KONCOdewe.com – Manusia menjalani kehidupan dengan akal, pengalaman, dan berbagai pengetahuan yang terus berkembang.
Setiap hari ada keputusan yang harus dibuat, pilihan yang mesti ditentukan, serta jalan yang harus ditempuh.
Dalam proses tersebut, manusia sering merasa bahwa dirinya mampu memahami apa yang terbaik berdasarkan apa yang dapat dilihat, dirasakan, dan dipikirkan.
Namun, kemampuan manusia tetap memiliki batas.
Ada begitu banyak perkara dalam kehidupan yang belum mampu dijelaskan sepenuhnya oleh akal.
Bahkan terhadap dirinya sendiri, manusia masih terus belajar memahami siapa dirinya, bagaimana tubuhnya bekerja, bagaimana pikirannya terbentuk, dan apa yang sesungguhnya terjadi pada dirinya ketika kehidupan berakhir.
Di tengah keterbatasan itulah seorang Muslim mengenal Allah SWT sebagai Dzat Yang Maha Mengetahui.
Allah bukan hanya pencipta manusia, tetapi juga mengetahui keadaan makhluk-Nya secara sempurna.
Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari ilmu-Nya. Apa yang tampak maupun yang tidak terlihat oleh manusia berada dalam pengetahuan Allah SWT.
Karena itu, aturan yang diturunkan Allah kepada manusia tidak seharusnya dipandang hanya sebagai sekumpulan perintah dan larangan.
Di balik syariat terdapat petunjuk, hikmah, dan bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.
Manusia mungkin belum selalu memahami alasan di balik setiap ketentuan. Akan tetapi, keterbatasan pemahaman manusia tidak berarti bahwa aturan Allah tidak memiliki hikmah.
Allah Maha Mengetahui Ciptaan-Nya
Tidak ada yang lebih mengetahui tentang sebuah ciptaan selain Penciptanya.
Manusia dapat mempelajari tubuh, pikiran, perilaku, dan lingkungan melalui ilmu pengetahuan, tetapi pengetahuan tersebut tetap berkembang sedikit demi sedikit.
Allah SWT memiliki ilmu yang tidak terbatas.
Dia mengetahui apa yang telah terjadi, apa yang sedang terjadi, dan apa yang akan terjadi.
Dia juga mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh manusia, termasuk perkara yang tersembunyi dalam hati.
Kesadaran tersebut seharusnya membuat manusia lebih rendah hati dalam menjalani kehidupan.
Ketika Allah memberikan perintah, manusia tidak sedang berhadapan dengan aturan yang lahir dari keterbatasan pengetahuan.
Ketentuan tersebut berasal dari Dzat Yang Maha Mengetahui segala sesuatu.
Allah memerintahkan manusia untuk melakukan kebaikan dan menjauhi berbagai perkara yang dilarang.
Dalam ajaran Islam, terdapat perkara yang dihalalkan dan perkara yang diharamkan, masing-masing memiliki batas yang menjadi pedoman bagi kehidupan seorang Muslim.
Ketaatan kemudian bukan sekadar persoalan mengikuti aturan secara lahiriah.
Di dalamnya terdapat sikap percaya bahwa petunjuk Allah merupakan jalan yang membawa manusia kepada kebaikan.
Ketika seseorang berusaha menjaga halal dan haram, menjalankan kewajiban, serta meninggalkan larangan dengan penuh kesadaran, ia sebenarnya sedang berusaha menjaga dirinya sendiri.
Bukan berarti orang yang taat akan terbebas dari seluruh persoalan hidup.
Kehidupan tetap memiliki ujian, kesedihan, kegagalan, dan berbagai tantangan. Namun, ketaatan memberikan arah agar manusia tidak kehilangan pegangan ketika menghadapi semuanya.
Di situlah agama menjadi kompas kehidupan.
Ketentuan Ilahi Penuh Hikmah
Ada kalanya manusia mempertanyakan mengapa sesuatu diperintahkan dan mengapa sesuatu yang lain justru dilarang.
Pertanyaan semacam itu merupakan bagian dari proses manusia dalam memahami ajaran yang diyakininya.
Namun, seorang Muslim juga diajak untuk menyadari bahwa kemampuan memahami hikmah sebuah ketentuan tidak selalu sama dengan pengetahuan Allah SWT.
Ada hikmah yang dapat dipahami melalui ilmu dan pengalaman. Ada pula hikmah yang baru terlihat setelah seseorang menjalani perjalanan hidup yang panjang.
