Rupiah Tertekan pada 23 Oktober 2026, Lonjakan Harga Minyak Jadi Perhatian Pasar

Kombis38 Dilihat

KONCOdewe.com – Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Jumat (23/10/2026).

Rupiah turun 14 poin atau 0,08 persen ke posisi Rp18.074 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp18.060 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai pelemahan rupiah tersebut dipengaruhi oleh lonjakan harga minyak mentah dunia.

Kenaikan harga energi terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah yang memunculkan kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan minyak global.

“Harga minyak melonjak menyusul pernyataan kelompok Houthi (Ansarullah Yaman) yang mengumumkan rencana untuk menyerang infrastruktur minyak Arab Saudi di Yanbu dan Bandara Dammam,” kata Josua kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.

Harga Minyak Dunia Naik di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Mengutip laporan Anadolu, harga minyak dunia meningkat lebih dari 2 persen pada Kamis (22/10/2026).

Kenaikan tersebut terjadi setelah serangan pesawat nirawak atau drone terhadap ladang minyak Shaybah milik Saudi Aramco memicu kekhawatiran mengenai kemungkinan gangguan pasokan energi lebih lanjut.

Minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, diperdagangkan pada level 111,40 dolar AS per barel atau naik 2,4 persen.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat meningkat 2,22 persen menjadi 99,30 dolar AS per barel.

Serangan yang dilaporkan menewaskan dua orang tersebut kembali menyoroti risiko keamanan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah.

Situasi ini turut mendorong pemulihan harga minyak setelah sebelumnya mengalami penurunan.

Kekhawatiran pasar juga meningkat setelah Amerika Serikat memerintahkan sebagian personel beserta anggota keluarga mereka untuk meninggalkan misi diplomatik AS di Arab Saudi.

BACA:  Dolar Menggila! Rupiah Tersungkur Usai Pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping

Sementara itu, laporan Xinhua menyebut Ansarullah Yaman telah melancarkan empat serangan rudal dan drone ke wilayah Arab Saudi dalam kurun waktu 48 jam terakhir.

Serangan tersebut dilaporkan menyasar Kementerian Pertahanan Arab Saudi di Riyadh, Bandara Internasional King Fahd di Dammam, fasilitas perusahaan minyak Saudi Aramco di Yanbu, serta Bandara Internasional Abha di wilayah barat daya Arab Saudi.

Juru Bicara Militer Ansarullah, Yahya Sarea, mengklaim seluruh sasaran terkena serangan secara langsung.

Insiden tersebut dilaporkan menimbulkan gangguan lalu lintas udara dan kebakaran di fasilitas minyak.

Meningkatnya ketegangan tersebut menjadi salah satu faktor yang memperbesar kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.

Perkembangan harga minyak selanjutnya turut menjadi perhatian pelaku pasar keuangan, termasuk di Indonesia.

Imbal Hasil Obligasi Pemerintah Bergerak Beragam

Selain perkembangan nilai tukar rupiah, Josua juga mencatat pergerakan yang bervariasi pada pasar obligasi pemerintah Indonesia dalam perdagangan Kamis (22/10/2026).

Imbal hasil obligasi pemerintah untuk tenor lima tahun tercatat sebesar 7,25 persen, meningkat 41 basis poin (bps).

Sementara itu, imbal hasil tenor 10 tahun berada di level 7,42 persen, turun 1 bps.

Untuk tenor 15 tahun, imbal hasil tercatat 7,38 persen atau turun 4 bps. Adapun tenor 20 tahun berada di posisi 7,41 persen, naik 1 bps.

Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi obligasi pemerintah turun menjadi Rp18,28 triliun pada Kamis.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan volume perdagangan pada sesi sebelumnya yang mencapai Rp24,39 triliun.

Kepemilikan asing atas obligasi pemerintah Indonesia juga mengalami penurunan.

Per Rabu (21/10/2026), nilainya berkurang Rp3,66 triliun menjadi Rp914 triliun, setara dengan 13,02 persen dari total obligasi pemerintah yang beredar.

Pergerakan rupiah, harga minyak dunia, dan pasar obligasi menjadi sejumlah indikator yang dicermati pelaku pasar di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

BACA:  Tembus Rp18.000! Dolar AS Menguat pada Pembukaan Perdagangan 29 September 2026

Lonjakan harga energi akibat ketegangan geopolitik menjadi salah satu perkembangan yang mendapat perhatian dalam perdagangan keuangan saat ini. (kangtop)