KONCOdewe.com – Menanam durian tidak sekadar menanam bibit di dalam tanah lalu menunggu buahnya muncul.
Agar pohon mampu tumbuh subur, menghasilkan buah berkualitas, dan berumur panjang, petani harus memperhatikan berbagai tahapan budidaya.
Mulai dari pemilihan lokasi, penggunaan bibit unggul, teknik penanaman, hingga perawatan secara rutin.
Meski tanaman durian dikenal mampu tumbuh di berbagai wilayah, hasil terbaik tetap diperoleh jika ditanam pada daerah yang sesuai dengan kebutuhan tumbuhnya.
Lingkungan yang tepat akan mempercepat pertumbuhan tanaman sekaligus meningkatkan produktivitas saat memasuki masa panen.
Syarat Tumbuh Durian
Durian merupakan tanaman yang sangat menyukai iklim tropis basah.
Curah hujan ideal untuk pertumbuhannya mencapai lebih dari 2.000 milimeter setiap tahun dengan distribusi yang merata sepanjang musim.
Selain itu, durian membutuhkan sekitar sembilan hingga sepuluh bulan basah dalam satu tahun.
Apabila musim kemarau berlangsung lebih dari tiga bulan, proses pembentukan dan pemasakan buah dapat terganggu sehingga hasil panen menjadi kurang maksimal.
Dari sisi ketinggian tempat, durian tumbuh optimal pada wilayah dengan elevasi sekitar 100–500 meter di atas permukaan laut.
Tanaman ini juga memerlukan suhu rata-rata antara 20 hingga 30 derajat Celsius.
Meski masih mampu bertahan pada suhu sekitar 15 derajat Celsius, pertumbuhannya biasanya tidak sebaik pada kondisi ideal.
Kondisi tanah juga memegang peranan penting.
Durian menyukai tanah dengan tingkat keasaman (pH) sekitar 5–7, sedangkan pH terbaik berada pada kisaran 6–6,5.
Selain subur, tanah harus memiliki sistem drainase yang baik karena akar durian sangat sensitif terhadap genangan air.
Memilih Bibit Berkualitas
Di sejumlah daerah, perbanyakan tanaman durian masih banyak dilakukan menggunakan biji.
Namun, metode ini membutuhkan waktu lebih lama untuk memasuki masa berbuah.
Saat menggunakan biji, benih sebaiknya segera disemaikan setelah buah dibuka agar tingkat keberhasilannya tetap tinggi.
Kini sebagian besar petani lebih memilih teknik perbanyakan vegetatif karena mampu menghasilkan tanaman yang memiliki sifat sama dengan induknya serta lebih cepat berbuah.
Beberapa metode yang umum digunakan antara lain pencangkokan, penyusuan, sambung samping (inarching), sambung celah (cleft grafting), hingga okulasi atau budding.
Di antara berbagai teknik tersebut, okulasi menjadi metode yang paling banyak diterapkan.
Bahkan, beberapa penangkar modern mulai menggunakan teknik micrografting atau sambung mikro.
Dengan cara vegetatif, tanaman durian umumnya sudah mampu berbunga ketika berumur sekitar dua hingga tiga tahun.
Langkah Penanaman Durian
Sebelum penanaman dilakukan, lahan perlu dipersiapkan terlebih dahulu.
Jarak tanam ideal berkisar antara 10 hingga 12 meter agar setiap pohon memiliki ruang tumbuh yang cukup luas.
Lubang tanam dibuat berukuran sekitar 80 × 80 × 70 sentimeter atau 70 × 70 × 60 sentimeter.
Lubang tersebut sebaiknya disiapkan sekitar dua hingga empat minggu sebelum bibit dipindahkan ke lahan.
Tanah lapisan atas dipisahkan dari tanah bagian bawah.
Selanjutnya tanah bagian atas dicampur dengan sekitar 30 kilogram kompos atau pupuk kandang untuk setiap lubang tanam.
Kemudian dibiarkan selama dua hingga tiga minggu agar unsur haranya tercampur sempurna.
Saat penanaman, bibit dimasukkan secara hati-hati sehingga posisi pangkal batang sejajar dengan permukaan tanah.
