Mbah Maimoen Pernah Jelaskan Rebo Wekasan, Ini Makna dan Amalan yang Perlu Dipahami

Religi52 Dilihat

KONCOdewe.com – Rebo Wekasan menjadi salah satu tradisi keagamaan yang masih dikenal dan dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Muslim di Indonesia, khususnya di tanah Jawa.

Tradisi ini berkaitan dengan Rabu terakhir pada bulan Safar dalam kalender Hijriyah.

Dalam pemahaman yang berkembang di tengah masyarakat secara turun-temurun, Rebo Wekasan kerap dikaitkan dengan waktu yang dianggap memiliki potensi datangnya berbagai ujian, cobaan, maupun bala.

Karena itu, sebagian umat Islam mengisinya dengan memperbanyak doa, dzikir, pengajian, serta melaksanakan shalat sunnah sebagai bentuk ikhtiar untuk memohon keselamatan kepada Allah SWT.

Salah satu ulama yang pernah memberikan penjelasan mengenai Rebo Wekasan adalah KH Maimoen Zubair atau yang akrab disapa Mbah Maimoen.

Dalam sejumlah pengajian dan ceramahnya, beliau menguraikan berbagai hal mengenai tradisi tersebut.

Mulai dari asal-usul penyebutan Rebo Wekasan, kaitannya dengan bulan Safar, hingga bentuk ibadah yang dapat dilakukan.

Mengapa Disebut Rebo Wekasan?

Penamaan Rebo Wekasan tidak hanya berkaitan dengan hari Rabu dan posisi waktunya sebagai Rabu terakhir pada bulan Safar.

Dalam penjelasan Mbah Maimoen, istilah tersebut juga dikaitkan dengan proses penciptaan bumi.

Beliau menjelaskan bahwa dalam pemahaman yang disampaikan dalam pengajian, penciptaan bumi berlangsung dalam rentang empat hari, yakni mulai Ahad hingga Rabu.

Karena Rabu menjadi hari terakhir dalam rangkaian tersebut, muncullah istilah wekasan yang memiliki makna penutup atau penghabisan.

Dari pemaknaan inilah Rabu kemudian mendapatkan posisi tersendiri dalam tradisi Rebo Wekasan.

Sebagian ulama tasawuf juga mengaitkan Rabu terakhir bulan Safar dengan waktu yang diyakini sebagai turunnya berbagai ujian dan cobaan.

Pandangan tersebut kemudian mendorong masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan secara spiritual.

Bukan dalam bentuk ketakutan berlebihan, melainkan dengan memperbanyak doa dan mengingat Allah SWT.

Dalam salah satu penjelasannya yang dikutip dari kanal YouTube Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang.

Mbah Maimoen menerangkan bahwa Rabu berkaitan dengan bagian akhir proses penciptaan bumi dan menjadi waktu untuk memperbanyak doa.

Ia juga menyebut adanya pandangan sebagian ulama ahlu kasyaf mengenai bala dan cobaan pada waktu tersebut.

Hubungan Rebo Wekasan dengan Bulan Safar

Pembahasan mengenai Rebo Wekasan tentu tidak bisa dilepaskan dari bulan Safar.

Dalam tradisi masyarakat Muslim Nusantara, bulan ini memiliki sejarah panjang dalam berbagai praktik keagamaan dan kebudayaan.

Mbah Maimoen dalam penjelasannya turut menguraikan makna kata Safar.

Menurut beliau, Safar dalam bahasa Arab dapat dimaknai sebagai kuning. Warna kuning kemudian dikaitkan dengan kondisi pucat atau sesuatu yang terlihat kosong.

BACA:  Jangan Sampai Terlewat! Manfaat Shalat Asar Ternyata Lebih Besar dari yang Dibayangkan

Pemaknaan tersebut oleh beliau dihubungkan dengan gambaran bumi pada masa penciptaannya yang masih dalam keadaan kosong.

Dari sinilah muncul penjelasan mengenai keterkaitan antara bulan Safar dengan penciptaan bumi.

Dalam tradisi masyarakat, pemahaman mengenai bulan Safar kemudian berkembang dalam berbagai bentuk.

Salah satunya adalah anjuran untuk memperbanyak doa dan memohon perlindungan kepada Allah SWT.

Dengan demikian, Rebo Wekasan tidak semata-mata dipandang sebagai sebuah tanggal dalam kalender Hijriyah.

Bagi masyarakat yang menjalankannya, hari tersebut menjadi kesempatan untuk meningkatkan ibadah dan mengingat bahwa segala sesuatu yang terjadi tetap berada dalam kehendak Allah SWT.

Shalat Sunnah yang Dikaitkan dengan Rebo Wekasan

Salah satu amalan yang sering dibicarakan ketika membahas Rebo Wekasan adalah shalat sunnah empat rakaat dengan bacaan tertentu.

Namun, terdapat hal penting yang perlu diperhatikan. Shalat tersebut tidak diniatkan sebagai shalat khusus Rebo Wekasan, melainkan dilaksanakan dengan niat shalat sunnah mutlak.

Dalam penjelasan yang dinisbatkan kepada Mbah Maimoen, pelaksanaannya dilakukan dalam dua kali salam.

