Ingin Untung Besar dari Budidaya Blewah? Simak Cara Menanam hingga Perawatannya

Hobi67 Dilihat

KONCOdewe.com – Blewah menjadi salah satu tanaman hortikultura yang memiliki peluang usaha cukup menjanjikan.

Permintaan buah ini biasanya meningkat tajam menjelang bulan Ramadan karena banyak dimanfaatkan sebagai bahan minuman segar untuk berbuka puasa.

Kondisi tersebut membuat budidaya blewah menjadi usaha musiman yang mampu memberikan keuntungan apabila waktu tanam direncanakan dengan baik.

Tanaman blewah termasuk tanaman semusim dari keluarga Cucurbitaceae yang masih berkerabat dekat dengan melon, semangka, mentimun, labu, hingga pare.

Secara ilmiah, blewah dikenal dengan nama Cucumis melo L. kelompok Cantalupensis.

Berbeda dengan tanaman merambat yang memerlukan penyangga, blewah tumbuh menjalar di atas permukaan tanah sehingga membutuhkan ruang tanam yang cukup luas.

Buah blewah umumnya berbentuk bulat hingga lonjong dengan kulit berwarna jingga terang yang dihiasi bercak-bercak kehijauan.

Daging buahnya memiliki rasa manis, aroma khas, serta kandungan air yang tinggi sehingga banyak diolah menjadi minuman penyegar.

  1. Waktu Tanam Menentukan Keuntungan

Salah satu kunci sukses budidaya blewah adalah menentukan waktu tanam yang tepat.

Bagi petani yang ingin memanfaatkan tingginya permintaan menjelang Ramadan, penanaman sebaiknya dilakukan sekitar dua hingga dua setengah bulan sebelum bulan puasa dimulai.

Dengan perencanaan tersebut, tanaman diperkirakan memasuki masa panen ketika permintaan pasar sedang tinggi.

Selain harga jual yang cenderung meningkat, peluang memperoleh keuntungan pun menjadi lebih besar.

  1. Persiapan Lahan Menjadi Tahap Awal yang Penting

Keberhasilan budidaya blewah sangat dipengaruhi oleh kondisi lahan.

Tanaman ini tidak menyukai tanah yang padat maupun lahan yang terlalu lembap karena dapat menghambat perkembangan akar serta meningkatkan risiko serangan penyakit.

Sebelum proses tanam dilakukan, lahan perlu dibersihkan dari gulma dan sisa-sisa tanaman sebelumnya, terutama tanaman yang masih satu keluarga.

Langkah ini bertujuan memutus siklus hama dan penyakit yang mungkin masih tertinggal di dalam tanah.

Setelah lahan bersih, tanah dicangkul atau dibajak hingga gembur agar akar lebih mudah berkembang.

Selanjutnya dibuat bedengan ganda dengan lebar sekitar 60 hingga 80 sentimeter, sedangkan parit di antaranya memiliki lebar sekitar 40 sentimeter.

Jarak antarbedengan sekitar dua hingga tiga meter dimanfaatkan sebagai ruang bagi batang blewah untuk menjalar selama masa pertumbuhan.

BACA:  Tanaman Cabai Rajin Dipupuk Tapi Panennya Sedikit? Mungkin Anda Melewatkan Langkah Penting Ini

Model bedengan seperti ini juga memudahkan proses penyiraman, pemupukan, hingga perawatan tanaman sepanjang musim tanam.

  1. Pemberian Pupuk Dasar

Sesudah bedengan selesai dibuat, tahap berikutnya adalah menyiapkan unsur hara yang dibutuhkan tanaman melalui pemberian pupuk dasar.

Jenis pupuk yang umum digunakan antara lain pupuk kandang atau kompos, pupuk NPK, serta pupuk tunggal seperti SP-36, KCl, dan ZA.

Pada lahan yang memiliki tingkat keasaman di bawah pH 6, penambahan dolomit atau kapur pertanian dianjurkan untuk membantu menetralkan kondisi tanah.

Setelah dolomit diberikan sesuai kebutuhan, lahan dibiarkan selama sekitar satu minggu sebelum ditambahkan pupuk kandang sekitar satu kilogram dan pupuk NPK sekitar 250 gram pada setiap lubang tanam.

Untuk menjaga kelembapan tanah sekaligus menekan pertumbuhan gulma, permukaan bedengan biasanya ditutup menggunakan mulsa plastik.

Setelah itu dibuat lubang tanam dengan jarak sekitar 60 hingga 70 sentimeter sebagai tempat penanaman bibit.

