KONCOdewe.com – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) bergerak di sekitar Rp17.900 pada perdagangan Senin (12/10/2026).
Pergerakan mata uang Negeri Paman Sam tersebut menjadi perhatian di tengah tekanan terhadap rupiah, salah satunya akibat kenaikan harga minyak mentah di pasar internasional.
Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS berada di level Rp17.919 pada perdagangan pagi.
Mata uang tersebut sempat tercatat melemah 0,11 persen sebelum bergerak hingga Rp17.920.
Posisi ini lebih tinggi dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.900.
Di pasar valuta asing, dolar AS menunjukkan pergerakan beragam.
Mata uang tersebut menguat 0,06 persen terhadap euro (EUR), 0,03 persen terhadap yen Jepang (JPY).
0,08 persen terhadap pound sterling Inggris (GBP), dan 0,13 persen terhadap dolar Australia (AUD).
Sebaliknya, dolar AS melemah 0,08 persen terhadap dolar Kanada (CAD) dan 0,05 persen terhadap franc Swiss (CHF).
Harga Minyak Dunia Menambah Tekanan terhadap Rupiah
Analis Doo Financial, Lukman Leong, menilai kenaikan harga minyak mentah global menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah.
Kondisi ini berpotensi menambah tekanan terhadap mata uang Indonesia, terutama karena kenaikan harga energi dapat meningkatkan beban impor.
Dalam keterangannya kepada ANTARA di Jakarta, Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah secara terbatas.
Pergerakan tersebut dipengaruhi perkembangan harga minyak dunia dan sentimen pasar internasional.
Situasi geopolitik di Timur Tengah turut menjadi perhatian investor.
Mengutip laporan Anadolu, Kementerian Energi Arab Saudi menyebut sebuah gedung administrasi milik Saudi Aramco di Dhahran, wilayah timur Arab Saudi, menjadi sasaran serangan yang dikaitkan dengan kelompok Houthi dari Yaman pada Selasa malam.
Insiden tersebut dilaporkan memicu kebakaran kecil.
Tim tanggap darurat dikerahkan untuk menangani kejadian tersebut, sementara pihak kementerian menyatakan tidak ada laporan korban luka maupun korban jiwa.
Perkembangan keamanan di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang dicermati pasar karena dapat memengaruhi kekhawatiran terhadap pasokan energi dan pergerakan harga minyak mentah dunia.
Harga WTI dan Brent Sama-Sama Menguat
Kenaikan harga minyak global turut terlihat pada perdagangan komoditas.
Berdasarkan laporan Xinhua, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November naik 1,89 dolar AS atau 2,06 persen menjadi 93,74 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.
Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember meningkat 1,93 dolar AS atau 1,84 persen hingga mencapai 106,65 dolar AS per barel di ICE Futures Exchange London.
Penguatan kedua acuan harga minyak tersebut menjadi perhatian pelaku pasar, khususnya dalam menilai prospek mata uang negara-negara yang bergantung pada impor energi, termasuk Indonesia.
Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan biaya impor dan memberikan tekanan terhadap neraca perdagangan maupun kebutuhan valuta asing.
Meski demikian, arah pergerakan rupiah juga dipengaruhi faktor lain, termasuk kondisi dolar AS dan kebijakan moneter Amerika Serikat.
Sikap The Fed Berpotensi Menahan Penguatan Dolar
Di tengah tekanan akibat kenaikan harga minyak, rupiah masih berpeluang memperoleh dukungan apabila indeks dolar AS mengalami koreksi dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury (UST) menurun.
Sentimen tersebut berkaitan dengan pernyataan bernada dovish dari pejabat Federal Reserve (The Fed), John C. Williams, mengenai prospek kebijakan suku bunga AS.
Menurut Lukman, Williams melihat kemungkinan satu kali kenaikan suku bunga pada tahun ini, tetapi menilai kenaikan tambahan tidak diperlukan pada 2027.
Pandangan mengenai arah kebijakan moneter tersebut dapat memengaruhi ekspektasi investor terhadap dolar AS.
Apabila pasar memperkirakan kebijakan moneter yang lebih longgar, tekanan terhadap mata uang negara lain berpotensi berkurang, meskipun dampaknya tetap bergantung pada perkembangan ekonomi dan sentimen global.
Investor Menanti Data Inflasi Amerika Serikat
Selain harga minyak dan pernyataan pejabat The Fed, pelaku pasar juga mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan pada Rabu malam.
Menjelang pengumuman tersebut, investor cenderung mengambil sikap wait and see atau menunggu perkembangan terbaru sebelum menentukan keputusan investasi.
Inflasi inti AS diperkirakan meningkat dari 2,4 persen menjadi 2,5 persen. Sementara itu, inflasi umum diproyeksikan naik dari 3,4 persen menjadi 3,6 persen.
Data inflasi menjadi salah satu indikator penting yang dapat memengaruhi perkiraan pasar terhadap arah suku bunga The Fed.
Jika hasilnya berbeda dari ekspektasi, pergerakan dolar AS dan mata uang negara lain, termasuk rupiah, dapat ikut berubah.
Rupiah Diperkirakan Bergerak di Rentang Rp17.850–Rp17.950
Mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak pada kisaran Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS.
Rentang tersebut mencerminkan masih adanya tekanan terhadap rupiah, terutama dari kenaikan harga minyak mentah dunia.
Namun, koreksi indeks dolar AS, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS, dan perkembangan kebijakan The Fed berpotensi menjadi faktor penyeimbang.
Ke depan, pergerakan rupiah akan bergantung pada kombinasi perkembangan harga energi, situasi geopolitik Timur Tengah, sentimen pasar global, serta data ekonomi Amerika Serikat.
Pelaku pasar pun perlu mencermati perkembangan tersebut karena dapat memengaruhi arah nilai tukar dalam perdagangan berikutnya. (kangtop)











