Dolar AS Menguat terhadap Rupiah, Kisaran Rp18.000 Jadi Perhatian, Ini Pemicunya

Kombis40 Dilihat

KONCOdewe.com – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada pembukaan perdagangan Kamis, 15 Oktober 2026.

Mengacu pada data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 0,28 persen atau setara 50 poin ke level Rp17.953 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pelemahan tersebut terjadi setelah rupiah mengakhiri perdagangan Rabu, 14 Oktober 2026, di posisi Rp17.903 per dolar AS.

Pada penutupan hari sebelumnya, mata uang Garuda tercatat turun tipis sebesar 0,02 persen.

Analis Pasar Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih berpotensi menghadapi tekanan pada perdagangan hari ini.

Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah kenaikan inflasi konsumen Amerika Serikat yang melampaui perkiraan.

“Rupiah diperkirakan dibuka melemah terhadap dolar AS setelah data menunjukkan kenaikan inflasi konsumen Amerika Serikat,” kata Lukman pada Kamis, 15 Oktober 2026.

Inflasi AS Picu Kekhawatiran Pasar

Menurut Lukman, angka inflasi AS yang lebih tinggi daripada ekspektasi dapat memengaruhi pandangan investor terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi atau mempertimbangkan kenaikan suku bunga.

Perkembangan kebijakan moneter AS menjadi perhatian karena dapat memengaruhi pergerakan dolar dan mata uang negara lain, termasuk rupiah.

Investor juga menantikan rilis data inflasi produsen AS yang dijadwalkan pada Kamis malam waktu setempat sebagaimana disebutkan dalam informasi sumber.

Data tersebut diperkirakan menjadi salah satu pertimbangan pasar dalam membaca arah tekanan inflasi dan kebijakan moneter selanjutnya.

Data inflasi konsumen AS yang dirilis pada Rabu malam menunjukkan kenaikan sebesar 0,6 persen secara bulanan pada September 2026.

BACA:  Dolar AS Melemah ke Rp17.844 pada Perdagangan Jumat 14 Agustus 2026

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi bulanan Agustus 2026 yang tercatat sebesar 0,4 persen.

Secara tahunan, inflasi konsumen AS pada September 2026 mencapai 3,7 persen.

Kenaikan tersebut menambah perhatian pelaku pasar terhadap kemungkinan perubahan arah kebijakan suku bunga The Fed.

Ketegangan Geopolitik Ikut Membayangi Rupiah

Selain perkembangan inflasi Amerika Serikat, situasi geopolitik global yang masih memanas turut menjadi faktor risiko bagi nilai tukar rupiah.

Lukman menjelaskan bahwa ketidakpastian geopolitik dapat mendorong sentimen risk-off.

Dalam kondisi tersebut, investor cenderung mengurangi aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman.

Perubahan strategi investasi seperti itu dapat menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Meski demikian, pergerakan nilai tukar tetap dipengaruhi oleh kombinasi faktor ekonomi, kebijakan moneter, dan perkembangan pasar global.

Rupiah Diperkirakan Bergerak di Kisaran Rp17.850–Rp18.000

Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis ini akan bergerak dalam rentang Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS.

Rentang tersebut menunjukkan bahwa rupiah masih berpotensi bergerak fluktuatif di tengah perhatian pasar terhadap inflasi AS dan perkembangan geopolitik.

Sementara itu, indeks dolar AS terpantau berada di level 102,09, turun dibandingkan posisi sebelumnya di 102,55.

Pergerakan indeks ini mencerminkan perubahan nilai dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia.

Pelaku pasar akan mencermati data ekonomi Amerika Serikat serta perkembangan global untuk memperkirakan arah pergerakan rupiah selanjutnya.

Bagi masyarakat dan pelaku usaha yang memiliki kebutuhan transaksi dalam dolar AS, perubahan kurs menjadi salah satu faktor penting dalam memperhitungkan biaya transaksi. (kangtop)