Apa Itu Sukses Sebenarnya? Surat Al Ashr Punya Jawaban yang Menyentuh

Religi10 Dilihat

KONCOdewe.com – Hampir setiap orang memiliki impian untuk meraih kesuksesan dalam hidup.

Namun, ketika ditanya tentang arti kesuksesan, jawaban yang muncul sering kali berbeda-beda.

Ada yang menganggap kesuksesan identik dengan kekayaan, jabatan tinggi, pendidikan yang gemilang, bisnis yang berkembang, atau popularitas di tengah masyarakat.

Di sisi lain, ada pula yang menilai dirinya sukses ketika berhasil mewujudkan cita-cita yang telah lama diperjuangkan.

Perbedaan pandangan tersebut merupakan sesuatu yang wajar. Setiap orang memiliki ukuran dan pengalaman hidup yang berbeda.

Akan tetapi, dalam pandangan Islam, kesuksesan tidak hanya diukur dari pencapaian duniawi semata.

Sebab, keberhasilan yang tidak membawa seseorang semakin dekat kepada Allah SWT pada akhirnya bisa menjadi kerugian yang besar.

Al-Qur’an memberikan panduan yang sangat jelas mengenai hakikat keberuntungan dan kesuksesan manusia.

Salah satu petunjuk itu terdapat dalam Surat Al Ashr yang singkat, namun memiliki makna yang sangat mendalam bagi kehidupan.

Surat Al Ashr dan Peringatan tentang Kerugian Manusia

Allah SWT berfirman dalam Surat Al Ashr: “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al Ashr: 1-3).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa pada dasarnya seluruh manusia berada dalam kondisi merugi.

Hanya ada empat golongan yang terbebas dari kerugian itu.

Yaitu mereka yang memiliki iman, mengamalkan amal saleh, saling mengingatkan dalam kebenaran, dan saling meneguhkan dalam kesabaran.

Pesan ini menjadi pengingat bahwa keberuntungan sejati bukan hanya tentang apa yang berhasil dikumpulkan selama hidup.

Melainkan bagaimana seseorang menggunakan hidupnya untuk mendekat kepada Allah SWT.

Waktu Adalah Modal Paling Berharga

Surat Al Ashr diawali dengan sumpah Allah atas waktu. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya waktu dalam kehidupan manusia.

Waktu merupakan anugerah yang tidak bisa dibeli, tidak bisa diulang, dan tidak dapat dihentikan.

Setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali. Karena itulah manusia diperintahkan untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin.

Banyak perumpamaan yang menggambarkan pentingnya waktu. Ada yang menyebut waktu lebih berharga daripada emas.

Sebab, emas yang hilang masih bisa dicari kembali, sedangkan waktu yang terlewat tidak akan pernah dapat dikembalikan.

Para ulama juga sering mengingatkan bahwa waktu ibarat pedang.

Jika manusia tidak mampu menggunakannya dengan baik, maka waktu itulah yang akan “memotong” dan merugikan dirinya sendiri.

Karena itu, setiap waktu yang dimiliki seharusnya diisi dengan aktivitas yang bermanfaat, produktif, dan bernilai ibadah.

BACA:  Sering Bilang “Ikuti Arus”? Ini Bahaya Hidup Tanpa Arah yang Jarang Disadari

Baik untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat luas.

Iman dan Amal Saleh Tidak Bisa Dipisahkan

Salah satu pesan penting dalam Surat Al Ashr adalah keterkaitan antara iman dan amal saleh. Keduanya merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Iman tanpa amal saleh akan menjadi sesuatu yang kosong dan tidak memberikan dampak nyata dalam kehidupan.

Sebaliknya, amal tanpa iman juga tidak memiliki nilai di sisi Allah SWT.

Keimanan sejatinya harus tercermin dalam tindakan nyata.

Seseorang yang mengaku beriman akan terdorong untuk melakukan berbagai kebaikan sebagai bukti keyakinannya kepada Allah SWT.

Al-Qur’an berulang kali menyandingkan kata “beriman” dengan “beramal saleh”.

Hal ini menunjukkan bahwa keduanya merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi.

Amal saleh menjadi bukti konkret bahwa keimanan benar-benar hidup dalam hati seseorang.

Makna Amal Saleh dalam Kehidupan Sehari-hari

Secara bahasa, kata “saleh” berarti baik, benar, dan bermanfaat.

Karena itu, amal saleh dapat dimaknai sebagai segala bentuk perbuatan baik yang dilakukan sesuai dengan tuntunan agama serta membawa manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

Amal saleh tidak terbatas pada ibadah ritual seperti salat, puasa, zakat, atau haji.

Amal saleh juga mencakup berbagai tindakan sosial yang memberikan manfaat kepada sesama.

