Jangan Sampai Sibuk Seumur Hidup Tanpa Arah, Begini Cara Menentukan Visi Kehidupan

Religi45 Dilihat

KONCOdewe.com – Hidup bukan sekadar perjalanan dari hari ke hari. Di balik setiap aktivitas, pekerjaan, dan keputusan yang kita ambil, semestinya ada tujuan yang ingin dicapai.

Manusia perlu memahami untuk apa dirinya hidup, ke mana arah kehidupannya, serta bagaimana memanfaatkan waktu yang dimiliki agar tidak berlalu tanpa makna.

Dalam kehidupan, kita mengenal istilah visi dan misi.

Keduanya menjadi bagian penting dalam merancang masa depan sekaligus menentukan langkah yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan.

Visi memberikan gambaran tentang arah yang hendak dituju, sedangkan misi menjelaskan berbagai usaha yang ditempuh untuk mewujudkan tujuan tersebut.

Namun, bagi seorang Muslim, pembahasan mengenai visi dan misi tidak cukup berhenti pada keberhasilan karier, kepemilikan harta, jabatan, atau pencapaian duniawi.

Ada pertanyaan yang lebih mendasar untuk direnungkan: apakah kehidupan yang sedang dijalani sudah sesuai dengan tujuan penciptaan manusia?

Pertanyaan inilah yang perlu menjadi titik awal dalam memahami arti hidup dan kehidupan.

Visi Hidup, Menentukan Arah Perjalanan

Secara sederhana, visi dapat dipahami sebagai gambaran mengenai keadaan masa depan yang ingin diwujudkan.

Visi membantu seseorang menentukan arah, menyusun prioritas, dan memilih tindakan yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.

Dalam pengertian bahasa, visi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan melihat sesuatu secara nyata.

Tetapi juga mencakup wawasan ke depan, ketajaman memahami persoalan, serta kemampuan membayangkan kemungkinan yang belum terwujud.

Visi menjadi penting karena kehidupan terus bergerak. Waktu berjalan, usia bertambah, kesempatan datang dan pergi, sementara setiap pilihan membawa konsekuensi tersendiri.

Tanpa arah yang jelas, seseorang dapat menghabiskan banyak tenaga untuk melakukan berbagai hal, tetapi tidak benar-benar mendekatkannya kepada tujuan yang bermakna.

Bayangkan seseorang mengendarai mobil tanpa mengetahui tempat yang hendak dituju.

Ia terus menyalakan mesin, menekan pedal gas, menghabiskan bahan bakar, dan menempuh perjalanan panjang.

Akan tetapi, karena tidak memiliki tujuan, ia hanya berputar-putar tanpa kepastian.

Keadaan seperti itu bisa terjadi dalam kehidupan manusia.

Setiap hari sibuk bekerja, mengejar target, memenuhi kebutuhan, dan menyelesaikan berbagai urusan.

Namun, ketika ditanya apa tujuan besar dari semua kesibukan tersebut, jawabannya belum tentu jelas.

Waktu telah berlalu, tenaga terkuras, usia terus bertambah, tetapi arah kehidupan belum tentu semakin mendekati tujuan yang sebenarnya.

Karena itu, visi perlu menjadi semacam kompas yang memandu perjalanan hidup.

Visi membantu seseorang menjawab pertanyaan sederhana tetapi mendasar: Saya ingin menjadi pribadi seperti apa? Kehidupan seperti apa yang ingin saya bangun? Dan untuk tujuan apa semua usaha ini dilakukan?

Bagi seorang Muslim, pertanyaan tersebut perlu dilanjutkan dengan pertanyaan yang lebih dalam: apakah tujuan itu membawa dirinya semakin dekat kepada rida Allah SWT?

Memahami Hidup dan Tujuan Penciptaan Manusia

Ketika berbicara tentang visi kehidupan, kita tidak bisa hanya melihat manusia dari sisi pekerjaan, kebutuhan ekonomi, dan cita-cita pribadi.

Kehidupan juga berkaitan dengan hubungan manusia kepada Allah SWT, hubungan dengan sesama, serta tanggung jawab terhadap segala sesuatu yang telah dipercayakan kepadanya.

