PBSI Kehilangan Gregoria Mariska Tunjung, Ini Rekam Jejak Prestasinya

Olahraga11 Dilihat

KONCOdewe.com – Nama Gregoria Mariska Tunjung kembali menjadi sorotan publik setelah kabar mengejutkan datang dari dunia bulu tangkis nasional.

Pebulu tangkis tunggal putri Indonesia itu resmi memutuskan untuk mengakhiri kebersamaannya dengan Pelatnas PBSI Cipayung, tempat ia ditempa sejak remaja dan menjadi salah satu tulang punggung tim nasional.

Keputusan mundur tersebut diumumkan pada Jumat (15/5) setelah melalui proses komunikasi dan diskusi dengan Kabid Binpres PP PBSI Eng Hian serta kepala pelatih tunggal putri utama Pelatnas PBSI, Imam Tohari.

Langkah ini disebut sebagai keputusan bersama yang telah dipertimbangkan secara matang.

Faktor kesehatan menjadi alasan utama di balik keputusan berat tersebut.

Dalam beberapa bulan terakhir, Gregoria Mariska Tunjung diketahui mengalami gangguan vertigo yang cukup mengganggu kondisi fisik dan performanya.

Hingga akhirnya membuatnya harus mengambil langkah istirahat dari pelatnas.

Dalam pernyataan tertulisnya, atlet kelahiran Wonogiri itu menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada seluruh jajaran pengurus serta pelatih PBSI atas dukungan dan kepercayaan yang diberikan selama ini.

Ia tercatat telah bergabung dengan Pelatnas Cipayung sejak 2014, atau sekitar 12 tahun perjalanan panjang sebagai atlet nasional.

Sejak usia 15 tahun, Gregoria berkembang menjadi salah satu pemain tunggal putri terbaik Indonesia.

Tidak hanya berprestasi di level individu, ia juga berkontribusi besar dalam berbagai ajang beregu yang diikuti Indonesia.

Namanya mulai dikenal luas setelah berhasil meraih medali emas Kejuaraan Dunia Junior 2017.

Prestasi tersebut menjadi sangat bersejarah, karena Indonesia terakhir kali juara di sektor tunggal putri pada ajang yang sama terjadi pada 1992 melalui Kristin Yunita.

BACA:  Tanpa Ampun! Persijap Jepara Bantai Persita Tangerang 3-0, Stadion Banten Jadi Saksi Dominasi Total

Sebelumnya, Gregoria juga sudah menunjukkan kualitasnya di Kejuaraan Asia Junior dengan raihan medali perak pada 2016 (tunggal putri), perak 2017 (beregu campuran), serta perunggu pada 2015 (beregu campuran).

Perjalanan prestasinya terus berlanjut di level senior.

Ia turut mengantarkan Indonesia meraih runner-up Uber Cup 2024, perunggu Piala Sudirman 2019, serta medali di SEA Games seperti perak 2021 dan perunggu di beberapa edisi lainnya.

Di Asian Games 2018, ia juga menyumbang perunggu untuk sektor beregu putri.

Di level BWF World Tour, Gregoria sukses meraih gelar juara Spain Masters 2023 dan Kumamoto Masters 2023.

Selain itu, ia juga beberapa kali menembus final turnamen besar seperti Australia Open 2022, Malaysia Masters 2023, Swiss Open 2024, hingga Kumamoto Masters di edisi berikutnya.

Performa konsistennya sempat membawa Gregoria menembus peringkat lima besar dunia, sebuah pencapaian tertinggi dalam kariernya sejauh ini.

Puncaknya, ia berhasil membawa pulang medali perunggu Olimpiade Paris 2024 setelah laga perebutan tempat ketiga tidak terlaksana akibat cedera yang dialami lawannya, Carolina Marin.

Berbagai capaian tersebut menegaskan posisi Gregoria sebagai salah satu tunggal putri terbaik yang pernah dimiliki Indonesia, dengan rekam jejak prestasi yang panjang di berbagai level turnamen internasional. (kangtop)