Pada dua rakaat pertama, setelah membaca Al-Fatihah, terdapat bacaan surat-surat tertentu dengan jumlah pengulangan yang telah dijelaskan.

Pada setiap rakaat, bacaan tersebut meliputi Surat Al-Kautsar sebanyak 17 kali, Surat Al-Ikhlas lima kali, kemudian Surat Al-Falaq dan An-Nas masing-masing satu kali.

Setelah menyelesaikan dua rakaat dan mengucapkan salam, shalat kemudian dilanjutkan kembali dua rakaat dengan pola bacaan yang sama sehingga keseluruhannya berjumlah empat rakaat.

Sesudah shalat selesai, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa dan memohon keselamatan kepada Allah SWT dari berbagai bentuk bala, musibah, maupun perkara yang tidak diinginkan.

Dalam kitab Kanz al-Najah wa al-Surur, sebagaimana penjelasan yang berkembang dalam tradisi tersebut, shalat ini ditempatkan sebagai shalat sunnah mutlak.

Artinya, pelaksanaannya tidak diposisikan sebagai ibadah wajib atau shalat khusus yang ditetapkan secara tersendiri oleh syariat.

Rebo Wekasan Lebih dari Sekadar Ritual

Bagi Mbah Maimoen, pelaksanaan Rebo Wekasan lebih tepat ditempatkan sebagai bentuk ikhtiar spiritual.

Umat Islam dapat menjadikan momentum tersebut untuk memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, berdoa, serta melaksanakan shalat sunnah.

Hal terpenting bukan sekadar pelaksanaan ritualnya, tetapi bagaimana seseorang semakin menyadari kedudukannya sebagai hamba Allah SWT.

Manusia pada dasarnya tidak memiliki kuasa mutlak untuk menentukan keselamatan dan terhindar dari musibah.

Karena itu, doa dan ibadah menjadi salah satu bentuk usaha batin untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

BACA:  Jangan Salah Paham, Marah dan Iri Ternyata Punya Hikmah Besar jika Dikelola Sesuai Tuntunan Islam

Dengan cara pandang tersebut, Rebo Wekasan dapat dimaknai sebagai momentum untuk melakukan introspeksi.

Masyarakat tidak hanya berkumpul dan menjalankan tradisi, tetapi juga mengingat kembali pentingnya berserah diri kepada Allah SWT.

Tradisi yang Masih Hidup di Tengah Masyarakat Jawa

Hingga sekarang, pelaksanaan Rebo Wekasan masih dapat ditemukan di berbagai daerah, terutama di Jawa.

Di sejumlah tempat, masyarakat menggelar doa bersama, pengajian, dzikir, maupun kegiatan keagamaan lainnya.

Masjid dan pesantren menjadi salah satu tempat yang kerap digunakan untuk menjalankan kegiatan tersebut.

Tidak sedikit pula masyarakat yang melaksanakannya secara sederhana bersama keluarga masing-masing.

Keberadaan tradisi ini memperlihatkan bagaimana praktik keagamaan berkembang dan berinteraksi dengan budaya lokal.

Rebo Wekasan tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga membawa nilai sosial karena menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkumpul dan mempererat hubungan antarsesama.

Doa bersama dan pengajian yang digelar dalam rangka Rebo Wekasan juga dapat menjadi sarana memperkuat silaturahmi.

Masyarakat mendapatkan kesempatan untuk saling bertemu, berbagi nasihat, serta mengingatkan satu sama lain mengenai pentingnya mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Memahami Rebo Wekasan dengan Bijak

Penjelasan Mbah Maimoen Zubair mengenai Rebo Wekasan memberikan gambaran bahwa tradisi tersebut memiliki sejarah dan pemaknaan yang cukup panjang dalam kehidupan masyarakat Muslim, khususnya di Jawa.

Mulai dari penyebutan wekasan yang dimaknai sebagai penutup, keterkaitannya dengan penciptaan bumi, hingga hubungan dengan bulan Safar.

Semuanya menjadi bagian dari khazanah pemahaman keagamaan yang berkembang di masyarakat.

Demikian pula dengan shalat empat rakaat yang sering dikaitkan dengan Rebo Wekasan.

Pelaksanaannya dipahami sebagai shalat sunnah mutlak, bukan sebagai kewajiban maupun shalat khusus yang harus dilakukan oleh seluruh umat Islam.

Pada akhirnya, Rebo Wekasan dapat menjadi momentum untuk memperbanyak doa, dzikir, ibadah, dan introspeksi diri.

Tradisi ini juga menjadi salah satu gambaran bagaimana nilai-nilai keislaman tumbuh berdampingan dengan kearifan lokal di Nusantara.

Yang paling utama adalah menempatkan segala bentuk ikhtiar tersebut dalam keyakinan bahwa perlindungan, keselamatan, dan segala ketentuan kehidupan berada dalam kehendak Allah SWT.

Dengan pemahaman tersebut, Rebo Wekasan tidak hanya menjadi tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Tetapi juga dapat menjadi pengingat agar manusia semakin dekat kepada Sang Pencipta. (kangtop)