Dalam perspektif Islam, manusia tidak hadir di dunia tanpa tujuan.

Al-Qur’an memberikan penjelasan mengenai tujuan penciptaan jin dan manusia melalui firman Allah SWT dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 56:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

Ayat tersebut memberikan landasan penting dalam memahami arah kehidupan seorang Muslim.

Ibadah bukan sekadar kegiatan ritual yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu, melainkan orientasi penghambaan kepada Allah yang semestinya memengaruhi seluruh kehidupan.

Salat, puasa, zakat, dan berbagai bentuk ibadah lainnya merupakan bagian dari penghambaan tersebut.

Di sisi lain, bekerja dengan jujur, mencari nafkah halal, menjaga amanah, membantu orang lain, serta menghindari perbuatan zalim juga dapat bernilai ibadah apabila dilakukan sesuai tuntunan agama dan disertai niat yang benar.

Dengan demikian, tujuan utama kehidupan seorang Muslim bukan semata-mata ditentukan oleh keinginan pribadi. Tujuan tersebut perlu diselaraskan dengan petunjuk Allah SWT.

Manusia memang memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan dalam menjalani kehidupan, tetapi kebebasan itu bukan berarti semua keinginan harus diikuti. Ada batasan, tanggung jawab, dan nilai-nilai yang harus dijaga.

Di sinilah pentingnya memahami perbedaan antara tujuan hidup yang berlandaskan penghambaan kepada Allah dan keinginan pribadi yang hanya mengikuti hawa nafsu.

Visi Utama Seorang Muslim adalah Meraih Rida Allah

Setiap orang dapat memiliki gambaran masa depan yang berbeda.

Ada yang ingin menjadi pengusaha, guru, petani, dokter, wartawan, pemimpin, atau profesional dalam bidang tertentu.

Ada pula yang bercita-cita membangun keluarga yang harmonis, mendidik anak menjadi pribadi berakhlak, atau memberikan manfaat bagi masyarakat.

Semua cita-cita tersebut dapat menjadi bagian dari perjalanan hidup yang baik selama tidak bertentangan dengan ajaran agama dan diarahkan kepada tujuan yang benar.

Dalam kerangka kehidupan seorang Muslim, berbagai cita-cita itu bukanlah tujuan tertinggi.

Semuanya merupakan bagian dari ikhtiar untuk menjalankan amanah kehidupan dan menggapai rida Allah SWT.

Artinya, seseorang boleh memiliki impian besar dalam urusan dunia.

Ia boleh membangun usaha, mengembangkan karier, memperbaiki keadaan ekonomi, dan berusaha mencapai kehidupan yang lebih sejahtera.

Namun, keberhasilan tersebut tidak seharusnya membuatnya melupakan tujuan penghambaan kepada Allah.

Visi hidup yang demikian akan memberikan ukuran keberhasilan yang lebih luas.

Keberhasilan bukan hanya dinilai dari seberapa banyak harta yang terkumpul atau seberapa tinggi jabatan yang diraih.

Tetapi juga dari cara memperoleh pencapaian tersebut, manfaat yang dihasilkan, serta tanggung jawab yang dijalankan.

Seseorang mungkin memiliki kekayaan yang besar, tetapi apabila kekayaan itu diperoleh dengan menipu, merugikan orang lain, atau mengabaikan kewajiban, pencapaian tersebut tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan hidup.

Sebaliknya, orang yang bekerja dengan jujur, memenuhi tanggung jawab keluarga, menjaga ibadah, dan membantu sesama sedang membangun kehidupan yang memiliki nilai lebih dari sekadar keuntungan materi.

Misi Hidup: Jalan untuk Mewujudkan Visi

Jika visi menjelaskan arah dan tujuan, misi merupakan serangkaian langkah nyata untuk mendekati tujuan tersebut.

Visi tanpa misi hanya akan menjadi angan-angan. Sebaliknya, aktivitas tanpa visi berisiko membuat seseorang terus sibuk tanpa memahami makna dari kesibukannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, misi dapat diwujudkan melalui pekerjaan, pendidikan, usaha, kegiatan sosial, pengembangan kemampuan, serta berbagai tanggung jawab yang dijalankan seseorang.

