Ternyata Bukan Banyaknya Rezeki yang Menentukan Bahagia, Tapi Cara Kita Mensyukurinya

Religi61 Dilihat

KONCOdewe.com – Ada kalanya manusia terlalu sibuk mengejar sesuatu yang belum dimiliki sampai lupa melihat begitu banyak nikmat yang sebenarnya sudah berada di tangannya.

Mengejar harta, jabatan, popularitas, kenyamanan, bahkan pengakuan dari orang lain sering membuat seseorang lupa bahwa hidupnya sendiri telah dipenuhi berbagai karunia.

Padahal, kebahagiaan tidak selalu lahir setelah semua keinginan terpenuhi.

Justru, kebahagiaan sering tumbuh ketika seseorang mampu menerima, menghargai dan mensyukuri apa yang telah diberikan Allah SWT.

Di sinilah syukur memiliki kedudukan yang begitu penting.

Syukur bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah ketika memperoleh sesuatu yang menyenangkan.

Lebih dalam dari itu, syukur merupakan cara manusia menyadari bahwa setiap nikmat berasal dari Allah SWT, kemudian menggunakan nikmat tersebut sesuai dengan jalan yang diridai-Nya.

Dengan syukur, sesuatu yang sederhana dapat terasa begitu berharga.

Segelas air menjadi nikmat, kesehatan menjadi anugerah, keluarga menjadi sumber ketenangan, pekerjaan menjadi kesempatan berbuat baik dan waktu menjadi amanah yang harus dimanfaatkan.

Syukur Bukan Hanya Ucapan, tetapi Cara Menjalani Kehidupan

Dalam pemaknaan bahasa Arab, syukur memiliki kaitan dengan makna menampakkan dan mengakui nikmat. Sementara lawannya adalah kufur, yakni menutup atau mengingkari.

Karena itu, syukur tidak cukup hanya berhenti di bibir.

Seseorang yang mendapatkan kesehatan, misalnya, dapat menunjukkan rasa syukurnya dengan menjaga tubuh dan menggunakan kekuatannya untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat.

Orang yang diberi ilmu dapat bersyukur dengan mengamalkan dan membagikannya.

Orang yang memiliki harta dapat mempergunakannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga, membantu sesama dan menjalankan kewajiban yang telah ditetapkan agama.

Begitu pula orang yang memiliki waktu. Syukur terhadap waktu bukan sekadar mengakui bahwa waktu adalah nikmat, tetapi mengisinya dengan kegiatan yang memiliki manfaat.

Dengan demikian, syukur merupakan perpaduan antara pengakuan dalam hati, ucapan melalui lisan dan tindakan melalui perbuatan.

Mengapa Orang yang Bersyukur Lebih Mudah Merasakan Ketenangan?

Coba bandingkan dua keadaan.

Seseorang terus memikirkan apa yang belum dimilikinya. Ia melihat keberhasilan orang lain, kemudian merasa hidupnya tertinggal.

Melihat kekayaan orang lain, ia merasa kekurangan. Melihat kebahagiaan orang lain, ia merasa hidupnya tidak seberuntung mereka.

Sementara orang yang bersyukur berusaha melihat apa yang telah diberikan kepadanya.

Bukan berarti ia berhenti berusaha atau tidak memiliki cita-cita.

Ia tetap bekerja keras untuk memperbaiki kehidupannya, tetapi tidak membiarkan keinginan menghapus rasa syukur atas nikmat yang sudah dimiliki.

Inilah salah satu kekuatan syukur.

Syukur membantu manusia mengubah sudut pandang. Kekurangan tidak selalu dipandang sebagai alasan untuk mengeluh, sementara keberhasilan tidak membuat seseorang lupa diri.

Dalam kehidupan sehari-hari, sikap tersebut dapat membantu seseorang menjadi lebih tenang, optimistis dan mampu menghargai orang lain.

BACA:  Benarkah Ibu Hamil Dilarang Minum Es? Ini Fakta di Balik Mitos yang Masih Beredar

Syukur Sesungguhnya Kembali kepada Diri Sendiri

Allah SWT berfirman dalam QS. Luqman ayat 12 bahwa siapa yang bersyukur, sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri.

Pesan tersebut mengandung pelajaran yang sangat dalam.

Allah SWT tidak membutuhkan rasa syukur manusia. Justru manusia yang membutuhkan syukur itu agar hatinya tidak mudah dikuasai kesombongan, iri hati dan ketidakpuasan.

Ketika seseorang menyadari bahwa kesehatan, rezeki, keluarga, ilmu dan kesempatan hidup merupakan pemberian Allah, ia akan lebih berhati-hati dalam menggunakannya.

Syukur juga membuat seseorang memahami bahwa tidak semua yang dimiliki merupakan hasil kekuatannya sendiri.

Ada pertolongan Allah di balik setiap kemudahan. Ada doa orang tua di balik perjalanan hidup.

Ada bantuan orang lain di balik keberhasilan. Ada kesempatan yang datang tanpa pernah benar-benar bisa direncanakan.

Kesadaran seperti inilah yang membuat hati menjadi lebih rendah hati.

Syukur Tidak Selalu Berarti Hidup Tanpa Masalah

Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah menganggap orang bersyukur berarti orang yang kehidupannya selalu bahagia dan tidak pernah menghadapi kesulitan.

Padahal, syukur bukan berarti seseorang tidak boleh menangis, kecewa atau berusaha keluar dari masalah.

Syukur justru mengajarkan manusia untuk tetap melihat sisi kebaikan di tengah keadaan yang tidak mudah.

Ketika sakit, seseorang tetap berusaha berobat sambil menyadari bahwa masih ada banyak nikmat yang dimiliki.

