KONCOdewe.com – Jika manusia mau berhenti sejenak dan memperhatikan kehidupannya, ada begitu banyak hal yang sebenarnya layak disyukuri.
Makanan yang bisa dinikmati, pakaian yang dikenakan, kendaraan yang membantu perjalanan, tubuh yang mampu bekerja, hingga akal yang membuat manusia dapat berpikir merupakan rangkaian nikmat yang tidak selalu kita sadari.
Sering kali manusia baru menyadari nilai sebuah nikmat ketika sesuatu itu berkurang atau hilang.
Padahal, setiap hari manusia hidup dalam limpahan karunia Allah SWT.
Bahkan hal-hal yang terlihat sederhana menyimpan hikmah yang begitu dalam jika direnungkan dengan hati dan pikiran yang jernih.
Tidak hanya berupa benda, nikmat juga hadir dalam bentuk kemampuan memahami, merasakan, memilih dan mengambil keputusan.
Semua itu menjadi bagian dari tanda kebesaran Allah SWT dalam mengatur kehidupan manusia.
Beragam Nikmat yang Mengiringi Kehidupan
Cobalah perhatikan kehidupan sehari-hari. Manusia dapat menikmati berbagai makanan dengan rasa yang berbeda, buah-buahan dengan bentuk dan warna yang beraneka ragam, serta berbagai kebutuhan yang membuat kehidupan menjadi lebih mudah.
Kendaraan membantu manusia menempuh jarak yang jauh. Hewan ternak menyediakan bahan pangan sekaligus dapat membantu pekerjaan.
Tanaman tertentu dimanfaatkan sebagai bahan obat, sementara bunga dan berbagai tumbuhan menghadirkan keindahan sekaligus aroma yang menyenangkan.
Pakaian pun hadir dalam banyak bentuk, bahan dan fungsi. Ada yang digunakan untuk bekerja, beribadah, melindungi tubuh dari cuaca maupun menunjang berbagai aktivitas.
Semua kemudahan tersebut tidak hadir begitu saja.
Manusia diberi kemampuan untuk mengenali manfaat berbagai benda, mengolah sumber daya alam dan menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Di balik semua itu terdapat nikmat akal yang memungkinkan manusia berpikir dan berkreasi.
Perbedaan Rezeki Mengajarkan Manusia untuk Berusaha
Salah satu hal yang sering menjadi bahan renungan adalah mengapa kondisi ekonomi setiap manusia berbeda.
Ada orang yang diberi kelapangan rezeki, sementara sebagian lainnya harus menjalani kehidupan dengan penuh perjuangan.
Ada yang memiliki banyak kesempatan, sementara yang lain harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan sesuatu yang sama.
Perbedaan tersebut dapat menjadi bagian dari dinamika kehidupan.
Manusia akhirnya saling membutuhkan, bekerja sama dan mengambil peran masing-masing dalam kehidupan bermasyarakat.
Seseorang bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Orang lain membuka usaha dan menciptakan lapangan pekerjaan.
Ada yang menghasilkan makanan, ada yang menyediakan jasa, sementara yang lain mengembangkan ilmu dan teknologi.
Dari berbagai peran tersebut, kehidupan menjadi terus bergerak.
Jika seluruh manusia memiliki kondisi yang persis sama dalam segala hal, dinamika kehidupan tentu akan berbeda.
Karena itu, perbedaan rezeki juga dapat menjadi sarana bagi manusia untuk belajar berusaha, bersyukur, berbagi dan tidak meremehkan orang lain.
Pada saat yang sama, manusia perlu menyadari bahwa tidak semua hikmah dari ketetapan Allah dapat dipahami secara sempurna.
Hikmah Allah Tidak Mungkin Dihitung Manusia
Manusia memiliki kemampuan berpikir, tetapi kemampuan tersebut tetap memiliki batas.
Kita dapat menghitung banyak hal, meneliti berbagai fenomena dan mempelajari sebagian rahasia alam.
Namun, seluruh hikmah di balik setiap kejadian tentu tidak akan mampu dijangkau oleh manusia.
Apa yang dianggap buruk hari ini belum tentu buruk bagi kehidupan di masa depan.
Begitu pula sesuatu yang terlihat sebagai kesulitan bisa saja menjadi jalan menuju pelajaran yang berharga.
Allah SWT memiliki pengetahuan yang sempurna, sedangkan pengetahuan manusia terbatas.
Kesadaran tersebut semestinya membuat manusia tidak mudah sombong ketika mendapatkan keberhasilan.
Sebaliknya, ketika menghadapi kesulitan, manusia juga tidak lekas berputus asa.
Ada hikmah yang mungkin belum terlihat sekarang.
Allah Memuliakan Manusia dengan Berbagai Kelebihan
Allah SWT memberikan manusia kedudukan yang istimewa di antara banyak makhluk-Nya.
Dalam Al-Qur’an disebutkan:
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra’: 70)
Kemuliaan manusia dapat terlihat dari berbagai kemampuan yang dimilikinya.
Manusia mampu belajar, mengembangkan ilmu, menciptakan teknologi, mengelola lingkungan dan memahami berbagai tanda kebesaran Allah SWT.
Namun, kemuliaan tersebut bukan alasan untuk berlaku sombong.
Justru semakin besar kemampuan yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dijalankan.
Akal, Nikmat Besar yang Membawa Manusia Berpikir
Di antara berbagai karunia Allah SWT, akal merupakan salah satu nikmat yang sangat besar.