BACA:  Jangan Tertipu Mitos! Begini Cara Menghilangkan Kesialan Menurut Islam yang Sesungguhnya

Setiap manusia memiliki potensi yang berbeda. Ada yang memiliki kemampuan berdagang, mengajar, menulis, bertani, mengelola organisasi, merawat orang lain, atau menciptakan karya.

Perbedaan potensi itu memungkinkan manusia mengambil peran yang beragam dalam kehidupan.

Perbedaan misi tersebut tidak menjadi masalah selama arah yang dituju tetap berada dalam koridor yang benar.

Seorang pedagang, misalnya, dapat menjalankan misinya dengan menyediakan barang yang dibutuhkan masyarakat, menjaga kualitas produk, menetapkan harga secara wajar, dan mencari keuntungan melalui cara yang halal.

Seorang guru dapat menjalankan misinya dengan menyampaikan ilmu, membimbing peserta didik, serta menanamkan nilai-nilai kebaikan.

Seorang jurnalis dapat menjalankan misinya dengan menyampaikan informasi secara akurat, berimbang, dan bertanggung jawab.

Begitu pula seorang petani yang menanam dan merawat tanaman untuk menghasilkan pangan.

Pekerjaannya tidak hanya berkaitan dengan pendapatan, tetapi juga berkontribusi terhadap kebutuhan hidup masyarakat.

Berbagai pekerjaan itu memiliki bentuk berbeda, tetapi semuanya dapat diarahkan pada tujuan yang lebih besar: menjalankan amanah, memberikan manfaat, dan beribadah kepada Allah SWT.

Sebaliknya, apabila suatu usaha dilakukan dengan cara yang bertentangan dengan nilai agama, seperti menipu, mengambil hak orang lain, atau sengaja merugikan sesama, maka keinginan untuk mencapai keberhasilan duniawi telah menyimpang dari tujuan yang semestinya.

Karena itu, misi bukan sekadar tentang apa yang dilakukan, tetapi juga menyangkut bagaimana cara melakukannya dan untuk tujuan apa hasilnya digunakan.

Ketika Misi Tidak Lagi Sejalan dengan Visi

Tidak sedikit orang yang awalnya memiliki niat baik, tetapi perlahan-lahan kehilangan arah karena terlalu mengejar hasil duniawi.

Pekerjaan yang semula dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga berubah menjadi perlombaan tanpa batas.

Keinginan untuk berkembang berubah menjadi ambisi menguasai. Usaha mencari rezeki bergeser menjadi keserakahan.

Keadaan tersebut mengingatkan kita bahwa aktivitas yang tampak produktif belum tentu membawa seseorang menuju tujuan yang benar.

Seseorang dapat bekerja sangat keras, memperoleh banyak uang, dan memiliki kedudukan tinggi.

Tetapi semua itu perlu dinilai bersama dengan cara yang ditempuh dan dampaknya terhadap orang lain.

Apabila demi keuntungan seseorang rela berbohong, mengabaikan keluarga, meninggalkan kewajiban, atau merampas hak orang lain, berarti ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam arah kehidupannya.

Misi seharusnya menjadi jalan untuk mewujudkan visi, bukan alasan untuk meninggalkan prinsip-prinsip yang mendasarinya.

Oleh karena itu, seorang Muslim perlu melakukan evaluasi secara berkala.

Apakah pekerjaan yang dijalani masih sesuai dengan nilai yang diyakini? Apakah cara mencari rezeki sudah benar? Apakah keberhasilan yang diperoleh memberikan manfaat?

Apakah kesibukan sehari-hari justru menjauhkan diri dari tanggung jawab kepada Allah dan sesama manusia?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi pengingat agar seseorang tidak sekadar bergerak, tetapi juga memastikan bahwa langkahnya berada pada arah yang tepat.

Jangan Menjadikan Kekayaan sebagai Satu-satunya Tujuan Hidup

Dalam masyarakat modern, keberhasilan sering kali diukur melalui kekayaan, jabatan, popularitas, dan kepemilikan berbagai fasilitas.

Ukuran tersebut memang mudah dilihat, sehingga tidak jarang menjadi standar yang digunakan untuk menilai kehidupan seseorang.

Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk hidup berkecukupan.

