KONCOdewe.com – Kehidupan satwa liar selalu menyimpan banyak misteri yang hingga kini masih mengundang rasa penasaran.
Di balik perilaku hewan yang tampak sederhana, tersimpan naluri luar biasa yang membuat mereka mampu bertahan hidup, mencari makan, menghindari bahaya, hingga menghadapi kematian.
Semua itu berlangsung tanpa proses belajar sebagaimana manusia, melainkan melalui insting yang telah tertanam sejak mereka dilahirkan.
Dalam pandangan Islam, setiap makhluk hidup telah dibekali petunjuk sesuai dengan tugas dan kebutuhannya.
Allah SWT memberikan kemampuan kepada seluruh ciptaan-Nya agar dapat menjalani kehidupan dengan seimbang sesuai ketetapan-Nya.
Allah SWT berfirman: “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.” (QS. Thaha: 50)
Sementara itu, dalam firman-Nya yang lain disebutkan: “Dan tidak ada seekor binatang pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud: 6)
Ayat-ayat tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan seluruh makhluk berada dalam pengaturan Allah SWT, termasuk naluri yang dimiliki hewan untuk menjalani siklus hidup hingga akhir hayatnya.
Naluri Menyendiri Saat Ajal Mendekat
Salah satu fenomena alam yang sering luput dari perhatian adalah sangat jarangnya manusia menemukan bangkai hewan liar di habitat aslinya.
Padahal, setiap hari ada satwa yang lahir dan mati di hutan, pegunungan, padang rumput, hingga gurun.
Meski demikian, jasad mereka hampir tidak pernah terlihat begitu saja di tempat terbuka.
Banyak pengamat satwa meyakini bahwa sebagian besar hewan memiliki kecenderungan untuk menjauh dari kelompoknya ketika merasakan kondisi tubuhnya melemah atau ajal mulai mendekat.
Mereka biasanya mencari lokasi yang sunyi, seperti balik semak-semak, celah bebatuan, lubang, maupun tempat tersembunyi lainnya.
Di lokasi itulah mereka menghabiskan sisa hidupnya.
Perilaku tersebut bukan hasil pemikiran rasional, melainkan bagian dari naluri alami yang dimiliki hewan.
Dengan cara itu, bangkai tidak mudah terlihat dan secara tidak langsung membantu menjaga kebersihan habitat serta mendukung berlangsungnya siklus alam.
Bayangkan apabila seluruh hewan mati di area terbuka. Hutan, sabana, maupun padang pasir tentu akan dipenuhi bangkai yang mengganggu keseimbangan lingkungan.
Namun kenyataannya, alam tetap berjalan harmonis karena setiap makhluk memiliki perannya masing-masing dalam ekosistem.
Alam Memiliki Mekanisme yang Teratur
Di berbagai penjuru dunia, jutaan satwa hidup berdampingan.
Singa, harimau, serigala, rusa, kambing gunung, burung, reptil, hingga hewan laut terus mengalami siklus kelahiran dan kematian setiap hari.
Jumlah mereka bahkan diperkirakan jauh lebih banyak dibandingkan populasi manusia.
Meski demikian, manusia sangat jarang menyaksikan jasad hewan-hewan tersebut di alam liar.
Selain karena naluri untuk mencari tempat tersembunyi menjelang kematian, bangkai yang ada juga menjadi bagian dari rantai makanan serta akan diuraikan oleh berbagai organisme pengurai.
Dengan demikian, keseimbangan ekosistem tetap terjaga.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa alam memiliki sistem yang sangat teratur.
Setiap makhluk menjalankan fungsinya sesuai ketentuan yang telah ditetapkan, sehingga kehidupan terus berlangsung secara berkesinambungan.
Naluri Menghindari Bahaya
Keajaiban insting hewan juga terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Hewan ternak seperti sapi, kambing, kuda, maupun domba mampu berjalan melewati berbagai medan tanpa harus diajarkan mengenai bahaya jurang, tembok, ataupun rintangan lain.
Ketika menghadapi ancaman, mereka secara spontan memilih menghindar.
Respons tersebut muncul bukan karena memahami teori keselamatan, melainkan karena naluri yang telah Allah tanamkan dalam diri mereka.
Insting inilah yang membantu hewan bertahan hidup sejak lahir.
Mereka dapat mencari makanan, mengenali predator, melindungi anak-anaknya, hingga menentukan arah perpindahan tanpa memerlukan proses pendidikan sebagaimana manusia.
Pelajaran bagi Manusia
Keberadaan naluri pada hewan menjadi salah satu tanda kebesaran Allah SWT.
Jika makhluk yang tidak dibekali akal mampu menjalankan kehidupannya dengan tertib melalui insting yang telah ditentukan, maka manusia yang dianugerahi akal, ilmu, dan hati nurani semestinya mampu menjalani kehidupan dengan tanggung jawab yang lebih besar.
Manusia tidak hanya dituntut menjaga keselamatan dirinya, tetapi juga memelihara lingkungan, menghormati makhluk hidup lainnya, serta menjaga keseimbangan alam yang telah diciptakan Allah SWT.
Melalui fenomena hewan yang menyendiri menjelang kematian maupun kemampuan mereka menghindari bahaya, terdapat pelajaran bahwa seluruh makhluk hidup bergerak dalam aturan yang telah ditetapkan Sang Pencipta.
Semua berjalan sesuai sunnatullah, menjadi bukti bahwa alam semesta bekerja dengan keteraturan, keseimbangan, dan hikmah yang luar biasa. (kangtop)










