Ternyata Ada Rahasia di Balik Rasa Lapar, Haus, dan Kantuk, Begini Pandangan Islam tentang Fitrah Manusia

Religi28 Dilihat

KONCOdewe.com – Jika manusia mau sejenak memperhatikan dirinya sendiri, ada begitu banyak hal yang sebenarnya bekerja secara otomatis tanpa harus diperintah oleh akal.

Rasa lapar datang ketika tubuh membutuhkan makanan, rasa haus muncul ketika cairan tubuh perlu dipenuhi, kantuk hadir setelah tubuh melewati aktivitas Panjang.

Sementara dorongan untuk memiliki keturunan menjadi bagian dari perjalanan kehidupan manusia.

Semua itu bukan sekadar rangkaian kebiasaan biologis.

Dalam perspektif Islam, berbagai dorongan alami yang melekat pada diri manusia merupakan bagian dari fitrah yang telah Allah SWT tetapkan sejak manusia diciptakan.

Manusia tidak hadir ke dunia dengan tubuh yang kosong dari mekanisme kehidupan.

Di dalam dirinya terdapat berbagai sistem yang saling berkaitan dan bekerja secara teratur.

Ada organ yang menjalankan fungsinya tanpa diperintah, ada naluri yang muncul ketika kebutuhan tertentu harus dipenuhi.

Dan ada pula akal yang diberikan untuk mempertimbangkan bagaimana kebutuhan tersebut seharusnya disalurkan.

Di sinilah salah satu sisi menarik dari penciptaan manusia dapat dilihat.

Allah SWT tidak hanya memberikan manusia kemampuan untuk berpikir, tetapi juga membekalinya dengan dorongan-dorongan alami yang membantu menjaga kehidupan.

Fitrah Manusia sebagai Penggerak Kehidupan

Sejak manusia dilahirkan, terdapat sejumlah kebutuhan mendasar yang secara perlahan mengarahkan perilakunya.

Seorang bayi menangis ketika merasa lapar, haus, tidak nyaman, atau membutuhkan perhatian.

Ketika tumbuh menjadi dewasa, kebutuhan tersebut berkembang menjadi bentuk dorongan yang lebih kompleks.

Rasa lapar membuat seseorang mencari makanan. Rasa haus mendorongnya mencari minuman. Rasa lelah membuat tubuh membutuhkan istirahat.

Sementara dorongan biologis untuk memiliki keturunan menjadi bagian dari naluri manusia dalam melanjutkan generasi.

Dorongan tersebut memiliki fungsi yang sangat penting.

Bayangkan apabila manusia tidak pernah merasa lapar. Ia mungkin tidak memiliki alasan kuat untuk mencari makanan meskipun tubuh membutuhkan energi.

Jika rasa haus tidak pernah muncul, manusia dapat mengabaikan kebutuhan cairan yang sangat penting bagi fungsi tubuh.

Dengan demikian, rasa lapar dan haus bukan sekadar sensasi yang terkadang dianggap mengganggu.

Keduanya merupakan sinyal alami yang membantu manusia mempertahankan kehidupannya.

Hal serupa juga terjadi pada kebutuhan untuk tidur. Setelah beraktivitas sepanjang hari, tubuh secara perlahan memberikan tanda berupa rasa lelah dan kantuk.

Dorongan tersebut membuat manusia berhenti sejenak dari berbagai kegiatan agar tubuh memperoleh kesempatan untuk memulihkan tenaga.

Tanpa adanya rasa kantuk, seseorang mungkin akan terus memaksakan diri bekerja, belajar, atau melakukan aktivitas lainnya.

Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut tentu dapat mengganggu keseimbangan tubuh dan kehidupan manusia.

Selain kebutuhan makan, minum, dan tidur, manusia juga diberikan naluri untuk mempertahankan keturunan.

Dorongan seksual merupakan bagian dari sistem biologis manusia yang memiliki fungsi dalam keberlangsungan generasi.

Dalam Islam, dorongan tersebut bukan sesuatu yang harus dianggap sebagai hal yang buruk.

Namun, sebagaimana berbagai naluri lainnya, dorongan tersebut memiliki aturan dan batasan agar disalurkan melalui jalan yang benar.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); sesuai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah.” (QS. Ar-Rum: 30).

Ayat tersebut mengingatkan bahwa manusia diciptakan dengan fitrah yang melekat dalam dirinya.

Fitrah menjadi salah satu bagian dari ketetapan Allah SWT yang membuat manusia memiliki kecenderungan dan kebutuhan tertentu dalam menjalani kehidupannya.

Ketika Naluri Menjadi Penjaga Kehidupan

Menariknya, manusia tidak hanya memiliki akal untuk memahami kebutuhan, tetapi juga memiliki dorongan yang membuatnya terdorong untuk bertindak.

