Mengapa Manusia Bisa Mulia atau Terjerumus? Ternyata Ada 3 Potensi dalam Diri

Religi49 Dilihat

KONCOdewe.com – Setiap manusia pada dasarnya dibekali berbagai potensi yang melekat sejak lahir.

Potensi tersebut menjadi modal untuk menjalani kehidupan, mengambil keputusan, berhubungan dengan sesama, hingga menentukan arah perjalanan hidup.

Dalam pandangan Islam, manusia tidak hanya dinilai dari apa yang tampak di luar.

Ada pergulatan di dalam diri yang turut menentukan apakah seseorang akan tumbuh menjadi pribadi berakhlak mulia.

Atau justru terjerumus dalam perilaku yang merugikan dirinya sendiri maupun orang lain.

Para ulama sejak dahulu banyak membahas tentang kekuatan yang ada dalam diri manusia.

Di antara potensi tersebut, terdapat tiga kekuatan yang memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan akhlak, yakni akal, amarah, dan syahwat.

Ketiganya bukan sesuatu yang harus dimatikan. Justru ketiganya merupakan bagian dari fitrah manusia.

Persoalannya adalah bagaimana potensi tersebut diarahkan dan dikendalikan.

Jika akal menjadi penuntun, amarah berada dalam kendali, dan syahwat ditempatkan secara proporsional, ketiganya dapat menjadi jalan menuju kemuliaan.

Sebaliknya, jika salah satu dibiarkan menguasai diri, potensi yang semestinya menjadi kekuatan dapat berubah menjadi sumber kehancuran.

  1. Akal dan Cahaya Hikmah, Penuntun dalam Mengambil Keputusan

Akal merupakan salah satu anugerah terbesar yang diberikan Allah SWT kepada manusia.

Dengan akal, seseorang dapat berpikir, memahami keadaan, mempelajari ilmu, serta mempertimbangkan akibat dari setiap tindakan.

Akal membuat manusia tidak sekadar mengikuti dorongan sesaat.

Ia memungkinkan seseorang berhenti sejenak sebelum berbicara, berpikir sebelum bertindak, dan menimbang apakah keputusan yang diambil membawa kebaikan atau justru mendatangkan mudarat.

Namun, akal tidak cukup hanya dengan kecerdasan. Ia membutuhkan ilmu dan hikmah agar mampu berjalan menuju kebenaran.

Orang yang memiliki kecerdasan tinggi belum tentu memiliki kebijaksanaan. Sebab, kecerdasan tanpa petunjuk dapat digunakan untuk membenarkan kesalahan.

Bahkan, seseorang terkadang mampu menemukan berbagai alasan untuk membenarkan keinginan dirinya sendiri.

Karena itu, akal perlu ditemani ilmu dan hikmah.

Hikmah membuat seseorang mampu melihat persoalan secara lebih jernih, mengenali kebenaran dalam keyakinan, menjaga kejujuran dalam perkataan, serta memilih kebaikan dalam perbuatan.

Allah SWT berfirman: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” QS. Al-Mujadilah: 11

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa ilmu bukan sekadar alat untuk mengetahui sesuatu.

Ilmu semestinya membawa manusia kepada kebijaksanaan dan membuatnya semakin mampu menempatkan sesuatu secara tepat.

Akal yang dipandu ilmu akan menjadi cahaya. Sebaliknya, akal yang hanya tunduk pada kepentingan dan hawa nafsu dapat berubah menjadi alat untuk mencari pembenaran.

  1. Amarah, Kekuatan yang Bisa Menjadi Pelindung

Selain akal, manusia juga memiliki potensi amarah. Dalam kehidupan sehari-hari, amarah sering kali dipandang sebagai sesuatu yang buruk.

BACA:  Tak Hanya Puasa Asyura, Ini Hikmah Besar 10 Muharram yang Perlu Diketahui Umat Islam

Padahal, keberadaan amarah tidak selalu berarti keburukan.

Amarah memiliki fungsi tertentu dalam kehidupan manusia.

Ia dapat menjadi energi untuk mempertahankan diri, melawan ketidakadilan, menjaga kehormatan, dan membela sesuatu yang dianggap benar.

Masalah muncul ketika amarah tidak lagi berada di bawah kendali akal dan hikmah.

Seseorang yang tidak mampu mengendalikan amarah dapat kehilangan pertimbangan.

Kata-kata yang seharusnya tidak diucapkan akhirnya terlontar. Tindakan yang semestinya dipikirkan matang justru dilakukan dalam hitungan detik.

Dari sinilah amarah dapat berubah menjadi kesombongan, kebencian, penghinaan, bahkan permusuhan.

Para ulama mengibaratkan kekuatan amarah seperti hewan yang telah dilatih.

Ketika mampu dikendalikan, ia dapat menjadi kekuatan yang membantu manusia.

Namun apabila dibiarkan liar, kekuatan tersebut justru dapat membahayakan pemiliknya.

Karena itu, Islam tidak mengajarkan manusia untuk menghilangkan amarah sepenuhnya. Yang ditekankan adalah kemampuan mengendalikannya.

Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” QS. Ali Imran: 134

Menahan amarah bukan berarti menjadi manusia yang lemah. Justru kemampuan mengendalikan emosi menunjukkan adanya kekuatan dalam diri.

Seseorang yang mampu menahan amarah memiliki kesempatan untuk memilih respons terbaik. Ia tidak membiarkan emosi sesaat menentukan masa depan.