Dengan akal, manusia dapat membedakan manfaat dan bahaya, mempelajari ilmu, menyusun pengetahuan serta mempertimbangkan akibat dari setiap tindakan.
Akal juga membuat manusia mampu melihat sesuatu yang tidak hanya tampak di depan mata.
Manusia dapat membayangkan masa depan, mempelajari masa lalu dan mengambil pelajaran dari pengalaman.
Melalui akal, manusia juga dapat merenungkan keberadaan dirinya sendiri.
Allah SWT berfirman: “Dan pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 21)
Ayat tersebut mengajak manusia untuk melihat dirinya sebagai salah satu tanda kebesaran Allah SWT.
Tubuh manusia begitu kompleks. Ada jantung yang terus bekerja, paru-paru yang membantu pernapasan, mata yang memungkinkan manusia melihat, telinga untuk mendengar dan otak yang mengatur berbagai fungsi kehidupan.
Semua itu seharusnya menjadi bahan renungan.
Kehebatan Akal Ternyata Tetap Memiliki Batas
Meskipun manusia memiliki kemampuan berpikir yang luar biasa, akal bukanlah sesuatu yang sempurna dan tidak terbatas.
Ada kalanya manusia ingin mengingat sesuatu tetapi justru lupa. Sebaliknya, ketika ingin melupakan sebuah pengalaman, kenangan tersebut justru muncul kembali.
Manusia juga tidak selalu mampu mengendalikan rasa lapar, haus, lelah, mengantuk maupun berbagai dorongan dalam dirinya.
Seseorang dapat merencanakan banyak hal, tetapi tidak selalu mampu memastikan apa yang akan terjadi beberapa menit kemudian.
Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa manusia bukan penguasa mutlak atas dirinya sendiri.
Akal dapat membantu manusia memahami banyak hal, tetapi tetap ada batas yang tidak mampu ditembusnya.
Ada Hal yang Bisa Dipahami Akal, Ada yang Harus Diimani
Dengan akal, manusia dapat menemukan berbagai tanda keberadaan dan kekuasaan Allah SWT melalui ciptaan-Nya.
Namun, akal manusia memiliki keterbatasan untuk memahami hakikat Zat Allah SWT secara keseluruhan.
Di sinilah manusia belajar menempatkan akal pada kedudukannya.
Akal digunakan untuk berpikir, memahami tanda-tanda kebesaran Allah dan mengambil pelajaran, sementara iman menjadi landasan untuk menerima perkara yang berada di luar jangkauan kemampuan manusia.
Semakin seseorang menyadari keterbatasan akalnya, seharusnya semakin tumbuh kerendahan hati.
Bukan justru merasa paling pintar dan paling mengetahui segala sesuatu.
Merenungkan Nikmat untuk Menumbuhkan Syukur
Berbagai nikmat yang diterima manusia seharusnya membawa kepada satu kesadaran penting: tidak ada alasan bagi manusia untuk berhenti bersyukur.
Makanan yang tersedia, kesehatan, keluarga, pekerjaan, kemampuan berpikir, kesempatan belajar hingga rezeki yang datang setiap hari merupakan karunia yang tidak mungkin dihitung seluruhnya.
Bahkan kemampuan untuk menyadari adanya nikmat itu sendiri juga merupakan sebuah nikmat.
Ketika manusia mulai melihat kehidupan dengan cara tersebut, berbagai hal sederhana dapat berubah menjadi bahan tafakur.
Segelas air bukan sekadar minuman. Ia menjadi pengingat bahwa manusia tidak dapat bertahan hidup tanpa air.
Makanan bukan sekadar sesuatu yang mengenyangkan. Ia menjadi pengingat tentang luasnya rezeki Allah SWT.
Akal bukan sekadar kemampuan berpikir. Ia menjadi sarana untuk mengenali kebenaran dan merenungkan kebesaran Sang Pencipta.
Dari Nikmat Menuju Kedekatan kepada Allah
Merenungkan berbagai karunia Allah SWT pada akhirnya bukan hanya bertujuan membuat manusia kagum.
Lebih dari itu, tafakur seharusnya mendorong manusia untuk semakin dekat kepada-Nya.
Ketika menyadari betapa banyak nikmat yang diterima, manusia terdorong untuk bersyukur.
Ketika menyadari keterbatasan diri, manusia belajar rendah hati.
Ketika melihat luasnya kekuasaan Allah, manusia semakin tunduk dan menyadari bahwa dirinya hanyalah bagian kecil dari kehidupan yang begitu luas.
Di situlah letak hikmah yang mendalam.
Rezeki bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk disyukuri. Akal bukan hanya untuk digunakan mencari keuntungan, tetapi juga untuk memahami tanda-tanda kebesaran Allah.
Dan kehidupan bukan sekadar perjalanan mengejar dunia, melainkan kesempatan untuk berbuat baik dan mempertanggungjawabkan setiap amanah.
Subhanallah, semakin manusia merenungi dirinya, semakin banyak pula alasan untuk mengakui kebesaran Allah SWT.
Pada akhirnya, mengenali nikmat bukan hanya membuat hati merasa cukup, tetapi juga mengajarkan manusia untuk menggunakan setiap karunia sesuai dengan tujuan yang baik.
Sebab, setiap nikmat yang diberikan Allah SWT pada hakikatnya membawa amanah: dijaga, disyukuri dan digunakan untuk kebaikan. (kangtop)












