan ketegangan yang sempat meningkat akibat saling serang antara kedua negara dalam beberapa pekan terakhir.

AS dan Iran Bersiap Gelar Perundingan di Doha

Di tengah upaya meredakan situasi, Amerika Serikat dan Iran dilaporkan sepakat menghentikan aksi saling serang untuk sementara waktu.

Menurut laporan media Amerika Serikat, Axios, kedua negara dijadwalkan menggelar perundingan pada Selasa (30/6) di Doha, Qatar.

Semula, pertemuan tersebut direncanakan berlangsung di Swiss dengan fokus utama membahas program nuklir Iran.

Namun, meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz membuat lokasi perundingan dipindahkan ke Doha, sekaligus mengubah fokus pembicaraan menjadi keamanan pelayaran di jalur strategis tersebut.

Seorang pejabat Amerika Serikat menyebut kapal-kapal tetap diizinkan melintas secara bebas selama proses negosiasi berlangsung, sementara pembahasan teknis akan terus dilanjutkan.

Hotline Militer Masih Belum Beroperasi

Dalam perundingan sebelumnya di Swiss, delegasi Amerika Serikat dan Iran sebenarnya telah menyepakati pembentukan saluran komunikasi langsung atau hotline antara militer AS dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

BACA:  AS Kehabisan Amunisi? Laporan Rahasia Soroti Keunggulan China

Saluran komunikasi tersebut dirancang untuk memperlancar koordinasi lalu lintas pelayaran sekaligus mencegah terjadinya kesalahpahaman yang dapat memicu konflik baru di Selat Hormuz.

Meski demikian, hingga Sabtu (27/6), laporan menyebut hotline tersebut masih belum beroperasi.

Ketegangan Militer Masih Membayangi

Situasi keamanan di kawasan masih belum sepenuhnya stabil.

Amerika Serikat sebelumnya melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di wilayah Iran pada Jumat (26/6) dan Sabtu.

Dengan alasan merespons dugaan agresi Iran terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz.

Iran kemudian membalas serangan tersebut dengan menargetkan sejumlah posisi militer Amerika Serikat di kawasan.

Sehingga kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas jalur pelayaran yang menjadi salah satu rute distribusi minyak paling penting di dunia. (kangtop)