Bahkan mungkin terdapat ketentuan yang hikmahnya tidak sepenuhnya mampu dijangkau oleh manusia.
Di sinilah pentingnya kerendahan hati.
Allah SWT berfirman: “Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui, sedangkan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (QS. Al-Mulk: 14)
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa Sang Pencipta tentu mengetahui ciptaan-Nya. Apa yang menurut manusia sulit dipahami bukan berarti berada di luar pengetahuan Allah.
Aturan agama pada akhirnya bukan diturunkan untuk membuat manusia kehilangan arah atau semata-mata membatasi kehidupannya.
Syariat hadir sebagai pedoman agar manusia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang membawa kemaslahatan dan mana yang berpotensi menimbulkan kerusakan.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia membutuhkan batas.
Tanpa batas, kebebasan dapat berubah menjadi tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Karena itulah, petunjuk agama dapat menjadi pengingat agar manusia tidak menjadikan keinginan pribadi sebagai satu-satunya ukuran dalam menentukan benar dan salah.
Ilmu Manusia yang Terus Bertambah, Namun Tetap Terbatas
Kemajuan ilmu pengetahuan telah membawa manusia menemukan banyak hal yang dahulu tidak pernah terbayangkan.
Teknologi berkembang, penelitian semakin maju, dan berbagai rahasia tubuh manusia perlahan berhasil dipahami.
Manusia kini mampu melihat bagian tubuh yang sangat kecil, mempelajari proses biologis yang kompleks, serta menemukan berbagai cara untuk mencegah dan menangani penyakit.
Namun, semakin banyak manusia mengetahui sesuatu, semakin terlihat pula betapa luasnya hal yang belum diketahui.
Satu penemuan sering melahirkan pertanyaan baru. Satu jawaban terkadang membuka pintu menuju persoalan yang lebih besar.
Hal tersebut bukan berarti ilmu pengetahuan tidak memiliki nilai. Justru sebaliknya, ilmu merupakan bagian penting dari upaya manusia memahami kehidupan.
Akan tetapi, ilmu pengetahuan juga mengajarkan sebuah sikap penting: kerendahan hati terhadap sesuatu yang belum diketahui.
Manusia tidak boleh menjadikan keterbatasan pengetahuan sebagai alasan untuk berhenti mencari.
Tetapi manusia juga tidak seharusnya merasa bahwa seluruh rahasia kehidupan telah berhasil dikuasainya.
Al-Qur’an mengingatkan: “Katakanlah: Allah adalah Pencipta segala sesuatu, dan Dia Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (QS. Ar-Ra’d: 16)
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa seluruh pengetahuan manusia pada akhirnya tetap berada dalam lingkup ciptaan Allah SWT.
Karena itu, kemajuan ilmu dan keimanan tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang saling bertentangan.
Ilmu dapat membantu manusia memahami tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta, sedangkan iman mengingatkan manusia agar tidak menjadi sombong karena pengetahuan yang dimilikinya.
Misteri Ruh dan Kehidupan
Di antara perkara yang sejak dahulu menjadi bagian dari perenungan manusia adalah ruh.
Manusia dapat mempelajari tubuh dengan berbagai pendekatan ilmiah. Ia dapat mengamati jantung, otak, darah, tulang, dan organ lainnya. Namun, persoalan ruh berada pada wilayah yang berbeda.
Al-Qur’an menyebut ruh sebagai bagian dari perkara yang pengetahuannya memiliki batas bagi manusia.
Allah SWT berfirman: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan kamu tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra’: 85)
Ayat ini memberikan pelajaran penting tentang keterbatasan manusia.
Ada perkara yang dapat diteliti melalui pengamatan dan eksperimen. Namun, ada pula perkara gaib yang tidak dapat sepenuhnya dijangkau oleh kemampuan manusia.
Kehidupan manusia sendiri merupakan sesuatu yang luar biasa. Tubuh yang tersusun dari berbagai unsur dapat bergerak, berpikir, merasakan, berbicara, mencintai, mengingat, dan mengambil keputusan.
Kemudian datang suatu masa ketika kehidupan tersebut berakhir.
Bagaimana tepatnya hakikat ruh berada di luar tubuh? Bagaimana kehidupan dimulai dan bagaimana ruh berpisah dari jasad ketika ajal tiba?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengingatkan manusia bahwa ada batas antara apa yang dapat diketahui dan apa yang menjadi perkara gaib.