Setelah itu lubang ditutup kembali menggunakan campuran tanah, dipadatkan secukupnya, lalu diratakan.
Untuk menjaga kelembapan tanah, permukaan di sekitar tanaman dianjurkan ditutup menggunakan jerami kering atau mulsa organik sehingga penguapan air dapat dikurangi.
Perawatan Agar Cepat Berbuah
Perawatan menjadi salah satu kunci keberhasilan budidaya durian.
Pada fase awal pertumbuhan, tanaman membutuhkan pasokan air yang cukup, terutama saat musim kemarau.
Meski demikian, tanah tidak boleh tergenang karena dapat menyebabkan akar membusuk.
Penyiangan gulma juga harus dilakukan secara berkala agar rumput liar tidak berebut unsur hara dengan tanaman utama.
Selain itu, pemangkasan akar dapat diterapkan untuk merangsang tanaman agar lebih cepat berbuah sekaligus meningkatkan kualitas buah.
Waktu terbaik melakukan pemangkasan adalah ketika tanaman mulai berbunga atau paling lambat dua minggu setelah pembungaan berlangsung.
Pada kebun dengan tingkat penyerbukan alami yang rendah, petani dapat melakukan penyerbukan buatan.
Caranya dengan mengumpulkan serbuk sari menggunakan kuas halus atau kantong plastik bersih.
Kemudian memindahkannya ke bunga lain pada malam hari sekitar pukul 19.00 hingga 21.00 WIB ketika bunga sedang mekar sempurna.
Agar pohon tidak kelelahan menghasilkan terlalu banyak buah, penjarangan buah juga dianjurkan.
Langkah ini membantu menjaga ukuran buah tetap besar, meningkatkan kualitas rasa, serta mempertahankan produktivitas tanaman pada musim panen berikutnya.
Penjarangan dapat dilakukan sejak bunga atau bakal buah berumur sekitar satu bulan menggunakan hormon pertumbuhan sesuai kebutuhan.
Pemupukan yang Tepat
Tiga bulan setelah tanam, pohon durian mulai memerlukan pemupukan susulan menggunakan pupuk NPK dengan komposisi 15:15:15 sebanyak sekitar 200 gram per pohon.
Pemupukan tersebut dilakukan secara rutin setiap empat bulan hingga tanaman berumur tiga tahun.
Selain pupuk anorganik, tanaman juga membutuhkan pupuk organik berupa kompos atau pupuk kandang sekitar 60–100 kilogram per pohon setiap tahun pada musim kemarau.
Seiring bertambahnya umur tanaman, kebutuhan pupuk juga meningkat.
Dosis pupuk NPK dapat ditambah sekitar 20–25 persen setiap tahun, sedangkan pupuk kandang berkisar antara 120–200 kilogram per pohon.
Menjelang masa pembungaan, tanaman membutuhkan pupuk NPK dengan kandungan fosfor lebih tinggi, misalnya formulasi 10:30:10.
Pupuk diberikan setelah tanaman selesai membentuk tunas baru sebagai persiapan memasuki fase berbunga.
Waktu Panen yang Tepat
Buah durian yang siap dipanen memiliki sejumlah ciri khas. Warna kulit mulai berubah sesuai karakter varietasnya, sementara aroma harum menjadi semakin kuat.
Selain itu, ketika kulit buah diketuk akan terdengar suara yang lebih nyaring karena terdapat rongga udara antara kulit dan daging buah.
Secara alami, buah durian yang matang akan terlepas dari tangkainya dan jatuh ke tanah.
Namun, buah yang jatuh sering mengalami retak sehingga proses fermentasi berlangsung lebih cepat dan dapat memengaruhi cita rasa.
Untuk menghindari kerusakan tersebut, petani biasanya mengikat buah menggunakan tali plastik sekitar satu bulan sebelum panen agar tidak langsung membentur tanah saat terlepas dari pohon.
Pada pohon yang relatif pendek, pemanenan juga dapat dilakukan dengan memotong tangkai buah menggunakan pisau tajam.
Pemotongan sebaiknya dilakukan sekitar 1,5 sentimeter dari pangkal tangkai secara hati-hati agar tidak merusak calon tunas bunga yang akan menghasilkan buah pada musim berikutnya. (kangtop)







