Erupsi Anak Krakatau Mulai Mereda, Tapi 209 Penerbangan dan 22.798 Penumpang Terdampak

Kabar37 Dilihat

KONCOdewe.com – Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda masih berlangsung hingga Minggu (6/9/2026).

Meski demikian, intensitas letusan dilaporkan mulai menurun jika dibandingkan dengan aktivitas vulkanik pada malam sebelumnya.

Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno, mengatakan letusan masih terjadi, tetapi kekuatannya kini jauh lebih rendah.

Menurut Suwarno, aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini lebih banyak berupa letupan kecil dan tidak lagi menunjukkan kekuatan seperti yang terlihat pada malam sebelumnya.

“Letusan masih berlanjut, tapi sekarang sudah mulai mereda,” kata Suwarno, Minggu (6/9/2026), dikutip dari Kompas.com.

Ia memastikan kondisi tersebut menjadi tanda adanya penurunan aktivitas, meski bukan berarti erupsi telah berakhir sepenuhnya.

Berdasarkan data MAGMA-VAR untuk periode pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, aktivitas erupsi menerus yang sebelumnya terjadi tercatat berhenti pada 00.04 WIB.

Meski begitu, aktivitas vulkanik masih terdeteksi. Dalam periode tersebut tercatat satu gempa letusan dengan amplitudo maksimum 46 milimeter dan durasi sekitar 30 detik.

Aktivitas erupsi kembali tercatat pada pukul 07.10 WIB. PVMBG mencatat amplitudo maksimum mencapai 50 milimeter dengan durasi sekitar 16 detik. Sementara itu, ketinggian kolom abu tidak teramati.

Gunung Masih Tertutup Kabut

Pengamatan secara visual dari Pos Pemantauan di Hargo Pancuran masih mengalami kendala. Gunung Anak Krakatau belum dapat terlihat dengan jelas karena kawasan tersebut tertutup kabut.

Kondisi serupa juga terjadi pada malam hari. Ketika letusan berlangsung, cahaya atau aktivitas erupsi terkadang sempat terlihat, tetapi kembali tertutup kabut sehingga pengamatan menjadi terbatas.

BACA:  Polri Resmi Tetapkan Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Tersangka, Kasus PT Asabri Kembali Jadi Sorotan

Gunung Anak Krakatau hingga kini masih berstatus Level III atau Siaga.

Masyarakat, wisatawan, pendaki, maupun pengunjung diminta tidak mendekati kawasan gunung dan dilarang melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.

209 Penerbangan Terdampak

Di tengah aktivitas erupsi yang masih berlangsung, sektor penerbangan juga ikut terkena dampak sebaran abu vulkanik.

Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara mencatat sebanyak 209 pergerakan penerbangan terdampak akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.

Dampak tersebut terjadi setelah Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta/CGK) di Tangerang, Banten, ditutup sementara pada pukul 01.30 hingga 09.30 WIB berdasarkan pemberitahuan penutupan wilayah udara.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Lukman F. Laisa mengatakan, dari total penerbangan yang terdampak, sebanyak 160 penerbangan domestik, 39 penerbangan internasional, dan 10 penerbangan kargo.

Untuk penerbangan domestik, penanganan mencakup empat pembatalan serta satu penerbangan yang dialihkan untuk rute Lampung, Denpasar, dan Surabaya.

Sementara pada penerbangan internasional, tercatat 16 pembatalan, tujuh penundaan, dan lima penjadwalan ulang.

Sejumlah rute yang terdampak antara lain Singapura, Hong Kong, Sydney, Seoul/Incheon, Doha, Amsterdam, dan Kuala Lumpur.

Jumlah penumpang yang terdampak selama periode penutupan Bandara Soekarno-Hatta tersebut mencapai 22.798 orang.

Kemenhub memberikan perhatian terhadap proses pemulihan jadwal penerbangan karena gangguan akibat erupsi berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap rotasi pesawat, ketersediaan armada, jadwal penerbangan berikutnya, hingga kapasitas terminal.

Meski dilakukan penyesuaian operasional, faktor keselamatan tetap menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan penerbangan.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara juga terus memantau kondisi dan berkoordinasi dengan maskapai, pengelola bandara, penyedia layanan navigasi penerbangan, serta BMKG.

Kemenhub mengimbau calon penumpang yang hendak bepergian melalui Bandara Soekarno-Hatta untuk terlebih dahulu memeriksa informasi terbaru dari maskapai mengenai status penerbangannya.

BACA:  Selat Hormuz Kembali Memanas, Iran Siapkan RUU yang Bisa Mengubah Aturan Pelayaran, Kapal AS-Israel Bisa Kehilangan Akses

Calon penumpang juga diminta tidak datang ke bandara terlebih dahulu sebelum memperoleh kepastian mengenai jadwal penerbangan mereka. (kangtop)