Metik Wohing Penggawe: Benarkah Perilaku dan Tutur Kata Kita Bisa Berdampak hingga Anak Cucu?

Lifestyle5 Dilihat

KONCOdewe.com – Dalam falsafah hidup masyarakat Jawa, terdapat satu ajaran yang hingga kini tetap relevan untuk direnungkan, yakni metik wohing penggawe.

Ungkapan tersebut mengandung makna bahwa setiap perbuatan yang dilakukan seseorang, baik maupun buruk, pada akhirnya akan kembali kepada pelakunya.

Apa yang ditanam hari ini akan dipanen pada masa mendatang, bahkan tidak jarang dampaknya dirasakan oleh generasi berikutnya.

Konsep ini sering disandingkan dengan ajaran karmapala yang dikenal dalam agama Hindu dan Buddha.

Meski istilahnya berbeda, nilai yang terkandung di dalamnya juga diajarkan dalam Islam melalui berbagai ayat Al-Qur’an dan hadis tentang balasan atas amal perbuatan.

Dalam budaya Jawa sendiri, pesan tersebut diwariskan turun-temurun melalui petuah para leluhur agar manusia selalu berhati-hati dalam bersikap, bertutur kata, dan memperlakukan sesama.

Orang tua Jawa sejak dahulu selalu mengingatkan agar tidak menyulitkan orang lain, tidak berbuat zalim, serta membiasakan diri menolong sesama.

Sebab, menurut mereka, akibat dari perbuatan buruk bukan hanya dirasakan oleh pelakunya, melainkan dapat menjadi beban bagi anak cucu di masa depan.

Ketika Ilmu Pengetahuan Memberi Sudut Pandang Baru

Pada masa lalu, anggapan bahwa perilaku orang tua dapat memengaruhi kehidupan keturunannya mungkin dianggap sebatas kepercayaan budaya.

Namun perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang genetika dan epigenetika, mulai menunjukkan bahwa lingkungan serta gaya hidup memang mampu memengaruhi cara gen bekerja.

Salah satu contoh yang sering dikutip berasal dari penelitian terhadap komunitas Inuit di wilayah Nunavut, Kanada.

Dahulu masyarakat tersebut menjalani kehidupan tradisional dengan pola makan yang sangat bergantung pada sumber daya alam.

Seiring perubahan kebijakan pemerintah, pola hidup mereka ikut berubah drastis, termasuk konsumsi makanan yang lebih tinggi lemak hewani.

Dalam kurun waktu sekitar dua dekade, para peneliti menemukan perubahan kondisi kesehatan masyarakat tersebut.

Penyakit kardiovaskular seperti stroke dan serangan jantung mulai meningkat dibandingkan generasi sebelumnya.

Temuan-temuan seperti ini menjadi bagian dari kajian epigenetika, yaitu bidang ilmu yang mempelajari bagaimana lingkungan dan gaya hidup dapat memengaruhi ekspresi gen.

Perlu dipahami bahwa penelitian semacam ini tidak menyimpulkan secara sederhana bahwa sifat baik atau buruk seseorang langsung diwariskan melalui gen.

Namun, berbagai faktor biologis dan lingkungan memang dapat memberikan pengaruh terhadap kesehatan maupun perkembangan generasi berikutnya.

Metik Wohing Penggawe dalam Perspektif Kehidupan Sehari-hari

BACA:  Sering Bilang “Ikuti Arus”? Ini Bahaya Hidup Tanpa Arah yang Jarang Disadari

Jika dikaitkan dengan filosofi Jawa, perubahan lingkungan tersebut memberi ruang untuk merenungkan bahwa kebiasaan hidup seseorang tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri.

Perilaku disiplin, hidup sehat, menjaga emosi, hingga membangun hubungan sosial yang harmonis akan menciptakan lingkungan keluarga yang positif.

Sebaliknya, kebiasaan marah, kasar, penuh tekanan, serta pola hidup yang buruk juga dapat membentuk suasana yang diwariskan kepada anak-anak melalui proses pengasuhan maupun lingkungan tempat mereka tumbuh.

Karena itulah para leluhur Jawa selalu mengingatkan agar manusia menjaga laku hidupnya.

Mereka percaya bahwa setiap tindakan adalah investasi yang kelak dipetik hasilnya oleh generasi berikutnya.

Budaya Jawa dan Keseimbangan Otak

Keunikan budaya Jawa tidak hanya terlihat dari adat istiadatnya, tetapi juga dari cara masyarakatnya berkomunikasi.

Dalam tradisi Jawa dikenal tingkatan bahasa seperti ngoko, krama, hingga krama inggil.

Pemilihan kata tidak hanya mempertimbangkan makna, tetapi juga memperhatikan usia, kedudukan, serta hubungan sosial dengan lawan bicara.

Proses tersebut menuntut seseorang menggunakan logika sekaligus kepekaan rasa.

Seseorang harus berpikir tentang makna kalimat yang akan disampaikan, sekaligus mempertimbangkan apakah ucapannya dapat melukai atau justru menghormati orang lain.

