Sering Lelah dan Pusing? Bisa Jadi Itu Tanda Anemia yang Selama Ini Tak Disadari, Kenali Penyebab, Gejala, hingga Faktor Risikonya Sebelum Terlambat

Kesehatan32 Dilihat

KONCOdewe.com – Anemia menjadi salah satu masalah kesehatan yang cukup sering dialami masyarakat, namun kerap tidak disadari karena gejalanya muncul secara perlahan.

Banyak orang menganggap tubuh yang mudah lelah atau sering pusing hanya disebabkan kurang istirahat.

Padahal kondisi tersebut bisa menjadi tanda kadar sel darah merah atau hemoglobin di dalam tubuh mulai menurun.

Jika tidak ditangani dengan baik, anemia dapat mengganggu pasokan oksigen ke seluruh organ tubuh.

Akibatnya, berbagai aktivitas sehari-hari menjadi terganggu karena tubuh tidak memperoleh energi yang cukup untuk bekerja secara optimal.

Mengutip Healthline, anemia merupakan kondisi ketika jumlah sel darah merah sehat atau kadar hemoglobin dalam darah berada di bawah normal.

Hemoglobin sendiri adalah protein yang mengandung zat besi dan berfungsi mengikat oksigen di paru-paru sebelum didistribusikan ke seluruh tubuh melalui aliran darah.

Karena oksigen merupakan kebutuhan utama setiap organ, penurunan kadar hemoglobin akan membuat jaringan tubuh kekurangan pasokan oksigen sehingga memunculkan berbagai keluhan kesehatan.

Apa yang Menyebabkan Anemia?

Penyebab anemia ternyata sangat beragam. Mengutip WebMD, terdapat lebih dari 400 jenis anemia yang secara umum dibagi ke dalam tiga kelompok besar.

Yakni anemia akibat kehilangan darah, gangguan pembentukan sel darah merah, serta kerusakan sel darah merah.

Setiap jenis memiliki penyebab dan penanganan yang berbeda.

Karena itu, mengenali penyebabnya menjadi langkah awal agar pengobatan dapat dilakukan secara tepat.

  1. Anemia Akibat Kehilangan Darah

Jenis anemia ini terjadi ketika tubuh kehilangan darah dalam jumlah banyak atau secara perlahan dalam waktu lama sehingga sering kali tidak disadari.

Beberapa penyebab yang paling sering ditemukan antara lain perdarahan akibat tukak lambung, gastritis, wasir, hingga kanker saluran pencernaan.

Penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), seperti aspirin dan ibuprofen, juga dapat meningkatkan risiko perdarahan pada lambung.

BACA:  Mengapa Rasulullah SAW Jarang Sakit? Jawabannya Ada pada 8 Kebiasaan Ini

Pada wanita, menstruasi dengan volume darah berlebihan menjadi salah satu penyebab paling umum.

Selain itu, kehilangan darah setelah kecelakaan atau operasi juga dapat memicu anemia.

  1. Gangguan Produksi Sel Darah Merah

Kelompok kedua terjadi ketika tubuh tidak mampu memproduksi sel darah merah dalam jumlah yang cukup atau kualitasnya tidak normal.

Kondisi ini dapat dipicu oleh gangguan pada sumsum tulang, termasuk anemia aplastik yang menyebabkan produksi sel darah merah menurun drastis.

Paparan timbal serta penyakit genetik seperti talasemia juga termasuk penyebab gangguan pembentukan hemoglobin.

Anemia defisiensi zat besi merupakan jenis yang paling banyak dijumpai.

Kondisi ini muncul ketika tubuh kekurangan asupan zat besi sehingga produksi hemoglobin terganggu.

Penyebabnya beragam, mulai dari pola makan rendah zat besi, penyakit saluran cerna seperti Crohn, sering mendonorkan darah, kehamilan, menyusui, hingga perdarahan kronis dari saluran pencernaan.

Selain kekurangan zat besi, tubuh juga memerlukan vitamin B12 dan folat untuk membentuk sel darah merah.

Kekurangan kedua vitamin tersebut dapat menyebabkan anemia defisiensi vitamin, termasuk anemia megaloblastik maupun anemia pernisiosa akibat gangguan penyerapan vitamin B12.

Tak hanya itu, beberapa penyakit kronis seperti gagal ginjal, hipotiroidisme, diabetes, lupus, rheumatoid arthritis, infeksi berkepanjangan, hingga kanker juga dapat memicu munculnya anemia.

  1. Kerusakan Sel Darah Merah

Jenis anemia berikutnya terjadi ketika sel darah merah lebih cepat rusak dibandingkan kemampuan tubuh memproduksi sel baru. Kondisi ini dikenal sebagai anemia hemolitik.

Kerusakan sel darah merah dapat dipicu oleh penyakit autoimun, gangguan genetic.

Seperti anemia sel sabit dan talasemia, pembesaran limpa, infeksi tertentu, efek samping obat, paparan racun, hingga gangguan pada katup jantung atau pembuluh darah.

Pada anemia sel sabit, bentuk sel darah merah berubah menyerupai bulan sabit sehingga mudah pecah sekaligus menyumbat pembuluh darah kecil yang menyebabkan rasa nyeri.

Gejala Anemia yang Perlu Diwaspadai

Karena berhubungan dengan kurangnya pasokan oksigen ke seluruh tubuh, penderita anemia umumnya mengalami keluhan yang cukup khas.

BACA:  Posisi Tidur Ternyata Berpengaruh pada Ibadah dan Kesehatan, Ini Penjelasannya

Gejala yang paling sering muncul antara lain tubuh mudah lelah, lemas, pusing terutama saat berdiri, sakit kepala, sesak napas.

Kemudian kulit tampak pucat, tangan dan kaki terasa dingin, detak jantung lebih cepat atau tidak teratur, nyeri dada, hingga mudah pingsan.

Pada beberapa kasus, anemia juga dapat menimbulkan gejala lain seperti kuku rapuh, lidah meradang, sudut bibir pecah-pecah, penyakit kuning.

Pembesaran hati atau limpa, pembengkakan kelenjar getah bening, sulit berkonsentrasi, hingga muncul keinginan mengonsumsi benda yang tidak lazim seperti es batu, tanah, atau tanah liat.

Siapa yang Lebih Berisiko Mengalami Anemia?

Tidak semua orang memiliki risiko yang sama. Ada sejumlah faktor yang membuat seseorang lebih rentan mengalami anemia.

Di antaranya adalah kurang mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi, vitamin B12, dan folat, sedang hamil.

Mengalami menstruasi, berusia di atas 65 tahun, memiliki penyakit pencernaan seperti Crohn atau celiac.

Hingga menderita penyakit kronis seperti kanker, penyakit ginjal, penyakit hati, maupun penyakit autoimun.

Risiko juga meningkat pada seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit genetik penyebab anemia.

Sedang menjalani kemoterapi atau radioterapi, mengonsumsi alkohol secara berlebihan, serta sering terpapar bahan kimia berbahaya.

Jangan Abaikan Gejala Sejak Dini

Anemia bukan sekadar kondisi tubuh yang mudah lelah. Jika dibiarkan tanpa penanganan, penyakit ini dapat mengganggu fungsi berbagai organ karena pasokan oksigen yang tidak mencukupi.

Karena itu, penting menjaga pola makan bergizi seimbang, mencukupi kebutuhan zat besi, vitamin B12, dan folat.

Serta segera memeriksakan diri ke tenaga kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada anemia.

Penanganan sejak dini dapat membantu mencegah komplikasi sekaligus menjaga kualitas hidup tetap optimal. (kangtop)