Di sinilah seorang Muslim diajak untuk tidak memaksakan seluruh perkara agama agar selalu sesuai dengan batas kemampuan akal manusia.
Bukan berarti akal harus ditinggalkan. Justru akal digunakan untuk memahami, merenungkan, dan mengambil pelajaran.
Namun, akal juga memiliki keterbatasan sehingga manusia membutuhkan wahyu sebagai petunjuk dalam perkara-perkara yang berada di luar jangkauan pengetahuan empiris.
Ketika Ketaatan Menjadi Bentuk Perlindungan
Jika direnungkan, banyak aturan agama berkaitan erat dengan upaya menjaga kehidupan manusia.
Islam mengajarkan manusia untuk menjaga jiwa, harta, kehormatan, keluarga, dan hubungan sosial.
Larangan terhadap berbagai bentuk kezaliman, misalnya, menjaga manusia dari kerusakan hubungan dan penderitaan.
Perintah untuk berlaku jujur menjaga kepercayaan. Anjuran untuk berbuat baik kepada sesama membangun kehidupan sosial yang lebih sehat.
Namun, hikmah setiap ketentuan tidak selalu harus dipaksakan untuk dijelaskan dengan satu alasan tertentu.
Ada bagian yang dapat dipahami manusia, sementara bagian lainnya mungkin tetap menjadi wilayah ilmu Allah SWT.
Sikap yang lebih tepat adalah menjalankan perintah dengan keyakinan, sembari terus belajar memahami hikmahnya.
Dengan cara tersebut, ketaatan tidak terasa hanya sebagai kewajiban yang harus dipenuhi, tetapi menjadi perjalanan untuk mengenal kebijaksanaan Allah SWT.
Ketika seseorang mulai melihat aturan agama sebagai bentuk kasih sayang, cara pandangnya terhadap syariat pun dapat berubah.
Larangan tidak lagi semata-mata dipandang sebagai sesuatu yang mengurangi kebebasan. Perintah tidak lagi dianggap sebagai beban yang harus dipikul tanpa makna.
Semuanya menjadi bagian dari jalan kehidupan yang mengarahkan manusia agar tidak tersesat oleh keinginan sesaat.
Belajar Tunduk di Tengah Keterbatasan
Manusia boleh memiliki ilmu setinggi mungkin. Manusia boleh mengembangkan teknologi sejauh mungkin.
Manusia boleh meneliti alam semesta dan mencoba memahami berbagai rahasia kehidupan.
Namun, semua itu tidak mengubah kenyataan bahwa manusia tetaplah makhluk.
Ada sesuatu yang diketahui dan ada yang belum diketahui. Ada perkara yang mampu dijelaskan dan ada pula yang hanya dapat diterima sebagai bagian dari perkara gaib berdasarkan wahyu.
Kesadaran tersebut bukan untuk mematikan rasa ingin tahu, melainkan untuk menempatkan ilmu pada tempat yang semestinya.
Oleh karenanya, semakin manusia mengenal luasnya kehidupan, seharusnya semakin besar pula rasa rendah hati yang tumbuh dalam dirinya.
Di balik aturan Allah SWT terdapat hikmah yang mungkin sebagian dapat dipahami manusia dan sebagian lainnya belum mampu dijangkau.
Di balik perintah terdapat petunjuk, dan di balik larangan terdapat penjagaan.
Karena Allah adalah Pencipta manusia, maka Dia mengetahui apa yang terbaik bagi makhluk-Nya.
Tugas manusia bukanlah menuntut agar seluruh rahasia ketentuan-Nya terbuka sebelum mau taat.
Tugas manusia adalah terus belajar, menggunakan akal dengan benar, memahami wahyu dengan sungguh-sungguh, serta menjalani kehidupan dengan keyakinan bahwa Allah SWT tidak pernah luput dari pengetahuan-Nya.
Dengan demikian, aturan Allah bukan sekadar batas yang menghalangi langkah manusia.
Bagi seorang hamba yang memahami dengan hati, ia dapat menjadi pagar yang menjaga, arah yang menuntun, dan jalan yang mengantarkan manusia menuju kehidupan yang lebih baik.
Di balik setiap ketentuan Allah SWT, ada hikmah yang mungkin belum seluruhnya mampu kita pahami.
Namun satu hal yang pasti, manusia tidak pernah lebih mengetahui tentang dirinya daripada Sang Penciptanya. (kangtop)