Ketika mengalami kegagalan, ia mengevaluasi kesalahan tanpa kehilangan harapan.

Ketika rezeki terasa sempit, ia tetap berusaha sambil menjaga keyakinan bahwa Allah SWT mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Dengan demikian, syukur bukan berarti pasrah tanpa usaha. Syukur berjalan bersama ikhtiar.

Dari Tawakal, Sabar, Syukur hingga Ridha

Dalam perjalanan spiritual, terdapat rangkaian sikap yang dapat saling menguatkan.

Ketika manusia menyadari bahwa segala sesuatu berada dalam kekuasaan Allah SWT, ia belajar tawakal.

Ketika menghadapi sesuatu yang tidak sesuai harapan, ia belajar sabar. Ketika menyadari berbagai nikmat yang masih dimiliki, ia belajar bersyukur.

Dari syukur yang terus dipelihara, tumbuh ridha. Kemudian dari ridha lahir husnuzan, yakni berprasangka baik kepada Allah SWT.

Rangkaian tersebut tidak selalu terbentuk dalam satu malam. Ia membutuhkan proses panjang. Ada latihan, pengalaman, kegagalan, kesabaran dan pembelajaran dalam kehidupan.

Karena itu, menjadi pribadi yang benar-benar bersyukur bukanlah perkara sederhana.

Menjadi Hamba yang Benar-Benar Syukur

Dalam kehidupan beragama, syukur memiliki kedudukan yang tinggi. Seorang hamba tidak hanya dituntut mengenal nikmat, tetapi juga menyadari siapa yang memberikan nikmat tersebut.

Ada orang yang mendapatkan banyak harta tetapi hatinya tetap merasa miskin.

Sebaliknya, ada orang yang kehidupannya sederhana namun mampu menikmati ketenangan karena merasa cukup dengan apa yang dimiliki.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa ukuran kebahagiaan tidak selalu berada pada jumlah sesuatu yang dimiliki.

BACA:  Banyak Dicari Saat Rebo Wekasan, Ini 7 Ayat Salamun Beserta Arti dan Pesannya

Ketenangan juga sangat dipengaruhi oleh cara seseorang memandang kehidupan.

Semakin seseorang memahami bahwa hidup ini merupakan pemberian Allah, semakin mudah baginya untuk menjaga hati dari kesombongan.

Syukur Mengubah Cara Pandang terhadap Rezeki

Rezeki sering kali hanya dipahami dalam bentuk uang. Padahal, rezeki memiliki cakupan yang jauh lebih luas.

Kesehatan adalah rezeki. Keluarga yang menyayangi adalah rezeki. Teman yang baik adalah rezeki.

Ilmu yang bermanfaat adalah rezeki. Kesempatan untuk beribadah adalah rezeki.

Bahkan kemampuan untuk bangun pagi dan kembali menikmati kehidupan pada hari berikutnya merupakan nikmat yang tidak ternilai.

Ketika pemahaman tentang rezeki semakin luas, hati akan lebih mudah bersyukur.

Manusia tidak lagi hanya menunggu datangnya sesuatu yang besar untuk mengucapkan alhamdulillah. Hal-hal kecil yang selama ini dianggap biasa pun mulai terasa istimewa.

Syukur Membuka Mata terhadap Nikmat yang Selama Ini Terlewat

Ada begitu banyak nikmat yang baru disadari setelah seseorang kehilangan.

Kesehatan terasa mahal ketika tubuh mulai sakit. Waktu terasa berharga ketika kesempatan telah berlalu.

Kebersamaan terasa begitu berarti ketika seseorang yang dicintai sudah tidak berada di sisi. Karena itu, jangan menunggu kehilangan untuk belajar menghargai.

Belajarlah bersyukur ketika nikmat masih ada.

Jika memiliki keluarga, hargailah mereka. Jika memiliki kesehatan, gunakan untuk kebaikan.

Jika memiliki ilmu, amalkan. Jika memiliki harta, manfaatkan untuk sesuatu yang diridai Allah SWT.

Jika memiliki waktu, jangan biarkan semuanya berlalu tanpa makna.

Pintu Kebahagiaan Ternyata Bisa Dimulai dari Hati

Syukur bukanlah tentang seberapa banyak yang dimiliki seseorang, tetapi bagaimana ia memandang apa yang telah diberikan kepadanya.

Orang yang selalu mengejar sesuatu yang belum ada akan terus merasa kurang.

Namun, orang yang belajar mensyukuri nikmat yang telah diterima akan menemukan ruang untuk menikmati kehidupan sekaligus tetap berusaha memperbaikinya.

Syukur tidak membuat manusia berhenti memiliki cita-cita.

Sebaliknya, syukur membuat seseorang mengejar cita-cita tanpa kehilangan ketenangan.

Ia bekerja keras, tetapi tidak sombong ketika berhasil. Ia berusaha, tetapi tidak berputus asa ketika gagal.

Ia mendapatkan nikmat lalu bersyukur. Ia menghadapi ujian lalu bersabar.

Dan dalam keduanya, ia berusaha tetap percaya kepada Allah SWT.

Karena itu, syukur bukan sekadar ucapan setelah mendapatkan rezeki. Syukur adalah cara hati memandang kehidupan.

Semakin manusia belajar bersyukur, semakin ia menyadari bahwa ternyata nikmat Allah SWT jauh lebih banyak daripada yang selama ini mampu dihitung.

Dari sanalah kebahagiaan mulai tumbuh, hati menjadi lebih tenang, dan kehidupan terasa lebih bermakna.

Dengan demikian, syukur bukan hanya tentang mendapatkan lebih banyak, tetapi tentang mampu melihat betapa banyak yang sebenarnya sudah Allah berikan. (kangtop)