KONCOdewe.com – Rebo Wekasan merupakan salah satu tradisi yang masih dikenal di sebagian masyarakat Muslim, terutama di Jawa.
Momentum ini berlangsung pada Rabu terakhir bulan Safar dan dalam tradisi tertentu dikaitkan dengan waktu yang dianggap rawan bala atau marabahaya.
Pandangan tersebut salah satunya disebut berasal dari pendapat Syaikh Ad-Dairobi, seorang ulama yang dalam sumber tradisi ini disebut telah mencapai maqam kasyaf.
Dalam pandangan yang dinukil, terdapat keyakinan bahwa dalam satu tahun Allah SWT menurunkan berbagai macam bala dalam satu malam, yang dikaitkan dengan malam Rabu terakhir bulan Safar.
Karena itu, masyarakat kemudian mengembangkan berbagai bentuk ikhtiar spiritual untuk mengisi Rebo Wekasan.
Selain doa, dzikir, sedekah, dan mandi tolak bala, dikenal pula amalan membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung lafaz salamun.
Pada 2026, Rebo Wekasan jatuh pada Rabu, 12 Agustus 2026, bertepatan dengan Rabu terakhir bulan Safar.
Salah satu amalan yang dikenal dalam tradisi tersebut adalah 7 Ayat Salamun.
Yakni kumpulan ayat Al-Qur’an yang dihimpun karena memuat lafaz atau makna yang berkaitan dengan salam, keselamatan, dan kedamaian.
Namun, ada hal penting yang perlu dipahami. Tujuh ayat tersebut bukan rangkaian ayat yang secara khusus diperintahkan Al-Qur’an atau hadis untuk diamalkan pada Rebo Wekasan.
Ayat-ayat itu merupakan bagian dari Al-Qur’an yang memiliki konteks masing-masing.
Karena itu, membacanya dapat ditempatkan sebagai bentuk membaca Al-Qur’an sekaligus berdoa kepada Allah SWT, bukan sebagai ritual wajib yang ditetapkan khusus untuk Rebo Wekasan.
Apa Itu 7 Ayat Salamun?
Istilah 7 Ayat Salamun merujuk pada tujuh bagian ayat Al-Qur’an yang memuat lafaz salam atau ungkapan yang berkaitan dengan keselamatan dan kedamaian.
Dalam tradisi sebagian masyarakat, ayat-ayat tersebut kemudian dikumpulkan dan dibaca ketika Rebo Wekasan sebagai bentuk ikhtiar spiritual.
Meski demikian, masing-masing ayat tetap memiliki konteks dan pesan tersendiri dalam Al-Qur’an.
Ada ayat yang menggambarkan salam Allah SWT kepada penghuni surga, salam kepada para nabi, sambutan para malaikat kepada orang-orang bertakwa, hingga gambaran kedamaian pada malam Lailatul Qadar.
Karena itu, membaca tujuh ayat tersebut sebaiknya tidak hanya dilakukan dengan memperhatikan lafaznya, tetapi juga memahami pesan yang terkandung di dalamnya.
- Surat Yasin Ayat 58
Ayat pertama yang dikenal dalam rangkaian 7 Ayat Salamun terdapat dalam Surat Yasin ayat 58.
سَلَـٰمٌۭ قَوْلًۭا مِّن رَّبٍّۢ رَّحِيمٍۢ
Latin: Salāmun qawlam mir rabbir-raḥīm.
Artinya: “Salam sejahtera sebagai ucapan dari Tuhan Yang Maha Penyayang.”
Ayat ini menggambarkan ucapan salam dari Allah SWT kepada para penghuni surga.
Mereka tidak hanya memperoleh berbagai kenikmatan, tetapi juga mendapatkan penghormatan berupa salam dari Tuhan Yang Maha Penyayang.
Kata salam dalam ayat tersebut berkaitan dengan kedamaian, keselamatan, dan penghormatan.
Dalam konteks tradisi Rebo Wekasan, kandungan ayat ini kemudian dapat direnungkan sebagai pengingat bahwa keselamatan dan kedamaian pada akhirnya berasal dari Allah SWT.
- Surat As-Saffat Ayat 79-80
Ayat berikutnya terdapat dalam Surat As-Saffat ayat 79-80 yang berkaitan dengan Nabi Nuh AS.
سَلَـٰمٌ عَلَىٰ نُوحٍۢ فِى ٱلْعَـٰلَمِينَ • إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ
Latin: Salāmun ‘alā Nūḥin fil-‘ālamīn. Innā kadhālika najzil-muḥsinīn.
Artinya: “Kesejahteraan Kami limpahkan atas Nuh di semesta alam. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Ayat ini menunjukkan penghormatan Allah SWT kepada Nabi Nuh AS atas perjuangan dan kebaikan beliau.
Bagian berikutnya juga menegaskan bahwa Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Pesan tersebut membuat ayat ini tidak hanya berkaitan dengan keselamatan, tetapi juga mengingatkan manusia agar tetap teguh dalam menjalankan kebaikan.
- Surat As-Saffat Ayat 109-110
Selanjutnya terdapat Surat As-Saffat ayat 109-110 yang berkaitan dengan Nabi Ibrahim AS.
سَلَـٰمٌ عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ • كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ
Latin: Salāmun ‘alā Ibrāhīm. Kadhālika najzil-muḥsinīn.
Artinya: “Salam sejahtera atas Ibrahim. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Nabi Ibrahim AS merupakan sosok yang dikenal teguh mempertahankan tauhid meskipun menghadapi berbagai ujian.
