Dulu Sering Ada di Pekarangan, Kini Mulai Langka, Padahal Ceremai Punya Segudang Manfaat untuk Kesehatan

Hobi55 Dilihat

KONCOdewe.com – Di tengah maraknya tanaman buah modern yang banyak dibudidayakan, pohon ceremai masih menjadi salah satu tanaman lokal yang menyimpan banyak keunggulan.

Sayangnya, keberadaannya kini mulai jarang dijumpai, terutama di kawasan perkotaan.

Padahal, tanaman yang memiliki nama ilmiah Phyllanthus acidus (L.)

Skeels ini dikenal sangat mudah tumbuh di berbagai kondisi lahan, baik pada tanah yang kekurangan maupun kelebihan air.

Kemampuan beradaptasi tersebut membuat ceremai menjadi tanaman yang relatif mudah dibudidayakan.

Tidak membutuhkan perawatan rumit, pohon ini dapat tumbuh subur di pekarangan rumah, kebun, tepi ladang, hingga lahan kosong.

Selain menghasilkan buah yang khas dengan cita rasa masam menyegarkan, hampir seluruh bagian tanaman ceremai juga memiliki nilai manfaat yang cukup tinggi.

Buah ceremai dikenal sebagai sumber vitamin C alami yang berperan membantu menjaga sistem imun tubuh.

Kandungan antioksidan di dalamnya juga dipercaya mampu menangkal radikal bebas sehingga baik dikonsumsi sebagai bagian dari pola hidup sehat.

Sementara itu, bagian daunnya mengandung berbagai senyawa aktif seperti saponin, flavonoid, tanin, serta polifenol yang sejak lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional.

Dalam pengobatan herbal, daun ceremai kerap digunakan sebagai bahan alami untuk membantu meredakan batuk berdahak.

Mengurangi rasa mual, mengatasi sariawan, hingga dipercaya memiliki potensi sebagai pendukung terapi berbagai penyakit.

Bahkan, sebagian masyarakat juga memanfaatkannya sebagai ramuan pendamping program penurunan berat badan.

Tak hanya berkhasiat bagi kesehatan, ceremai juga memiliki nilai kuliner yang cukup tinggi.

Buah yang masih muda sering dimanfaatkan sebagai campuran berbagai masakan tradisional untuk memberikan sensasi rasa asam alami.

Sementara buah yang telah matang dapat langsung dikonsumsi, meski banyak orang lebih menyukainya setelah diolah menjadi manisan, selai, sirup, maupun aneka olahan lainnya.

BACA:  Cabai di Dapur Ternyata Bisa Basmi Hama Kebun! Begini Cara Ampuhnya yang Jarang Diketahui

Mengenal Lebih Dekat Pohon Ceremai

Meski tergolong tanaman yang mudah tumbuh, keberadaan pohon ceremai kini semakin sulit ditemukan, terutama di kawasan perkotaan.

Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan lahan serta anggapan bahwa tanaman ini kurang memiliki nilai ekonomi dibandingkan tanaman buah lainnya.

Akibatnya, banyak pekarangan yang dahulu ditumbuhi ceremai kini beralih fungsi.

Padahal, jika ditelusuri dari sejarah penyebarannya, ceremai merupakan tanaman yang telah lama dikenal di berbagai negara tropis.

Tanaman ini diperkirakan berasal dari Madagaskar sebelum akhirnya menyebar ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, Vietnam, Laos, hingga berbagai pulau di kawasan Pasifik.

Penyebarannya bahkan mencapai wilayah Amerika Tengah dan Amerika Selatan karena kemampuannya beradaptasi dengan iklim tropis.

Klasifikasi Ilmiah Tanaman Ceremai

Dalam dunia botani, ceremai termasuk salah satu anggota keluarga Euphorbiaceae. Berikut klasifikasi ilmiahnya:

  • Kingdom: Plantae
  • Subkingdom: Tracheobionta
  • Superdivisi: Spermatophyta
  • Divisi: Spermatophyta
  • Subdivisi: Angiospermae
  • Kelas: Dicotyledoneae
  • Ordo: Euphorbiales
  • Famili: Euphorbiaceae
  • Genus: Phyllanthus
  • Spesies: Phyllanthus acidus (L.) Skeels

Klasifikasi tersebut menunjukkan bahwa ceremai masih berada dalam kelompok tumbuhan berbunga yang menghasilkan biji dan banyak dijumpai di wilayah beriklim tropis.

Ciri Botani yang Mudah Dikenali

Pohon ceremai merupakan tanaman tahunan yang dapat hidup dalam waktu sangat lama.

Di habitat yang sesuai, tanaman ini mampu tumbuh hingga lebih dari 10 meter dengan percabangan yang cukup banyak.

Batangnya memiliki kulit kayu yang relatif tebal, sedangkan sistem perakarannya berupa akar tunggang berwarna cokelat muda yang kuat menopang tanaman.

Daunnya merupakan daun tunggal bertangkai pendek yang tersusun rapat sehingga sekilas menyerupai daun majemuk.

Bentuk helaian daun bervariasi dari bulat telur hingga lonjong, dengan ujung meruncing, tepi rata, serta permukaan halus tanpa rambut.

Warna daun didominasi hijau muda sehingga memberikan kesan segar pada tajuk pohon.

BACA:  Cabai Sudah Berbuah Tapi Kurang Pedas? Ternyata Kesalahan Ini Sering Dilakukan Pekebun

Salah satu daya tarik ceremai terlihat saat memasuki musim berbunga.

Hampir seluruh ranting dipenuhi tandan bunga kecil berwarna putih kemerahan atau merah muda yang tumbuh langsung dari cabang-cabang pohon.

Dalam satu tandan terdapat bunga jantan dan bunga betina sehingga proses pembentukan buah berlangsung cukup optimal.

Buah ceremai memiliki bentuk bulat pipih dengan lekukan khas berjumlah enam hingga delapan sisi. Diameternya berkisar antara 1,25 hingga 2,5 sentimeter.

Saat matang, kulit buah berubah menjadi kuning muda, sedangkan daging buahnya berwarna putih bening, berair, dan memiliki rasa asam yang cukup kuat.

Di dalamnya terdapat empat hingga enam biji pipih berwarna cokelat muda.

Untuk memperbanyak tanaman, ceremai dapat dikembangkan melalui berbagai cara.

Selain menggunakan biji, petani juga kerap melakukan okulasi maupun cangkok agar tanaman lebih cepat berbuah dan memiliki sifat unggul yang sama dengan induknya.

Jenis Ceremai yang Banyak Dikenal

Secara umum, variasi ceremai tidak terlalu banyak dibandingkan tanaman buah lainnya.

Jenis yang paling mudah ditemukan adalah ceremai hijau dengan buah berwarna kuning kehijauan saat matang dan rasa asam yang cukup dominan.

Selain itu, masyarakat juga mengenal ceremai belanda yang memiliki warna buah merah cerah.

Meski sama-sama disebut ceremai, bentuk tanaman ini sedikit berbeda.

Cabangnya cenderung lebih panjang, jumlah buah dalam satu tandan tidak sebanyak ceremai hijau, dan penampilannya lebih mencolok karena warna buahnya yang merah.

Dengan berbagai manfaat yang dimiliki, ceremai sebenarnya layak kembali dilirik sebagai tanaman pekarangan.

Selain mudah dirawat dan tahan terhadap berbagai kondisi lingkungan, tanaman ini juga menawarkan manfaat kesehatan.

Sekaligus nilai ekonomi melalui berbagai produk olahan yang semakin diminati masyarakat. (kangtop)