Dalam Islam, amal saleh dapat dibagi menjadi dua bentuk utama.

  1. Amal Ibadah

Amal ibadah merupakan bentuk penghambaan langsung kepada Allah SWT. Contohnya adalah salat, puasa, zakat, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berbagai bentuk ketaatan lainnya.

Melalui amal ibadah, hubungan manusia dengan Allah SWT semakin kuat. Inilah yang dikenal dengan istilah hablum minallah atau hubungan dengan Sang Pencipta.

  1. Amal Sosial dan Jariyah

Selain hubungan dengan Allah SWT, Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.

Amal jariyah dan berbagai bentuk kebaikan sosial termasuk dalam kategori ini.

Misalnya membantu orang yang kesulitan, bersedekah, menghormati orang tua, membangun fasilitas umum, menyebarkan ilmu pengetahuan, hingga menjaga lingkungan.

Semua bentuk kebaikan yang memberi manfaat bagi orang lain termasuk amal saleh yang bernilai besar di sisi Allah SWT.

Kebaikan yang Dilakukan Akan Kembali kepada Diri Sendiri

Al-Qur’an mengajarkan bahwa setiap kebaikan yang dilakukan seseorang pada hakikatnya akan kembali kepada dirinya sendiri.

Ketika seseorang membantu orang lain, manfaatnya bukan hanya dirasakan oleh orang yang dibantu.

Hatinya menjadi lebih tenang, hidupnya lebih bermakna, dan ia memperoleh pahala dari Allah SWT.

Begitu pula sebaliknya. Keburukan yang dilakukan seseorang pada akhirnya akan memberikan dampak negatif kepada dirinya sendiri.

BACA:  Kenapa Manusia Diciptakan? Jawaban Ini Bisa Mengubah Cara Pandang Hidup

Karena itu, Islam mendorong umatnya untuk terus berbuat baik tanpa menghitung untung dan rugi secara duniawi.

Kebaikan yang dilakukan dengan tulus akan menjadi investasi yang sangat berharga, baik di dunia maupun di akhirat.

Pentingnya Keikhlasan dalam Beramal

Tidak semua perbuatan baik otomatis menjadi amal saleh. Ada syarat yang harus dipenuhi agar suatu amal diterima oleh Allah SWT.

Syarat pertama adalah ikhlas karena Allah SWT.

Seseorang melakukan kebaikan bukan untuk mendapatkan pujian, popularitas, atau keuntungan pribadi, melainkan semata-mata mengharap ridha Allah SWT.

Syarat kedua adalah dilakukan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.

Dengan demikian, amal saleh bukan hanya tentang apa yang dilakukan, tetapi juga mengapa dan bagaimana perbuatan itu dilakukan.

Keikhlasan menjadi fondasi utama yang menentukan nilai suatu amal di sisi Allah SWT.

Niat Menjadi Penentu Nilai Sebuah Amal

Dalam Islam, niat memiliki kedudukan yang sangat penting. Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap amal tergantung pada niatnya.

Niat merupakan urusan hati yang hanya diketahui oleh Allah SWT. Karena itu, manusia diajarkan untuk selalu meluruskan niat sebelum melakukan suatu pekerjaan.

Orang yang menolong sesama dengan niat tulus karena Allah SWT akan mendapatkan pahala.

Namun jika tujuan utamanya hanya ingin dipuji atau mendapatkan pengakuan manusia, maka nilai amalnya menjadi berkurang.

Niat yang baik juga menjadi sumber kekuatan dalam menjalani kehidupan.

Dengan niat yang benar, seseorang akan lebih mudah istiqamah dalam melakukan kebaikan meskipun tidak mendapatkan penghargaan dari manusia.

Menjadikan Hidup sebagai Ladang Amal

Surat Al Ashr mengingatkan bahwa umur manusia sangat terbatas. Karena itu, setiap kesempatan yang diberikan Allah SWT seharusnya dimanfaatkan untuk memperbanyak amal saleh.

Ilmu yang dimiliki hendaknya diamalkan. Kesempatan yang ada hendaknya digunakan untuk memberi manfaat.

Waktu yang tersedia hendaknya dipenuhi dengan aktivitas yang mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kesuksesan sejati bukan hanya tentang seberapa banyak yang berhasil diraih selama hidup.

Melainkan seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain serta seberapa dekat seseorang dengan Tuhannya.

Pada akhirnya, orang yang benar-benar beruntung adalah mereka yang memahami kebenaran, mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Serta menjadikan seluruh aktivitas hidupnya sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT.

Karena itulah, Surat Al Ashr tidak sekadar berbicara tentang waktu.

Surat ini merupakan panduan lengkap tentang bagaimana manusia dapat meraih keselamatan, keberuntungan, dan kebahagiaan yang sesungguhnya, baik di dunia maupun di akhirat. (kangtop)