Bukan Sekadar Menikmati Hidup, Ini Amanah yang Ada di Balik Setiap Nikmat

Religi46 Dilihat

KONCOdewe.com – Kehidupan manusia sebenarnya dipenuhi dengan berbagai bentuk kasih sayang Allah SWT yang terkadang luput dari perhatian.

Sejak seseorang belum mengenal dunia hingga tumbuh menjadi manusia dewasa, begitu banyak nikmat yang diberikan tanpa pernah benar-benar diminta.

Manusia dapat melihat, mendengar, berbicara, berpikir, berjalan, bekerja, merasakan kasih sayang, serta menikmati rezeki yang datang setiap hari.

Banyak di antaranya terasa begitu biasa sehingga sering kali baru disadari nilainya ketika nikmat tersebut berkurang atau bahkan hilang.

Di balik semua itu terdapat sebuah pesan penting bahwa kehidupan bukanlah sesuatu yang dimiliki manusia secara mutlak.

Hidup merupakan amanah yang suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban.

Karena itu, manusia perlu sesekali berhenti dari kesibukan dunia dan melihat kembali perjalanan dirinya.

Tidak ada seorang pun yang lahir dalam keadaan sudah memiliki pengetahuan, kekuatan, dan kemampuan seperti sekarang.

Manusia memulai kehidupannya dari keadaan yang lemah, kemudian tumbuh melalui proses panjang hingga akhirnya mengenal dunia.

Allah SWT memberikan berbagai kemampuan sebagai bekal menjalani kehidupan.

Mata digunakan untuk melihat, telinga untuk mendengar, lisan untuk berbicara, sementara hati dan akal menjadi sarana untuk memahami berbagai hal.

Allah SWT berfirman: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.”
(QS. An-Nahl: 78)

Ayat tersebut mengingatkan bahwa semua kemampuan yang dimiliki manusia pada dasarnya merupakan pemberian Allah.

Tidak ada alasan bagi seorang hamba untuk merasa sepenuhnya memiliki segala sesuatu tanpa menyadari siapa yang memberikan.

Kewajiban Pertama: Mengenal dan Taat kepada Allah

Kesibukan dunia terkadang membuat manusia terlalu fokus mengejar sesuatu yang bersifat sementara.

Pekerjaan, harta, jabatan, usaha, popularitas, hingga berbagai keinginan pribadi dapat menyita perhatian begitu besar.

Tanpa disadari, seseorang bisa lebih sibuk mengejar nikmat daripada mengingat Pemberi nikmat.

Padahal, segala sesuatu yang dimiliki manusia memiliki batas. Kesehatan dapat berubah, kekayaan dapat berkurang, kesempatan dapat berlalu, dan usia terus berjalan tanpa pernah menunggu.

Kesadaran seperti ini bukan untuk membuat manusia meninggalkan kehidupan dunia. Sebaliknya, dunia tetap perlu dijalani dengan sungguh-sungguh.

Namun, semua pencapaian hendaknya ditempatkan sebagai amanah, bukan sebagai alasan untuk melupakan Allah.

Kesehatan seharusnya digunakan untuk melakukan kebaikan.

BACA:  Jika Sering Merasa Paling Benar, Bisa Jadi Hati Sedang Tidak Sadar Terserang Kesombongan

Rezeki dapat menjadi sarana membantu sesama. Ilmu digunakan untuk memberikan manfaat, sementara kemampuan yang dimiliki diarahkan kepada sesuatu yang diridai Allah.

Di sinilah pentingnya mengenal Allah.

Mengenal sifat-sifat Allah bukan hanya persoalan pengetahuan, tetapi juga bagaimana pengetahuan tersebut memengaruhi sikap hidup.

Semakin seseorang menyadari kebesaran Allah, seharusnya semakin tumbuh rasa tunduk, takut, berharap, dan bersyukur kepada-Nya.

Ketaatan juga menjadi bukti nyata dari rasa syukur tersebut.

Seorang hamba tidak cukup hanya mengakui bahwa Allah adalah Pemberi nikmat. Ia juga perlu berusaha menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Hawa nafsu pun perlu dikendalikan agar tidak membawa seseorang terlalu jauh mengejar kesenangan dunia.

Kasih Sayang Allah melalui Para Rasul

Kasih sayang Allah kepada manusia tidak berhenti pada pemberian berbagai kemampuan untuk menjalani kehidupan.

Allah juga memberikan petunjuk melalui para rasul.

Manusia membutuhkan arahan karena akal dan kemampuan yang dimiliki tidak selalu cukup untuk mengetahui seluruh jalan kehidupan.