BACA:  Tak Semua yang Tak Terlihat Itu Kosong, Ini Makna Beriman kepada Alam Ghaib dalam Islam

Secara sederhana, seseorang mungkin memahami bahwa tubuh membutuhkan makanan.

Namun, pengetahuan saja belum tentu cukup untuk membuatnya makan secara teratur.

Rasa lapar hadir sebagai dorongan yang jauh lebih kuat sehingga manusia terdorong mencari makanan ketika energi tubuh mulai berkurang.

Hal tersebut menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan dan naluri.

Akal membantu manusia memahami sesuatu, sedangkan naluri memberikan dorongan untuk memenuhi kebutuhan yang berkaitan dengan keberlangsungan hidup.

Begitu pula ketika seseorang mengalami sakit. Ada kalanya obat yang harus diminum memiliki rasa pahit atau menimbulkan ketidaknyamanan.

Namun, keinginan untuk sembuh membuat manusia bersedia menjalani pengobatan tersebut.

Dorongan untuk mempertahankan kehidupan membuat seseorang rela melakukan sesuatu yang pada awalnya tidak menyenangkan.

Hal yang sama dapat dilihat dari kebutuhan beristirahat. Seseorang mungkin memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan atau berbagai tanggung jawab yang menuntutnya terus bergerak.

Namun ketika rasa kantuk semakin kuat, tubuh seakan memberikan pesan bahwa aktivitas perlu dihentikan sementara.

Jika manusia sama sekali tidak memiliki mekanisme tersebut, ia mungkin terus mengabaikan kebutuhan tubuh demi mengejar berbagai urusan duniawi.

Dari sini dapat dipahami bahwa naluri bukan sekadar dorongan spontan.

Dalam banyak keadaan, naluri justru menjadi salah satu mekanisme yang membantu manusia mempertahankan kehidupannya.

Naluri Keturunan dan Keberlangsungan Generasi

Selain menjaga kehidupan individu, naluri juga memiliki peran dalam menjaga keberlangsungan manusia secara keseluruhan.

Dorongan untuk memiliki pasangan dan keturunan merupakan bagian dari naluri manusia.

Melalui keluarga, kehidupan manusia terus berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Apabila manusia hanya mempertimbangkan persoalan keturunan berdasarkan logika semata tanpa adanya dorongan biologis, proses tersebut mungkin tidak akan berlangsung secara alami.

Karena itu, keberadaan naluri menjadi salah satu bagian dari sistem kehidupan yang memungkinkan manusia terus berkembang dan mempertahankan generasinya.

Namun Islam tidak membiarkan naluri berjalan tanpa arah. Justru di sinilah peran agama menjadi penting.

Naluri diberikan, tetapi manusia juga dibekali akal dan petunjuk agar dorongan tersebut tidak berubah menjadi tindakan yang merusak.

Makan merupakan kebutuhan, tetapi manusia tetap diajarkan untuk tidak berlebihan.

Istirahat diperlukan, tetapi manusia juga memiliki kewajiban untuk menjalankan tanggung jawabnya.

Dorongan seksual merupakan bagian dari fitrah, tetapi Islam memberikan aturan mengenai bagaimana dorongan tersebut disalurkan.

Dengan demikian, kehidupan manusia tidak hanya berbicara tentang memenuhi keinginan, tetapi juga tentang mengendalikan dan mengarahkannya.

Akal, Naluri, dan Petunjuk Agama

Manusia memiliki posisi yang berbeda dari makhluk lain karena diberikan akal dan kemampuan untuk memilih.

Naluri dapat memberikan dorongan, tetapi manusia tetap memiliki tanggung jawab terhadap keputusan yang diambilnya.

Rasa lapar, misalnya, merupakan sesuatu yang alami.

Akan tetapi, akal membantu manusia memilih makanan yang baik, menentukan jumlah yang cukup, serta menghindari sesuatu yang dapat membahayakan tubuh.

Begitu pula dengan dorongan lainnya. Manusia tidak diperintahkan untuk mematikan naluri, tetapi diarahkan agar mampu mengendalikannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, persoalan sering kali muncul ketika seseorang membiarkan dorongan sesaat mengalahkan pertimbangan akal dan nilai agama.

Keinginan yang sebenarnya merupakan bagian dari fitrah dapat berubah menjadi sumber masalah ketika tidak dikendalikan.

Karena itu, Islam mengajarkan keseimbangan. Naluri tidak harus dimusuhi, tetapi juga tidak boleh dibiarkan menguasai seluruh kehidupan.