  1. Menyiapkan Bibit Berkualitas

Bibit blewah dapat berasal dari benih hasil seleksi buah yang telah matang sempurna maupun benih hibrida yang banyak dijual di toko pertanian.

Sebelum dipindahkan ke lahan, benih terlebih dahulu disemai menggunakan polybag atau tray semai.

Setelah berumur sekitar 10 hingga 14 hari dan memiliki pertumbuhan yang sehat, bibit siap dipindahkan ke lokasi tanam permanen.

Pemilihan bibit yang kuat sangat penting karena akan memengaruhi pertumbuhan tanaman hingga masa panen.

  1. Teknik Penanaman yang Benar

Bibit yang akan ditanam sebaiknya dipilih dari tanaman yang sehat, batangnya kokoh, serta tidak menunjukkan gejala serangan hama maupun penyakit.

Sebelum penanaman dilakukan, lubang tanam terlebih dahulu disiram hingga cukup basah.

Lubang kemudian dibuat sesuai ukuran media semai agar akar tidak mengalami kerusakan saat dipindahkan.

Polybag dilepas secara perlahan sehingga media tanam tetap utuh dan akar tidak terganggu.

Bibit kemudian dimasukkan ke dalam lubang tanam dan tanah di sekitarnya ditekan secara perlahan agar tanaman dapat berdiri tegak.

Waktu terbaik untuk melakukan penanaman adalah pada sore hari ketika intensitas sinar matahari mulai berkurang.

Setelah selesai ditanam, tanaman langsung disiram secukupnya agar mampu beradaptasi dengan lingkungan baru.

  1. Perawatan Selama Masa Pertumbuhan
BACA:  Cara Menanam Cabai Rawit dari Nol hingga Panen, Cocok untuk Pemula

Perawatan rutin menjadi faktor utama agar tanaman mampu menghasilkan buah dalam jumlah banyak.

Penyiraman dilakukan setiap hari selama sekitar 10 hari pertama setelah tanam.

Setelah tanaman mulai tumbuh kuat, frekuensi penyiraman dapat disesuaikan dengan kondisi cuaca dan kelembapan tanah.

Apabila ditemukan bibit yang mati atau pertumbuhannya kurang baik, penyulaman perlu segera dilakukan.

Penggantian tanaman umumnya masih efektif dilakukan hingga umur sekitar 21 hari setelah tanam sehingga pertumbuhan tanaman tetap seragam.

  1. Pemupukan Susulan untuk Mendukung Produksi Buah

Kebutuhan unsur hara tanaman akan terus meningkat seiring pertumbuhan batang, daun, hingga pembentukan buah.

Oleh sebab itu, pemupukan susulan menjadi tahapan yang tidak boleh diabaikan.

Pemupukan pertama biasanya dilakukan ketika tanaman berumur sekitar 15 hari setelah tanam menggunakan pupuk NPK, SP-36, KCl, maupun ZA dengan dosis yang disesuaikan.

Pupuk dapat diaplikasikan melalui penyiraman di sekitar perakaran maupun ditaburkan secara merata di area tanaman.

Pemberian nutrisi secara bertahap membantu tanaman tumbuh lebih sehat, mempercepat pembungaan, serta meningkatkan jumlah dan kualitas buah yang dihasilkan.

  1. Pengendalian Hama dan Penyakit

Selama masa budidaya, tanaman blewah tidak lepas dari ancaman berbagai jenis hama.

Beberapa yang paling sering menyerang antara lain jangkrik, oteng-oteng, ulat grayak, ulat buah, hingga lalat buah yang dapat menurunkan hasil panen.

Pengendalian hama dapat dilakukan menggunakan insektisida sesuai dengan jenis organisme pengganggu yang ditemukan di lapangan.

Penggunaan pestisida sebaiknya mengikuti dosis anjuran agar tetap efektif dan aman bagi tanaman.

Selain hama, blewah juga rentan terhadap penyakit seperti layu, bercak daun, serta busuk daun.

Untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit, petani dapat melakukan sanitasi lahan secara rutin dan menggunakan fungisida apabila serangan mulai terlihat.

Dengan persiapan lahan yang baik, penggunaan bibit berkualitas, pemupukan yang tepat, serta pengendalian hama dan penyakit secara rutin, budidaya blewah berpeluang menghasilkan panen yang melimpah.

Tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar, komoditas ini juga dapat menjadi sumber pendapatan yang menjanjikan, terutama menjelang meningkatnya permintaan pada bulan Ramadan. (kangtop)