Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.168 per Dolar AS, Ini Sejumlah Sentimen yang Membayangi

Kombis47 Dilihat

KONCOdewe.com – Nilai tukar rupiah kembali berakhir di zona merah pada penutupan perdagangan Rabu (4/11/2026).

Mata uang Indonesia terkoreksi tipis 8 poin atau sekitar 0,04 persen ke posisi Rp18.168 per dolar Amerika Serikat (AS).

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pergerakan rupiah dipengaruhi sejumlah faktor dari luar negeri maupun dalam negeri.

Salah satu perhatian pelaku pasar global saat ini tertuju pada perkembangan hasil pemilihan paruh waktu atau midterm election di Amerika Serikat.

Penghitungan suara dalam pemilu tersebut masih berlangsung.

Berdasarkan data sementara yang disampaikan Ibrahim dalam risetnya, Partai Demokrat telah mengamankan 51 kursi di Senat AS, sedangkan Partai Republik memperoleh 39 kursi.

Sejumlah suara lainnya masih dalam proses penghitungan.

“51 kursi adalah batas minimal suara mayoritas di Senat AS. Partai Republik hanya mendapatkan 39 kursi di Senat sejauh ini, dengan beberapa suara masih dalam proses penghitungan,” tulis Ibrahim.

Konflik AS-Iran Masih Membayangi Pasar Global

Selain hasil pemilu AS, investor juga mengikuti perkembangan upaya diplomatik untuk menghentikan konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.

Qatar disebut terus meningkatkan langkah mediasi guna mencegah meluasnya serangan setelah pemilihan paruh waktu AS.

Namun, peluang tercapainya kesepakatan damai dinilai masih menghadapi hambatan.

Seorang pejabat senior Iran kepada Reuters mengungkapkan bahwa Teheran dan Washington masih memiliki jarak yang cukup jauh untuk mencapai kesepakatan mengakhiri konflik.

Ketegangan juga muncul setelah seorang pejabat AS menyampaikan bahwa militernya telah melakukan serangan yang disebut bersifat defensif di Pulau Qeshm, Iran.

Sasaran serangan tersebut adalah rudal darat-ke-udara yang dinilai dapat mengancam aset milik Amerika Serikat.

Pejabat AS lainnya menyebut operasi tersebut terlihat terbatas dan belum menunjukkan adanya indikasi dimulainya kembali pertempuran dalam skala besar.

BACA:  Harga Bawang 18 September 2026: Bawang Putih Lebih Mahal Rp2.350 dari Bawang Merah

Di tengah situasi tersebut, Presiden AS Donald Trump menyatakan kepada Financial Times bahwa pemerintahannya tidak memiliki rencana untuk melancarkan serangan terhadap Iran dalam waktu dekat.

“Tampaknya kita mendapatkan semua yang kita inginkan,” kata Trump dalam wawancara melalui sambungan telepon selama sekitar enam menit.

Data Tenaga Kerja AS Menguatkan Dolar

Sentimen lain yang turut menopang mata uang dolar AS berasal dari laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat.

Data pembukaan lowongan kerja atau JOLTS Job Openings tercatat mencapai 7,523 juta pada September.

Angka tersebut meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 7,19 juta. Realisasi itu juga lebih tinggi daripada proyeksi pasar sebesar 7,13 juta.

Kondisi pasar tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan memberikan dukungan terhadap dolar AS.

Perkembangan tersebut menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat.

Perlambatan Ekonomi Indonesia Jadi Perhatian

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga berkaitan dengan kekhawatiran pelaku pasar mengenai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi diperkirakan berpotensi melambat dibandingkan periode sebelumnya.

Tingkat suku bunga yang masih tinggi dinilai dapat menambah beban pembiayaan, sementara kenaikan harga kebutuhan pokok berisiko mengurangi kemampuan belanja masyarakat.

Situasi tersebut berpotensi menekan konsumsi rumah tangga sekaligus memperlambat aktivitas dunia usaha.

Perhatian investor juga tertuju pada proyeksi Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara.

Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 berada di kisaran 5,4–5,5 persen, lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar 5,6–6 persen.

Penyesuaian proyeksi tersebut menunjukkan adanya tantangan dalam mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi nasional.

Jika perlambatan terus berlanjut, minat investor terhadap aset berisiko, termasuk saham dan rupiah, berpotensi ikut terpengaruh.

BACA:  Harga BBM Pertamina 6 Oktober 2026 Stabil, Pertalite Rp10.000 dan Pertamax Rp15.950

Ibrahim mengatakan pasar akan memperhatikan apakah pelemahan ekonomi hanya berlangsung sementara atau mulai mencerminkan penurunan daya beli, konsumsi masyarakat, dan investasi.

“Pasar akan mencermati apakah perlambatan ekonomi hanya bersifat sementara atau mulai menunjukkan pelemahan daya beli, konsumsi masyarakat, dan investasi. Jika pertumbuhan terus melambat, tekanan terhadap sentimen pasar dan kepercayaan investor dapat meningkat,” ujar Ibrahim.

Kasus Dugaan Penyadapan Ilegal Tambah Ketidakpastian

Faktor domestik lainnya yang menjadi perhatian pasar adalah perkembangan kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah pejabat negara, tokoh politik, jurnalis, serta pengusaha.

Dalam kasus tersebut, tiga perwira tinggi Polri telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan.

Salah satu nama yang disebut dalam perkara ini adalah mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo.

Perkara tersebut masih berada dalam tahap penyidikan. Karena itu, dugaan keterlibatan pihak-pihak yang ditetapkan sebagai tersangka tetap harus dibuktikan melalui proses hukum.

Perkembangan kasus ini dinilai berpotensi menambah ketidakpastian politik.

Investor akan memperhatikan stabilitas pemerintahan, soliditas institusi keamanan, serta kepastian penegakan hukum di Indonesia.

Apabila persoalan tersebut berkembang hingga memengaruhi kepercayaan terhadap pemerintahan, risiko arus keluar modal asing dari pasar keuangan domestik dapat meningkat.

Rupiah Diperkirakan Masih Berfluktuasi

Mempertimbangkan berbagai sentimen global dan domestik tersebut, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya masih akan berlangsung fluktuatif.

Mata uang Garuda juga berpotensi kembali mengalami tekanan hingga penutupan perdagangan.

Ia memproyeksikan rupiah bergerak dalam kisaran Rp18.160 hingga Rp18.210 per dolar AS.

Pergerakan selanjutnya akan dipengaruhi perkembangan situasi geopolitik, kekuatan dolar AS, prospek ekonomi Indonesia, serta tingkat kepercayaan investor terhadap kondisi dalam negeri. (kangtop)