Manusia membutuhkan makanan, tetapi tidak boleh menjadi budak makanan. Manusia membutuhkan harta, tetapi tidak seharusnya diperbudak oleh harta.

BACA:  Ternyata I’tidal Bukan Sekadar Berdiri Setelah Rukuk, Ini Rahasia Besarnya untuk Tubuh dan Jiwa

Manusia memiliki keinginan, tetapi keinginan tersebut perlu ditempatkan di bawah kendali akal dan petunjuk Allah SWT.

Keseimbangan Ciptaan sebagai Bukti Kekuasaan Allah

Semakin manusia mempelajari dirinya sendiri, semakin banyak pula alasan untuk menyadari kebesaran Allah SWT.

Tubuh manusia bekerja dengan sistem yang begitu rumit. Jantung terus berdetak tanpa menunggu perintah sadar. Pernapasan berlangsung secara otomatis.

Rasa lapar, haus, lelah, dan kantuk muncul sebagai bagian dari mekanisme kehidupan.

Semua itu menunjukkan bahwa manusia tidak dibiarkan menjalani kehidupan tanpa bekal.

Allah SWT memberikan berbagai kemampuan dan mekanisme agar manusia mampu bertahan, berkembang, serta menjalankan kehidupannya.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4).

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa penciptaan manusia memiliki keistimewaan.

Kesempurnaan tersebut tidak hanya dapat dilihat dari bentuk fisik, tetapi juga dari berbagai kemampuan, naluri, akal, dan potensi yang diberikan kepada manusia.

Di balik rasa lapar terdapat kebutuhan tubuh. Di balik rasa haus terdapat mekanisme untuk menjaga keseimbangan cairan.

Di balik rasa kantuk terdapat kebutuhan untuk memulihkan tenaga. Sementara di balik naluri memiliki keturunan terdapat keberlangsungan generasi manusia.

Jika direnungkan lebih jauh, berbagai dorongan tersebut memperlihatkan adanya keteraturan yang sulit dipisahkan dari kebesaran Sang Pencipta.

Memahami Fitrah untuk Menumbuhkan Rasa Syukur

Memahami naluri manusia seharusnya tidak berhenti pada pengetahuan mengenai bagaimana tubuh bekerja.

Lebih jauh, pemahaman tersebut dapat menjadi jalan untuk meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT.

Sering kali manusia baru menyadari pentingnya sesuatu ketika hal tersebut terganggu. Ketika sehat, manusia mungkin tidak memikirkan bagaimana tubuhnya bekerja.

Ketika dapat tidur dengan nyenyak, ia mungkin tidak memikirkan betapa pentingnya istirahat.

Ketika dapat menikmati makanan dan minuman, ia mungkin lupa bahwa kemampuan untuk merasakan lapar dan haus juga merupakan bagian dari nikmat kehidupan.

Padahal, setiap kebutuhan dasar manusia merupakan pengingat bahwa kehidupan tidak berjalan secara kebetulan.

Fitrah yang tertanam dalam diri manusia merupakan bagian dari rahmat Allah SWT.

Melalui berbagai dorongan tersebut, manusia diarahkan untuk menjaga dirinya, mempertahankan kehidupannya, dan melanjutkan generasinya.

Namun di saat yang sama, manusia diberikan akal dan agama agar semua dorongan tersebut tetap berada dalam jalan yang benar.

Dengan demikian, memahami naluri manusia membawa kita pada satu kesadaran penting:

kehidupan bukan hanya tentang memenuhi apa yang diinginkan, tetapi juga memahami untuk apa keinginan tersebut diciptakan.

Manusia membutuhkan makan untuk menjaga tubuh, tidur untuk memulihkan tenaga, dan memiliki keturunan untuk melanjutkan kehidupan.

Tetapi semua itu tidak boleh membuat manusia lupa terhadap tujuan yang lebih besar, yakni beribadah kepada Allah SWT dan menjalani kehidupan sesuai petunjuk-Nya.

Dengan memahami keseimbangan antara naluri, akal, dan tuntunan agama, manusia diharapkan mampu menjalani kehidupan secara lebih bijaksana.

Setiap nikmat tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan duniawi, tetapi juga diarahkan menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sebab, di balik setiap naluri yang muncul dalam diri manusia, terdapat pelajaran tentang keteraturan, keseimbangan, dan kasih sayang Allah SWT.

Ketika manusia mampu membaca tanda-tanda tersebut dengan hati yang terbuka, rasa syukur pun tumbuh lebih dalam.

Kehidupan dunia akhirnya bukan sekadar perjalanan untuk bertahan hidup.

Melainkan kesempatan untuk mengenali kebesaran Allah, menjaga amanah kehidupan, dan mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat yang kekal. (kangtop)