KONCOdewe.com – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyampaikan apresiasi terhadap berlangsungnya dialog antara Amerika Serikat dan China.
Organisasi dunia tersebut berharap Washington dan Beijing memanfaatkan momentum pertemuan untuk menyelesaikan perbedaan melalui jalur diplomasi.
Hal itu disampaikan Wakil Juru Bicara PBB, Farhan Haq, kepada wartawan pada Rabu (13/5).
Kunjungan kenegaraan Presiden AS Donald Trump ke Beijing selama tiga hari menjadi lawatan pertama pemimpin Amerika ke China dalam hampir satu dekade.
Menurut Haq, PBB menyambut baik setiap upaya komunikasi antara dua negara besar tersebut dan berharap pertemuan tingkat tinggi ini dapat mendorong penyelesaian berbagai persoalan secara damai melalui dialog.
Pernyataan tersebut muncul saat Haq menanggapi pertanyaan terkait harapan PBB terhadap pertemuan Trump dan Presiden China Xi Jinping, termasuk kemungkinan pembahasan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Meski demikian, PBB menegaskan bahwa penyelesaian isu selat strategis itu tidak diharapkan hanya bergantung pada AS dan China saja.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat setelah pada 28 Februari Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran yang menimbulkan kerusakan dan korban sipil.
Pada 7 April, Washington dan Teheran sepakat melakukan gencatan senjata selama dua pekan, namun pembicaraan lanjutan di Islamabad tidak menghasilkan kesepakatan.
Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata guna memberi waktu bagi Iran menyusun proposal baru.
Situasi tersebut sempat mengancam jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang merupakan rute vital distribusi minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.
Ketidakpastian itu turut mendorong kenaikan harga energi dunia.
Sementara itu, di Beijing, Presiden Xi Jinping menyambut langsung kedatangan Donald Trump di Gerbang Timur Balai Besar Rakyat.
Xi menunggu di tangga hingga Trump turun dari mobil kepresidenan sebelum keduanya berjabat tangan dan memulai rangkaian upacara kenegaraan.
Kedua pemimpin kemudian memperkenalkan anggota delegasi masing-masing, yang terdiri dari pejabat tinggi pemerintahan hingga tokoh bisnis terkemuka.
Setelah itu, lagu kebangsaan kedua negara dikumandangkan, diikuti tembakan salvo 21 kali di Lapangan Tiananmen.
Xi dan Trump juga meninjau pasukan kehormatan Tentara Pembebasan Rakyat sebelum memasuki Balai Besar Rakyat untuk memulai pembicaraan bilateral.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menilai diplomasi tingkat kepala negara memiliki peran penting dalam memberi arah strategis hubungan China–AS.
Ia berharap kunjungan ini menjadi kesempatan bertukar pandangan mendalam terkait hubungan bilateral, perdamaian, dan pembangunan global.
Trump tiba di Beijing pada Rabu malam (13/5) bersama sejumlah pimpinan perusahaan besar Amerika Serikat.
Ia berharap kunjungan tersebut dapat menghasilkan kesepakatan bisnis besar di tengah ketegangan perdagangan dan persaingan teknologi antara kedua negara.
Menjelang pertemuan puncak dua hari hingga Jumat (15/5), Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng lebih dahulu bertemu di Korea Selatan sebagai bagian dari persiapan diplomatik.
Dalam perjalanan menuju Beijing, Trump juga menegaskan keinginannya agar China membuka peluang kerja sama ekonomi yang lebih luas.
Kunjungan ini menjadi pertemuan penting yang mendapat sorotan dunia, terutama terkait konflik Iran dan isu Taiwan, sekaligus menandai lawatan presiden AS pertama ke China sejak 2017. (kangtop)