Ada perkara yang mungkin terlihat baik tetapi membawa keburukan, dan ada pula sesuatu yang terasa berat tetapi ternyata mengandung kebaikan.

Karena itu, Allah mengutus para rasul untuk menyampaikan petunjuk kepada manusia.

Nabi Muhammad SAW merupakan rasul terakhir yang membawa risalah Islam.

Ajaran yang beliau sampaikan menjadi pedoman bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan, baik berkaitan dengan ibadah maupun hubungan antarmanusia.

Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta ulil amri di antara kamu.”
(QS. An-Nisa’: 59)

Ayat tersebut menunjukkan pentingnya ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Mengikuti Rasul bukan sekadar mengetahui kisah kehidupan beliau. Lebih jauh, keteladanan Rasul menjadi pedoman dalam membentuk perilaku dan menjalani kehidupan sehari-hari.

Ketaatan tersebut juga memiliki janji yang besar dari Allah.

Allah SWT berfirman: “Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”
(QS. Al-Fath: 17)

Janji tersebut memberikan harapan bahwa setiap ketaatan tidak pernah sia-sia.

Dunia mungkin hanya memberikan balasan sementara. Namun, amal yang dilakukan karena Allah memiliki tujuan yang jauh lebih panjang, yakni kehidupan akhirat.

Jangan Sampai Nikmat Membuat Lupa

Ada masa ketika seseorang berdoa dengan sungguh-sungguh agar mendapatkan sesuatu.

Ketika keinginannya terkabul, ia merasa bahagia. Namun, setelah kehidupan mulai nyaman, perhatian kepada Allah perlahan berkurang.

Hal seperti inilah yang patut direnungkan.

BACA:  Jangan Berhenti Berbuat Baik karena Kecewa, Bisa Jadi Balasannya Datang dari Arah Tak Terduga

Jangan sampai nikmat yang semula menjadi alasan untuk bersyukur justru berubah menjadi penyebab kelalaian.

Harta yang seharusnya menjadi sarana kebaikan dapat membuat seseorang terlena. Jabatan yang seharusnya menjadi amanah dapat berubah menjadi sumber kesombongan.

Ilmu yang seharusnya membawa manfaat dapat membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Karena itu, setiap nikmat perlu disertai kesadaran.

Semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dijaga.

Menjadi Hamba yang Bersyukur

Berbagai nikmat yang diberikan Allah membawa manusia menuju satu tugas penting, yaitu menjadi hamba yang bersyukur.

Syukur tidak berhenti pada ucapan alhamdulillah. Syukur juga perlu terlihat melalui cara seseorang menggunakan nikmat yang dimilikinya.

Mata digunakan untuk melihat kebaikan. Lisan dijaga agar tidak menyakiti. Telinga digunakan untuk mendengar sesuatu yang bermanfaat.

Akal dipakai untuk berpikir dan mengambil keputusan yang benar.

Begitu pula dengan harta, waktu, kesehatan, keluarga, pekerjaan, dan berbagai kesempatan hidup lainnya.

Semua itu dapat menjadi jalan kebaikan ketika digunakan dengan benar.

Sebaliknya, nikmat yang tidak disyukuri dapat membuat hati semakin jauh dari tujuan kehidupan.

Maka, sesekali manusia perlu berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia dan bertanya kepada dirinya sendiri: untuk apa semua yang saya miliki?

Pertanyaan tersebut sederhana, tetapi jawabannya dapat mengubah cara seseorang menjalani kehidupan.

Sebab, dunia bukanlah tempat untuk tinggal selamanya.

Manusia datang dalam keadaan tidak memiliki apa-apa, kemudian menerima berbagai nikmat sepanjang perjalanan hidupnya. Pada akhirnya, semua yang dimiliki akan ditinggalkan.

Yang dibawa bukanlah banyaknya harta, tingginya jabatan, atau luasnya popularitas, melainkan amal dan ketakwaan.

Karena itu, jangan sampai kesenangan dunia membuat hati lupa kepada Allah.

Nikmati rezeki yang diberikan, jalankan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh, cintai keluarga, bekerja dengan baik, dan terus berbuat manfaat.

Namun, jangan pernah lupa bahwa semua itu adalah titipan.

Oleh karena itu, kehidupan bukan hanya tentang seberapa banyak yang berhasil dikumpulkan, tetapi bagaimana amanah tersebut digunakan.

Dengan hati yang bersyukur dan kehidupan yang diarahkan kepada ketaatan, perjalanan dunia menjadi lebih bermakna.

Sebab, tujuan akhirnya bukan sekadar memperoleh kenyamanan sementara, melainkan kembali kepada Allah dengan membawa bekal amal dan hati yang penuh syukur. (kangtop)