Secara sederhana, logika sering dikaitkan dengan fungsi dominan belahan otak kiri.

Sedangkan kreativitas, empati, dan apresiasi seni lebih sering diasosiasikan dengan fungsi tertentu pada otak kanan.

Meski demikian, ilmu saraf modern menjelaskan bahwa hampir semua aktivitas kompleks, termasuk berbahasa dan berinteraksi sosial, sebenarnya melibatkan kerja sama berbagai jaringan di kedua belahan otak.

Pembagian fungsi otak kiri dan kanan secara mutlak merupakan penyederhanaan yang tidak sepenuhnya mencerminkan cara kerja otak manusia.

Bahasa Halus Sebagai Latihan Empati

Dalam budaya Jawa, berbicara bukan sekadar menyampaikan informasi.

Setiap kalimat dirancang agar tetap menjaga harga diri lawan bicara.

Pilihan kata yang lembut, intonasi yang santun, serta sikap hormat menjadi bagian penting dalam komunikasi sehari-hari.

Menggunakan bahasa halus membutuhkan pengendalian emosi dan kemampuan memahami perasaan orang lain.

Hal inilah yang menjadikan tata krama Jawa sering dipandang sebagai latihan empati yang dilakukan secara terus-menerus dalam kehidupan sosial.

Sebaliknya, kebiasaan berbicara kasar, menghina, atau melontarkan kata-kata tanpa mempertimbangkan dampaknya dapat mengikis kepekaan sosial apabila terus dipelihara.

Perilaku Buruk Lebih Mudah, tetapi Dampaknya Lebih Panjang

Merusak biasanya memang lebih mudah daripada membangun.

Mengucapkan kata-kata kasar hanya membutuhkan beberapa detik, sementara menyusun kalimat yang santun memerlukan pertimbangan dan pengendalian diri.

BACA:  Jangan Sepelekan Alam! Pelajaran dari Tanah Ini Bisa Ubah Cara Pandang Hidupmu

Demikian pula dengan tindakan negatif yang sering kali dilakukan tanpa banyak berpikir, sedangkan membangun sesuatu yang baik membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan komitmen.

Dalam pandangan falsafah Jawa, setiap kebiasaan yang dilakukan berulang kali lambat laun akan membentuk karakter.

Karakter tersebut kemudian memengaruhi cara seseorang mendidik anak-anaknya, sehingga nilai-nilai yang diwariskan bukan hanya berupa materi, melainkan juga sikap hidup.

Inilah yang dimaksud sebagai wohing penggawe, buah dari setiap pekerjaan yang dilakukan manusia sepanjang hidupnya.

Menghormati Leluhur dengan Melanjutkan Kebaikan

Tradisi selamatan dan doa untuk leluhur dalam masyarakat Jawa sering dipahami sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus penghormatan kepada generasi terdahulu.

Maknanya bukan semata-mata ritual, tetapi juga pengingat bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab meneruskan nilai-nilai baik yang telah diwariskan.

Bila leluhur mewariskan kesantunan, gotong royong, serta budi pekerti, maka keturunannya berkewajiban menjaga dan mengembangkan warisan tersebut agar tidak terputus.

Dengan demikian, penghormatan kepada leluhur tidak berhenti pada doa, tetapi juga diwujudkan melalui perilaku sehari-hari.

Menjaga Kesehatan Melalui Kehidupan yang Seimbang

Selain membawa manfaat dalam hubungan sosial, hidup dengan penuh kesabaran, menjaga tutur kata, serta mengelola emosi juga berkaitan dengan kesehatan.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa stres berkepanjangan, kemarahan yang tidak terkendali, serta gaya hidup tidak sehat dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk gangguan kardiovaskular.

Sebaliknya, komunikasi yang baik, hubungan sosial yang harmonis, aktivitas fisik, pola makan seimbang, dan kemampuan mengelola emosi berkontribusi terhadap kesehatan otak maupun tubuh secara keseluruhan.

Karena itu, filosofi metik wohing penggawe dapat dipahami bukan hanya sebagai ajaran moral.

Tetapi juga sebagai pengingat bahwa setiap kebiasaan yang dipelihara hari ini akan menentukan kualitas hidup di masa depan.

Pada akhirnya, metik wohing penggawe mengajarkan satu hal sederhana namun mendalam: manusia tidak pernah benar-benar hidup hanya untuk dirinya sendiri.

Setiap ucapan, tindakan, dan kebiasaan akan meninggalkan jejak yang memengaruhi keluarga, lingkungan, bahkan generasi setelahnya.

Warisan terbaik bukanlah semata harta benda, melainkan karakter yang baik, tutur kata yang santun, rasa hormat kepada sesama, serta kebiasaan hidup yang sehat.

Ketika semua itu dipelihara dari satu generasi ke generasi berikutnya, maka buah kebaikan akan terus dipetik sepanjang waktu. (kangtop)