KONCOdewe.com – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali meningkat.
Sejak Jumat (4/9/2026) malam sekitar pukul 23.07 WIB hingga Sabtu (5/9/2026) pagi, gunung api tersebut mengalami erupsi secara menerus yang disertai suara gemuruh hingga dentuman cukup keras.
Kondisi tersebut sempat memicu kekhawatiran masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir Banten dan Lampung.
Terlebih, Gunung Anak Krakatau memiliki catatan sejarah pernah memicu tsunami besar di kawasan Selat Sunda.
Namun, masyarakat diminta tidak panik. Badan Geologi Kementerian ESDM memastikan aktivitas erupsi yang sedang berlangsung saat ini belum menunjukkan potensi memicu tsunami.
Dalam Laporan Khusus Nomor 1512.Lap/GL.03/BGL/2026 yang diterbitkan pada Sabtu (5/9/2026), Badan Geologi menjelaskan adanya fenomena lava fountain atau air mancur lava selama fase erupsi konstruksi Gunung Anak Krakatau.
Meski aktivitas tersebut menghasilkan lontaran lava serta suara dentuman yang terdengar hingga sejumlah wilayah, kondisi tubuh gunung saat ini dinilai berbeda dibandingkan peristiwa besar yang pernah terjadi sebelumnya.
Kondisi Gunung Anak Krakatau Berbeda
Badan Geologi mengingatkan bahwa tsunami dahsyat pernah terjadi akibat aktivitas Gunung Krakatau pada 1883.
Selain itu, longsoran tubuh Gunung Anak Krakatau pada 22 Desember 2018 juga memicu tsunami di Selat Sunda.
Akan tetapi, evaluasi terbaru menunjukkan kondisi morfologi Gunung Anak Krakatau pascaerupsi 2018 masih relatif kecil.
Pertumbuhan tubuh gunung yang terbentuk setelah kejadian tersebut dinilai belum memiliki ukuran yang memungkinkan terjadinya keruntuhan besar hingga memicu tsunami.
“Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami,” demikian keterangan dalam laporan Badan Geologi.
Dengan demikian, suara gemuruh dan dentuman yang dilaporkan terdengar di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, hingga Lampung dipastikan berkaitan dengan aktivitas erupsi yang sedang berlangsung.
Fenomena tersebut terutama berhubungan dengan dinamika lava fountain, bukan merupakan tanda adanya gelombang tsunami.
Status Masih Level III Siaga
Gunung Anak Krakatau hingga kini masih berstatus Level III atau Siaga. Status tersebut telah berlaku sejak 2 Juli 2026.
Badan Geologi menyebut potensi bahaya utama saat ini berasal dari aktivitas erupsi di sekitar kawah.
Ancaman yang perlu diwaspadai antara lain aliran lava pijar dan lontaran material vulkanik.
Masyarakat maupun wisatawan yang berada di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau diminta tidak mendekati pusat aktivitas gunung api.
Radius 3 Kilometer Harus Disterilkan
Salah satu rekomendasi yang dikeluarkan Badan Geologi adalah larangan melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat kawah aktif.
Masyarakat, wisatawan, maupun pendaki diminta mematuhi batas aman tersebut demi menghindari risiko terkena material vulkanik.
Selain itu, masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu dengan intensitas tinggi.
Sementara bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir Banten dan Lampung, Badan Geologi mengimbau agar tetap tenang dan tidak terpancing oleh informasi mengenai ancaman tsunami yang belum terkonfirmasi.
Warga dapat menjalankan aktivitas seperti biasa sembari tetap mengikuti perkembangan informasi serta arahan dari BPBD setempat.
Untuk memperoleh informasi yang akurat mengenai perkembangan Gunung Anak Krakatau, masyarakat juga diminta tidak mudah percaya terhadap kabar yang beredar di media sosial.
Informasi sebaiknya diperoleh melalui kanal resmi PVMBG, Magma Indonesia, dan Badan Geologi. (kangtop)