Harta diperlukan untuk memenuhi kebutuhan, membiayai pendidikan, menjaga kesehatan, membantu keluarga, serta mendukung berbagai kegiatan yang bermanfaat.

Namun, persoalan muncul ketika kekayaan dijadikan satu-satunya tujuan hidup.

Jika seseorang hanya mengejar harta tanpa mempertimbangkan nilai dan tanggung jawab, ia berisiko menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkannya.

Keuntungan pribadi dapat ditempatkan di atas kepentingan orang lain, sementara kejujuran dan kepedulian perlahan-lahan diabaikan.

Padahal, harta pada dasarnya merupakan sarana, bukan ukuran mutlak kemuliaan manusia.

Kekayaan dapat menjadi jalan kebaikan ketika diperoleh secara halal dan digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat.

Harta dapat membantu seseorang memenuhi kebutuhan keluarga, memberikan pekerjaan kepada orang lain, mendukung pendidikan, menolong orang yang kesulitan, dan menjalankan kewajiban sosial maupun agama.

Sebaliknya, kekayaan yang dikejar dengan keserakahan dapat menjadi sumber persoalan apabila membuat seseorang melupakan batasan dan tanggung jawab.

Karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya, “Bagaimana cara menjadi kaya?” tetapi juga, “Untuk apa kekayaan itu digunakan?

Bagaimana cara memperolehnya? Dan apakah keberadaannya membawa manfaat bagi kehidupan?”

Dengan cara pandang seperti ini, kekayaan tetap dapat diperjuangkan, tetapi ditempatkan secara proporsional sebagai sarana untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dan bermanfaat.

Doa Dunia dan Akhirat sebagai Panduan Visi Kehidupan

Islam mengajarkan keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat.

Seorang Muslim tidak diperintahkan mengabaikan kebutuhan dunia, tetapi juga tidak semestinya menjadikan urusan dunia sebagai satu-satunya pusat kehidupannya.

Salah satu doa yang menggambarkan keseimbangan tersebut terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 201:

“Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah wa qina ‘adzaban-nar.”

Artinya, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.”

Doa ini bukan hanya permohonan yang diucapkan dalam ibadah. Kandungannya juga dapat menjadi bahan renungan untuk menyusun arah kehidupan.

Kebaikan dunia dapat mencakup rezeki yang halal, kesehatan, ilmu yang bermanfaat, keluarga yang baik, pekerjaan yang layak, serta kesempatan untuk berbuat kebaikan.

Sementara itu, kebaikan akhirat berkaitan dengan keselamatan dan kebahagiaan di kehidupan setelah dunia, yang diupayakan melalui iman, ibadah, amal saleh, dan rahmat Allah SWT.

Dari sini, seseorang dapat mengevaluasi keseimbangan hidupnya.

Apakah kesibukan mencari nafkah tetap disertai dengan kewajiban beribadah? Apakah usaha meningkatkan kesejahteraan juga diikuti kepedulian terhadap sesama?

Apakah ilmu dan kemampuan yang dimiliki digunakan untuk kebaikan?

Pertanyaan tersebut bukan untuk membuat manusia merasa telah gagal, melainkan menjadi sarana memperbaiki diri secara bertahap.

Visi kehidupan yang baik bukan berarti seseorang harus meninggalkan dunia.

Justru kehidupan dunia dapat menjadi tempat untuk menanam amal, memperbaiki akhlak, memenuhi tanggung jawab, dan mempersiapkan kehidupan akhirat.

Visi Membentuk Karakter dan Cara Mengambil Keputusan

Visi yang diyakini secara mendalam akan memengaruhi cara seseorang memandang kehidupan.

Ia tidak hanya menentukan apa yang ingin dicapai, tetapi juga membentuk cara berpikir, mengelola perasaan, mengambil keputusan, dan bertindak ketika menghadapi persoalan.

Orang yang menjadikan rida Allah sebagai tujuan tertinggi akan berusaha mempertimbangkan nilai agama ketika memilih jalan hidup.

Ia tidak hanya bertanya apakah suatu tindakan menguntungkan, tetapi juga apakah tindakan itu benar, halal, adil, dan membawa manfaat.

