Setiap Langkah Dicemooh! Begini Cara Luqman Mengajarkan Anak tentang Omongan Orang

Religi23 Dilihat

KONCOdewe.com – Kehidupan modern tak pernah lepas dari sorotan, komentar, dan standar yang terus berubah.

Setiap langkah kerap dinilai, setiap keputusan mudah diperdebatkan.

Di tengah situasi seperti itu, manusia sering diliputi kegelisahan: harus mengikuti suara siapa, dan sampai kapan mencoba menyenangkan semua pihak?

Dalam suasana yang penuh hiruk-pikuk penilaian sosial inilah, kisah-kisah hikmah dari Al-Qur’an kembali terasa relevan.

Salah satu yang paling dikenal adalah kisah Luqman Al Hakim, sosok bijak yang nasihatnya menembus batas zaman dan tetap menjadi cermin bagi kehidupan masa kini.

Hikmah Luqman di Tengah Ramainya Penilaian

Nama Luqman Al Hakim diabadikan dalam Al-Qur’an melalui Surah Luqman, surah ke-31.

Penghormatan tersebut menunjukkan betapa besar kebijaksanaan yang dimilikinya.

Ia tidak dikenang karena kekuasaan, melainkan karena petuahnya yang sarat makna.

Nasihat Luqman yang tertuang dalam ayat 12–19 memuat panduan hidup yang seimbang.

Yaitu menanamkan tauhid sebagai pondasi, sekaligus menegaskan pentingnya etika dalam bermasyarakat.

Pesan-pesan itu tetap kontekstual hingga kini, terutama ketika manusia hidup di tengah perbedaan pendapat dan penilaian yang tak pernah berhenti.

Melalui hikmahnya, Luqman mengingatkan bahwa manusia tidak seharusnya tenggelam dalam arus opini sosial.

Yang utama adalah tetap berpijak pada kebenaran, menjaga kerendahan hati, dan menempatkan ridha Allah sebagai tujuan utama hidup.

Petuah Seorang Ayah kepada Anaknya

Salah satu kisah paling populer tentang Luqman adalah perjalanannya bersama sang putra.

Kisah sederhana ini sering dijadikan gambaran betapa mustahilnya hidup dengan bergantung pada penilaian manusia.

Luqman menasihati anaknya agar selalu berbuat baik dalam setiap aspek kehidupan.

BACA:  Banyak Orang Baru Menyadari, Ternyata Pertempuran Terbesar Manusia Terjadi di Dalam Hati

Namun, ia juga mengingatkan bahaya jika seseorang terlalu memikirkan omongan orang lain.

Menurutnya, meraih persetujuan semua orang adalah hal yang mustahil.

Untuk menunjukkan pelajaran tersebut secara nyata, Luqman mengajak putranya melakukan perjalanan menunggang seekor keledai.

Dari perjalanan inilah, sang anak belajar bagaimana cepatnya penilaian manusia berubah.

Saat Luqman Naik Keledai, Cibiran Datang

Pada awal perjalanan, Luqman menaiki keledai sementara putranya berjalan kaki menuntun hewan itu.

Tak lama kemudian, komentar sinis terdengar dari orang-orang yang melihat mereka.

Sejumlah orang menilai Luqman sebagai ayah yang egois karena membiarkan anaknya berjalan kaki.

Luqman tidak marah. Ia tetap melanjutkan perjalanan sambil membiarkan anaknya menyaksikan sendiri bagaimana manusia menilai hanya dari apa yang terlihat.

Posisi Ditukar, Kritik Tetap Muncul

Mendengar cibiran, Luqman mengajak putranya bertukar posisi. Kini sang anak menunggang keledai, sedangkan Luqman berjalan kaki.

Namun, komentar kembali bermunculan. Kali ini sang anak dianggap tidak sopan karena membiarkan ayahnya berjalan.

Luqman tetap tenang. Ia ingin menunjukkan bahwa perubahan keputusan tidak serta-merta menghapus kritik.

Naik Bersama, Tetap Disalahkan

Luqman dan anaknya kemudian menaiki keledai bersama-sama. Mereka berharap tidak lagi menjadi bahan pembicaraan.

Harapan itu tak terwujud. Kali ini, mereka dituduh kejam karena membebani keledai dengan dua penumpang. Lagi-lagi, Luqman hanya tersenyum tenang.

Berjalan Kaki Pun Masih Dicemooh

Akhirnya, keduanya turun dan berjalan kaki sambil menuntun keledai. Mereka mengira keputusan ini akan bebas dari kritik.

Ternyata tidak. Orang-orang justru menertawakan mereka karena dianggap bodoh tidak memanfaatkan keledai yang dimiliki.

Di sinilah Luqman menghentikan langkahnya dan memberikan pelajaran penting kepada putranya.

Prinsip Hidup yang Tak Boleh Goyah

Luqman menjelaskan bahwa sejak awal perjalanan hingga akhir, tidak ada satu pun pilihan yang memuaskan semua orang.

BACA:  Kunci Hidup Bahagia Menurut Islam: Terus Belajar, Beribadah, dan Memperbaiki Diri

Apa pun yang dilakukan, selalu ada pihak yang mengkritik.

Ia menegaskan bahwa hidup tidak boleh ditentukan oleh suara manusia. Jika setiap langkah bergantung pada penilaian orang lain, maka kegelisahan tak akan pernah berakhir.

Yang paling penting adalah memiliki prinsip kuat, berjalan di atas kebenaran, serta menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama.

Al-Qur’an juga merekam nasihat Luqman tentang tauhid, bakti kepada orang tua, menegakkan shalat, mengajak pada kebaikan, mencegah kemungkaran, serta bersabar dalam menghadapi ujian.

Ia mengingatkan agar manusia tidak sombong dan selalu bersikap rendah hati. Pesan tersebut menjadi pedoman membangun kehidupan yang beriman dan berakhlak.

Pelajaran Abadi bagi Kehidupan

Kisah Luqman mengajarkan bahwa manusia tidak akan pernah lepas dari komentar dan penilaian. Selalu ada yang memuji, dan selalu ada yang mencela.

Namun, nilai hidup seseorang tidak ditentukan oleh suara manusia, melainkan oleh keteguhan memegang kebenaran.

Dengan prinsip yang kokoh dan keikhlasan dalam berbuat baik, manusia dapat menjalani hidup dengan lebih tenang.

Hikmah Luqman menjadi pengingat lintas zaman. Yaitu hidup bukan tentang menyenangkan semua orang, melainkan tentang berjalan di jalan yang benar demi meraih ridha Allah SWT. (kangtop)