Kenapa Kita Tak Pernah Bisa Menyenangkan Semua Orang? Jawaban Luqman Mengejutkan

Religi25 Dilihat

KONCOdewe.com – Sosok Luqman Al Hakim telah lama dikenal sebagai figur penuh kebijaksanaan dalam khazanah Islam.

Namanya diabadikan dalam Al-Qur’an melalui Surah Luqman, surah ke-31, sebagai penghormatan atas nasihat-nasihatnya yang sarat makna dan relevan sepanjang zaman.

Dari sekian banyak hikmah yang diwariskan, kisah perjalanan Luqman bersama putranya dan seekor keledai menjadi cerita yang paling sering dikisahkan.

Karena mengandung pelajaran hidup yang sangat dekat dengan realitas sosial manusia.

Suatu hari, Luqman menasihati putranya agar selalu berbuat baik dalam setiap aspek kehidupan.

Ia menekankan bahwa kebaikan harus dilakukan baik untuk urusan dunia maupun akhirat.

Namun, ia juga mengingatkan satu hal penting: jangan menjadikan penilaian manusia sebagai pusat hidup.

Menurut Luqman, mustahil membuat semua orang merasa puas.

Setiap manusia memiliki sudut pandang dan kepentingan yang berbeda, sehingga apa pun yang dilakukan seseorang akan selalu mengundang komentar.

Untuk menunjukkan pelajaran itu secara nyata, Luqman mengajak putranya melakukan perjalanan menggunakan seekor keledai.

Cibiran Bermunculan

Perjalanan dimulai dengan Luqman duduk di atas keledai, sementara putranya berjalan kaki menuntun hewan tersebut.

Belum jauh berjalan, terdengar suara-suara sinis dari orang yang melihat.

Mereka menilai Luqman sebagai ayah yang tidak memiliki empati karena membiarkan anaknya berjalan kaki.

Luqman tidak menanggapi dengan emosi. Ia hanya meminta putranya memperhatikan apa yang terjadi.

Mendengar komentar tersebut, Luqman dan putranya bertukar posisi. Kini sang anak yang menunggangi keledai, sementara Luqman berjalan di sampingnya.

Alih-alih berhenti, komentar baru kembali bermunculan. Kali ini, sang anak dianggap tidak berbakti karena membiarkan ayahnya berjalan kaki.

BACA:  Banyak Orang Salah Saat I’tidal, Padahal Gerakan Ini Penting untuk Kesempurnaan Shalat

Luqman kembali bersikap tenang, membiarkan anaknya menyaksikan sendiri perubahan penilaian manusia.

Berharap tak lagi menjadi bahan pembicaraan, keduanya akhirnya menaiki keledai bersama-sama. Namun harapan itu kembali pupus.

Orang-orang justru menilai mereka kejam karena dianggap memaksa keledai yang kecil membawa dua penumpang sekaligus.

Sekali lagi, Luqman tidak terpancing. Ia tetap melanjutkan perjalanan.

Sebagai langkah terakhir, Luqman dan putranya turun dari keledai dan berjalan kaki sambil menuntunnya. Mereka mengira keputusan ini akan bebas dari komentar.

Ternyata tidak. Orang-orang justru menertawakan mereka karena dianggap bodoh memiliki keledai tetapi tidak memanfaatkannya.

Saat itulah Luqman berhenti dan menyampaikan pelajaran penting kepada putranya.

Prinsip Hidup yang Tak Boleh Goyah

Dengan lembut, Luqman menjelaskan bahwa sejak awal perjalanan, tidak ada satu pun tindakan mereka yang sepenuhnya dianggap benar oleh semua orang. Selalu ada pihak yang mengkritik.

Ia menegaskan bahwa hidup tidak boleh ditentukan oleh suara manusia.

Jika seseorang terus mengejar persetujuan orang lain, maka hidup akan dipenuhi kegelisahan tanpa akhir.

Yang terpenting adalah berpegang pada kebenaran, melakukan hal yang diridai Allah, dan tetap istiqamah dalam kebaikan.

Petuah Luqman dalam Al-Qur’an

Perjalanan bersama keledai hanyalah satu dari sekian banyak hikmah yang diwariskan Luqman.

Dalam Al-Qur’an, ia menanamkan prinsip hidup yang menjadi pedoman bagi manusia, antara lain:
• Menjauhkan diri dari perbuatan syirik serta meneguhkan keimanan kepada Allah
• Menghormati dan berbakti kepada kedua orang tua
• Menyadari bahwa setiap tindakan berada dalam pengawasan Allah SWT
• Menegakkan ibadah shalat sebagai kewajiban utama
• Mengajak kepada kebaikan dan mencegah perbuatan mungkar
• Bersabar dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan

Pelajaran Abadi untuk Kehidupan Modern

BACA:  Bukan Karena Tak Bisa! Ini Alasan Sebenarnya Orang Sulit Taubat

Kisah Luqman dan keledai menjadi cermin nyata kehidupan sosial manusia hingga hari ini.

Di tengah dunia yang penuh komentar dan penilaian, cerita ini mengingatkan bahwa manusia tidak akan pernah luput dari kritik.

Karena itu, fokus utama bukanlah menyenangkan semua orang, melainkan tetap berjalan di jalan yang benar.

Dengan prinsip yang kuat dan niat yang tulus, seseorang dapat menjalani hidup dengan lebih tenang dan bermakna. (kangtop)