  1. Syahwat, Dorongan yang Menggerakkan Kehidupan

Potensi ketiga yang terdapat dalam diri manusia adalah syahwat. Istilah ini tidak selalu harus dipahami sebatas persoalan seksual.

Dalam konteks yang lebih luas, syahwat berkaitan dengan berbagai dorongan dan kecenderungan manusia terhadap sesuatu yang diinginkannya.

Dorongan tersebut memiliki peran penting dalam kehidupan.

Manusia membutuhkan keinginan untuk bekerja, mencari penghidupan, membangun keluarga, memperoleh makanan, mencapai cita-cita, dan mempertahankan keberlangsungan hidup.

Tanpa adanya dorongan, manusia mungkin tidak memiliki energi untuk bergerak dan berkembang.

Namun, seperti halnya akal dan amarah, syahwat juga membutuhkan kendali.

Keinginan yang berada dalam batas kewajaran dapat menjadi energi positif. Sebaliknya, keinginan yang tidak pernah merasa cukup dapat membawa seseorang pada keserakahan.

Ketika seseorang terus mengejar apa yang diinginkan tanpa mempertimbangkan batas halal, hak orang lain, maupun akibatnya, keinginan tersebut dapat berubah menjadi sumber masalah.

Hasad, perselisihan, fitnah, hingga permusuhan dapat bermula dari keinginan yang tidak terkendali.

Allah SWT berfirman: “Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa yang diingini…” QS. Ali Imran: 14

Ayat tersebut menunjukkan bahwa kecenderungan manusia terhadap sesuatu yang disukai merupakan bagian dari fitrah.

Namun, fitrah tersebut membutuhkan pengarahan agar tidak berubah menjadi perilaku yang merusak.

Dengan pengendalian yang baik, dorongan keinginan justru dapat diarahkan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Keinginan untuk memiliki rezeki dapat mendorong seseorang bekerja keras.

BACA:  Banyak Orang Mencari Ketenangan ke Mana-Mana, Padahal Jalannya Berawal dari Diri Sendiri

Keinginan membangun kehidupan yang lebih baik dapat membuat seseorang tekun belajar dan berkarya.

Jalan Tengah, Kunci Menjaga Tiga Potensi

Dari ketiga potensi tersebut terlihat bahwa Islam tidak mengajarkan manusia untuk mematikan akal, amarah, maupun syahwat.

Yang diperlukan adalah keseimbangan.

Akal harus menjadi penuntun. Amarah menjadi kekuatan untuk menjaga diri dan prinsip.

Sementara syahwat menjadi energi yang mendorong manusia memenuhi kebutuhan dan menjalani kehidupan.

Ketiganya harus berada dalam kendali hikmah.

Prinsip keseimbangan atau sikap pertengahan menjadi bagian penting dalam pembentukan akhlak.

Manusia tidak dianjurkan bersikap berlebihan, tetapi juga tidak diperintahkan untuk menghilangkan seluruh kecenderungan duniawi yang ada dalam dirinya.

Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya.” QS. Al-Isra’: 29

Pesan tersebut dapat menjadi gambaran bahwa kehidupan membutuhkan keseimbangan.

Kedermawanan, misalnya, merupakan akhlak terpuji, tetapi jika dilakukan tanpa pertimbangan hingga menimbulkan pemborosan, maka kebaikan tersebut dapat kehilangan batasnya.

Begitu pula kehati-hatian. Sikap berhati-hati memang diperlukan, tetapi apabila berubah menjadi ketakutan berlebihan atau kekikiran, maka ia tidak lagi berada pada posisi yang seimbang.

Ketika Akal, Amarah, dan Syahwat Berjalan Bersama

Manusia tidak bisa melepaskan diri dari tiga potensi tersebut. Akal, amarah, dan syahwat merupakan bagian dari dinamika kehidupan manusia.

Yang membedakan adalah bagaimana seseorang mengelolanya.

Akal yang sehat membantu manusia berpikir sebelum bertindak.

Amarah yang terkendali membuat seseorang berani mempertahankan kebenaran tanpa berubah menjadi kasar.

Sementara syahwat yang diarahkan dengan baik membuat manusia memiliki semangat untuk bekerja, mencintai, membangun keluarga, dan memberikan manfaat.

Sebaliknya, ketika akal kehilangan arah, amarah tidak terkendali, dan syahwat dibiarkan memimpin, kehidupan seseorang perlahan dapat keluar dari keseimbangan.

Karena itu, pembentukan akhlak tidak cukup hanya dengan mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk.

Manusia juga membutuhkan latihan untuk mengendalikan dirinya sendiri.

Ilmu memberikan arah. Hati menjadi tempat menerima nilai kebaikan. Sementara pengendalian diri memastikan setiap potensi tetap berada pada jalurnya.

Pada titik inilah akhlak mulia terbentuk. Bukan karena manusia tidak memiliki dorongan negatif, melainkan karena ia mampu mengelola seluruh potensi dalam dirinya dengan benar.

Akal menjadi penuntun, amarah menjadi pelindung, dan syahwat menjadi penggerak kehidupan.

Ketika ketiganya berada dalam keseimbangan dan tunduk pada hikmah, manusia memiliki peluang untuk tumbuh menjadi pribadi yang bijaksana, tegas, sekaligus penuh kasih.

Sebab, kemuliaan manusia bukan terletak pada hilangnya berbagai dorongan dalam dirinya.

Tetapi pada kemampuannya mengendalikan dan mengarahkannya menuju kebaikan yang diridhai Allah SWT. (kangtop)