Ketika menghadapi kesempatan memperoleh keuntungan besar melalui cara yang tidak jujur, visi hidup dapat menjadi pengingat untuk menolak jalan tersebut.

BACA:  Jangan Biarkan Rasa Takut Menguasai Hidup, Ini Cara Menumbuhkan Keberanian Menurut Islam

Ketika mengalami kegagalan, visi membantu seseorang melihat bahwa kegagalan bukan akhir dari seluruh perjalanan.

Ketika memperoleh keberhasilan, visi mengingatkannya agar tetap rendah hati dan tidak melupakan tanggung jawab.

Visi juga dapat membantu seseorang menyusun prioritas. Tidak semua hal yang terlihat menarik harus dikejar. Tidak semua kesempatan harus diambil.

Ada kalanya seseorang perlu menolak sesuatu karena bertentangan dengan prinsip yang lebih penting.

Dengan demikian, visi berfungsi sebagai pedoman untuk menjaga konsistensi antara keyakinan dan tindakan.

Tentu, memiliki visi tidak menjamin perjalanan hidup selalu mudah. Hambatan, keterbatasan, dan perubahan keadaan tetap dapat terjadi.

Namun, tujuan yang jelas membantu seseorang menentukan langkah berikutnya dan menilai kembali cara yang digunakan ketika menghadapi kesulitan.

Impian Harus Tinggi, tetapi Tetap Realistis

Memiliki visi yang besar bukan berarti mengabaikan kenyataan.

Cita-cita perlu cukup tinggi untuk mendorong pertumbuhan diri, tetapi juga harus diterjemahkan menjadi langkah yang dapat dikerjakan.

Seseorang boleh bercita-cita membangun usaha yang berkembang, menyebarkan ilmu secara luas, membantu masyarakat, atau menjadi pribadi yang lebih baik.

Namun, semua itu membutuhkan perencanaan, kemampuan, waktu, dan kesediaan untuk terus belajar.

Visi besar perlu diikuti sasaran yang jelas. Sasaran tersebut kemudian diterjemahkan menjadi tindakan harian, mingguan, bulanan, dan tahunan sesuai kebutuhan.

Misalnya, seseorang ingin membangun usaha yang bermanfaat dan memberikan lapangan pekerjaan.

Ia perlu memulai dengan mempelajari kebutuhan pasar, meningkatkan keterampilan, menghitung modal, menjaga kualitas produk, serta membangun hubungan yang baik dengan pelanggan dan pekerja.

Jika ingin menjadi pribadi yang lebih dekat kepada Allah, ia juga perlu menyusun langkah nyata.

Seperti memperbaiki kualitas salat, menjaga kejujuran, memperbanyak amal saleh, mempelajari agama, dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

Tujuan yang besar akan lebih mudah didekati ketika diterjemahkan menjadi kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Karena itu, visi sebaiknya tidak berhenti sebagai kalimat indah yang ditulis di atas kertas.

Visi perlu hadir dalam keputusan sehari-hari dan terlihat melalui perubahan perilaku.

Merencanakan Kehidupan dengan Kesadaran akan Hari Esok

Al-Qur’an mengingatkan manusia agar memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk masa depan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hasyr ayat 18:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Ayat tersebut mengandung ajakan untuk melakukan introspeksi dan memikirkan konsekuensi dari tindakan yang dilakukan hari ini.

Dalam konteks kehidupan, seseorang tidak cukup hanya menjalani rutinitas tanpa mengevaluasi arah dan hasilnya.

Perencanaan dapat dimulai dengan melihat beberapa aspek penting, seperti ibadah, keluarga, pekerjaan, kesehatan, pengembangan ilmu, kondisi ekonomi, dan kontribusi sosial.

Pada aspek keluarga, seseorang dapat memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan sekaligus menyediakan waktu dan perhatian bagi orang-orang terdekat.

Dalam pekerjaan, ia dapat menyusun target yang realistis tanpa mengorbankan kejujuran dan kewajiban.

Dalam kehidupan sosial, ia dapat mencari cara untuk menggunakan kemampuan yang dimiliki demi membantu orang lain.

Pada aspek akhirat, ia perlu terus memperbaiki iman, ibadah, akhlak, dan tanggung jawabnya.

