KONCOdewe.com – Peringatan Tahun Baru Hijriah 1 Muharram yang setiap tahun kita lalui sejatinya bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Islam.
Lebih dari itu, ia adalah momentum untuk kembali menengok jejak sejarah besar perjuangan Nabiyullah Muhammad SAW bersama para sahabatnya.
Yaitu sebuah perjalanan penuh pengorbanan, kesabaran, dan keteguhan iman yang patut dijadikan teladan sepanjang zaman.
Gelombang Hijrah Awal di Tengah Tekanan Makkah
Hijrah para sahabat tidak terjadi hanya sekali dalam satu peristiwa. Sejak tahun-tahun awal kenabian, tekanan terhadap umat Islam di Makkah begitu berat.
Kaum lemah dan miskin menjadi sasaran penyiksaan, sementara jumlah umat Islam masih sangat terbatas.
Dalam situasi yang serba sempit itu, Rasulullah SAW memohon petunjuk kepada Allah SWT agar diberikan jalan keluar dari penderitaan yang menimpa para pengikutnya.
Dalam sejarahnya, turunlah isyarat-ilahi yang menguatkan langkah hijrah, salah satunya melalui kisah Ashabul Kahfi dalam Al-Qur’an.
Kisah tersebut menjadi simbol bahwa dalam kondisi penuh tekanan, selalu ada jalan penyelamatan bagi orang-orang beriman yang bertawakal kepada Allah SWT.
Dari sinilah kemudian lahir gelombang hijrah pertama ke negeri Habasyah atau Ethiopia.
Pada fase ini, sekitar 16 sahabat yang dipimpin oleh Utsman bin Affan RA berangkat meninggalkan Makkah, disusul gelombang kedua yang mencapai sekitar 83 sahabat.
Hijrah Akbar: Perjalanan Menuju Madinah
Namun, hijrah terbesar yang menjadi tonggak sejarah umat Islam adalah perpindahan Rasulullah SAW bersama sahabat setianya Abu Bakar Ash-Shiddiq RA dari Makkah menuju Madinah, yang kelak dikenal sebagai Madinatul Munawwarah.
Peristiwa ini terjadi pada tahun ke-13 kenabian, ketika tekanan kaum Quraisy mencapai puncaknya dan ancaman pembunuhan terhadap Rasulullah SAW semakin nyata.
Dalam perjalanan penuh risiko itu, Rasulullah SAW tidak langsung mengambil jalur utama menuju Madinah yang biasa dilalui orang.
Beliau memilih strategi perjalanan yang tidak terduga demi menghindari kejaran kaum Quraisy.
Sebelum melanjutkan perjalanan, beliau bersama Abu Bakar RA sempat bersembunyi di Gua Tsur untuk menunggu kondisi lebih aman.
Dari tempat inilah ketenangan, keyakinan, dan pertolongan Allah SWT menjadi pelajaran abadi bagi umat Islam.
Tiba di Quba dan Awal Peradaban Baru
Pada 1 Rabi’ul Awal tahun pertama Hijriah, Rasulullah SAW melanjutkan perjalanan menuju Madinah.
Perjalanan panjang selama delapan hari delapan malam akhirnya membawa beliau tiba di kawasan Quba.
Di tempat ini, Rasulullah SAW singgah selama empat hari, membangun masjid pertama yang dikenal sebagai Masjid Quba, sekaligus melaksanakan shalat Jumat.
Masjid ini menjadi simbol awal peradaban Islam yang dibangun atas dasar ketakwaan.
Setelah itu, Rasulullah SAW melanjutkan perjalanan memasuki kota Madinah.
Kedatangan beliau disambut penuh suka cita oleh penduduk setempat dengan lantunan shalawat dan kegembiraan yang meluap.
Hikmah Strategi dan Kesabaran dalam Dakwah
Dari peristiwa hijrah ini, terdapat banyak hikmah yang bisa dipetik.
Bagi para warosatul anbiya’ seperti ulama, kiai, dai, dan ustaz, dakwah membutuhkan strategi yang matang, kemampuan membaca situasi, serta kebijaksanaan dalam menentukan langkah.
Rasulullah SAW sendiri tidak selalu berdakwah secara terbuka di fase awal, melainkan menyesuaikan kondisi umat yang masih lemah.
Ini menunjukkan bahwa perjuangan tidak selalu harus frontal, tetapi perlu kecermatan dan perhitungan.
Perjuangan besar juga membutuhkan kesabaran, ketekunan, serta doa yang tidak putus kepada Allah SWT.
Dalam menghadapi tantangan hidup, tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan konfrontasi langsung.
Ada kalanya seseorang perlu mundur sejenak, menyusun strategi, lalu melangkah kembali dengan cara yang lebih tepat dan bijaksana, sebagaimana perjalanan hijrah yang penuh perhitungan.
Semangat Hijrah yang Tak Pernah Padam
Hijrah juga mengajarkan pentingnya memilih “lahan terbaik” untuk berkembang.
Sebagaimana petani yang memilih tanah subur untuk menanam, demikian pula dakwah Rasulullah SAW yang kemudian berkembang pesat setelah berpindah ke Madinah.
Dari yang awalnya hanya ratusan pengikut, Islam berkembang pesat hingga pada masa Fathu Makkah jumlah umat mencapai puluhan ribu dan terus bertambah setelahnya.
Meski secara fisik perintah hijrah telah berakhir setelah Fathu Makkah, semangat hijrah tetap hidup hingga hari ini.
Hijrah dalam makna luas adalah berpindah dari keburukan menuju kebaikan, dari maksiat menuju ketaatan, serta dari kelalaian menuju kesadaran spiritual.
Muhasabah di Awal Tahun Hijriah
Di momen pergantian Tahun Baru Hijriah ini, kita diajak untuk melakukan muhasabah diri.
Apakah kita termasuk orang yang beruntung, merugi, atau lalai dalam menjalani kehidupan?
Tahun baru bukan sekadar pergantian Kalender.
Melainkan kesempatan untuk menata niat, memperbaiki langkah, dan memperkuat semangat agar tahun berikutnya menjadi lebih baik dari sebelumnya. (kangtop)