Salam yang disebutkan dalam ayat tersebut menjadi bentuk penghormatan Allah SWT kepada beliau.
Kandungan tersebut dapat menjadi renungan bahwa permohonan keselamatan juga perlu disertai usaha untuk tetap berada dalam keimanan dan kebaikan.
- Surat As-Saffat Ayat 120-121
Ayat Salamun keempat terdapat dalam Surat As-Saffat ayat 120-121 dan berkaitan dengan Nabi Musa AS serta Nabi Harun AS.
سَلَـٰمٌ عَلَىٰ مُوسَىٰ وَهَـٰرُونَ • إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ
Latin: Salāmun ‘alā Mūsā wa Hārūn. Innā kadhālika najzil-muḥsinīn.
Artinya: “Salam sejahtera atas Musa dan Harun. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Kedua nabi tersebut menghadapi tantangan berat ketika menjalankan tugas kenabian, termasuk menghadapi kekuasaan Firaun.
Ayat ini menjadi gambaran penghormatan serta balasan Allah atas perjuangan mereka.
Dari ayat tersebut, masyarakat dapat mengambil pelajaran mengenai kesabaran, keteguhan, dan keberanian dalam menghadapi ujian.
- Surat As-Saffat Ayat 130-131
Ayat kelima masih berada dalam Surat As-Saffat, yakni ayat 130-131 yang berkaitan dengan Nabi Ilyas AS.
سَلَـٰمٌ عَلَىٰٓ إِلْ يَاسِينَ • إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ
Latin: Salāmun ‘alā Ilyāsīn. Innā kadhālika najzil-muḥsinīn.
Artinya: “Salam sejahtera atas Ilyas (dan kaumnya). Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Nabi Ilyas AS dikenal menyeru kaumnya agar kembali menyembah Allah SWT dan meninggalkan penyembahan terhadap berhala.
Seperti ayat-ayat sebelumnya, bagian ini juga memperlihatkan hubungan antara salam, penghormatan, dan balasan atas kebaikan.
Karena itu, ayat ini dapat menjadi pengingat agar seseorang tetap berada di jalan kebaikan ketika membacanya sebagai bagian dari tradisi.
- Surat Az-Zumar Ayat 73
Ayat keenam terdapat dalam Surat Az-Zumar ayat 73. Ayat ini menggambarkan keadaan orang-orang bertakwa ketika memasuki surga.
وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ رَبَّهُمْ إِلَى ٱلْجَنَّةِ زُمَرًا … سَلَـٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَٱدْخُلُوهَا خَـٰلِدِينَ
Latin: Wa sīqal-ladhīnat-taqaw rabbahum ilal-jannati zumaran…
Artinya: “Salam sejahtera atasmu, berbahagialah kamu. Maka masuklah ke dalamnya untuk tinggal selama-lamanya.”
Ayat ini menggambarkan akhir perjalanan orang-orang bertakwa. Setelah melewati kehidupan dunia, mereka memperoleh sambutan penuh kedamaian ketika memasuki surga.
Ungkapan salaamun ‘alaikum yang disampaikan para penjaga surga menjadi gambaran tentang keselamatan dan ketenteraman yang sempurna.
- Surat Al-Qadr Ayat 5
Ayat terakhir dalam rangkaian 7 Ayat Salamun adalah Surat Al-Qadr ayat 5.
سَلَـٰمٌ هِىَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ ٱلْفَجْرِ
Latin: Salāmun hiya ḥattā maṭla’il-fajr.
Artinya: “Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar.”
Ayat ini berbicara mengenai Lailatul Qadar, malam yang memiliki kedudukan istimewa dalam bulan Ramadan.
Ayat tersebut menggambarkan suasana penuh kedamaian hingga terbitnya fajar.
Konteksnya berbeda dari beberapa ayat sebelumnya. Jika ayat lain menggambarkan salam kepada para nabi atau orang-orang bertakwa, Surat Al-Qadr ayat 5 menggambarkan keadaan malam Lailatul Qadar.
Karena itu, penggunaannya dalam tradisi Rebo Wekasan tidak mengubah konteks asli ayat tersebut dalam Al-Qur’an.
Memahami 7 Ayat Salamun dengan Bijak
Ketujuh ayat tersebut memiliki konteks yang berbeda-beda, tetapi semuanya memuat lafaz atau makna yang berkaitan dengan salam, keselamatan, dan kedamaian.
Dalam tradisi sebagian masyarakat, ayat-ayat itu kemudian dihimpun dan dibaca ketika Rebo Wekasan sebagai bagian dari doa dan ikhtiar spiritual.
Pada dasarnya, membaca Al-Qur’an merupakan amalan yang baik.
Namun, penting untuk tidak menganggap tujuh ayat tersebut sebagai rangkaian ibadah khusus yang diwajibkan atau diperintahkan secara spesifik untuk Rebo Wekasan.
Dengan memahami konteks masing-masing ayat, pembacaan 7 Ayat Salamun dapat menjadi kesempatan untuk merenungkan pesan tentang keselamatan, kedamaian, keteguhan iman, dan kebaikan.
Rebo Wekasan sendiri dapat menjadi momentum bagi sebagian masyarakat untuk memperbanyak doa, dzikir, membaca Al-Qur’an, bersedekah, serta melakukan berbagai kegiatan positif.
Yang paling utama, permohonan keselamatan tetap ditujukan kepada Allah SWT.
Sementara 7 Ayat Salamun dapat ditempatkan sebagai bagian dari ikhtiar membaca ayat-ayat Al-Qur’an dan mengambil hikmah dari kandungannya. (kangtop)