Perencanaan semacam ini membantu seseorang menjalani kehidupan secara lebih seimbang.

Ia tidak hanya mengejar satu keberhasilan dengan mengorbankan seluruh aspek lainnya, tetapi berusaha menempatkan setiap urusan sesuai porsinya.

Menyelaraskan Visi, Misi, dan Tindakan Sehari-hari

Setelah memahami tujuan hidup, langkah berikutnya adalah memastikan bahwa misi dan tindakan sehari-hari berjalan searah dengan visi tersebut.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membangun keselarasan itu.

Pertama, menetapkan tujuan utama yang berlandaskan nilai-nilai agama.

Bagi seorang Muslim, rida Allah dan kehidupan akhirat perlu menjadi orientasi tertinggi.

Kedua, mengenali potensi dan tanggung jawab diri.

Setiap orang memiliki kemampuan, kondisi, dan amanah yang berbeda. Potensi tersebut perlu dikembangkan agar dapat memberikan manfaat secara optimal.

Ketiga, menyusun sasaran yang terukur.

Tujuan besar perlu diterjemahkan menjadi langkah konkret sehingga kemajuan dapat dievaluasi.

Keempat, menjaga cara yang ditempuh.

Keinginan untuk berhasil tidak boleh menjadi alasan untuk melakukan kecurangan, mengabaikan kewajiban, atau merugikan orang lain.

Kelima, melakukan evaluasi secara berkala.

Ketika suatu langkah tidak berjalan sesuai harapan, perencanaan dapat diperbaiki tanpa harus kehilangan tujuan utama.

Keenam, menjaga keseimbangan.

Pekerjaan, keluarga, kesehatan, hubungan sosial, dan ibadah perlu mendapatkan perhatian sesuai tanggung jawab masing-masing.

Dengan langkah-langkah tersebut, visi tidak hanya menjadi gambaran tentang masa depan, tetapi juga menjadi pedoman dalam menentukan tindakan pada masa sekarang.

Hidup Bukan Sekadar Mencapai, tetapi Juga Mempertanggungjawabkan

Hidup dan kehidupan tidak hanya berbicara tentang seberapa jauh seseorang melangkah atau seberapa banyak pencapaian yang berhasil dikumpulkan.

Kehidupan juga menyangkut bagaimana perjalanan itu dijalani, siapa saja yang memperoleh manfaat, dan bagaimana manusia mempertanggungjawabkan amanah yang diberikan kepadanya.

Waktu yang tersedia terbatas. Setiap hari yang berlalu tidak dapat diulang, sedangkan kesempatan untuk berbuat baik perlu dimanfaatkan selagi masih ada.

Karena itu, manusia perlu memiliki visi yang jelas, misi yang sesuai, dan tindakan yang nyata.

Visi memberikan arah, misi menjadi jalan, sedangkan tindakan membuktikan kesungguhan dalam menempuh perjalanan.

Bagi seorang Muslim, semua itu perlu berpijak pada kesadaran bahwa kehidupan dunia bersifat sementara.

Sedangkan kehidupan akhirat merupakan bagian penting dari tujuan akhir perjalanan manusia.

Mengejar kesejahteraan dunia bukanlah sesuatu yang harus ditinggalkan.

Yang perlu dijaga adalah agar usaha tersebut tidak menggeser tujuan utama, merusak akhlak, atau membuat manusia melupakan kewajibannya.

Harta, jabatan, ilmu, keterampilan, dan kesempatan dapat menjadi sarana untuk menebar manfaat apabila dikelola dengan benar.

Maka, sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya setiap orang bertanya kepada dirinya sendiri:

Apakah kesibukan saya hari ini mendekatkan saya kepada tujuan hidup? Apakah pekerjaan saya memberi manfaat?

Apakah cara yang saya tempuh sudah benar? Dan apakah saya telah mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah dunia?

Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat menjadi awal untuk memperbaiki arah perjalanan.

Sebab hidup yang bermakna bukan sekadar hidup yang penuh aktivitas.

Melainkan kehidupan yang memiliki tujuan, dijalani dengan kesungguhan, membawa manfaat bagi sesama, dan senantiasa berusaha berada dalam rida Allah SWT. (kangtop)