KONCOdewe.com – Tidak setiap hari manusia mampu menjalani kehidupan dengan perasaan yang tenang.
Ada masa ketika berbagai persoalan datang hampir bersamaan.
Pekerjaan menumpuk, urusan keluarga belum selesai, kebutuhan ekonomi terus dipikirkan, sementara masalah lain seolah tidak memberikan ruang untuk beristirahat.
Dalam keadaan seperti itu, pikiran bisa terasa sesak. Seseorang mungkin tetap menjalankan aktivitas seperti biasa, tetapi di dalam hati ada kegelisahan yang sulit dijelaskan.
Kadang emosi menjadi lebih mudah tersulut. Perkataan sederhana dari orang lain terasa mengganggu.
Hal kecil yang biasanya tidak dipermasalahkan tiba-tiba menjadi sumber kemarahan.
Bahkan ketika tubuh sudah berbaring dan suasana rumah mulai sunyi, pikiran masih terus berjalan memikirkan berbagai persoalan.
Islam mengajarkan manusia untuk tidak membiarkan hati terus tenggelam dalam kegelisahan.
Salah satu ikhtiar yang dapat dilakukan adalah memperbanyak zikir dan mengingat Allah SWT.
Zikir bukan hanya rangkaian kalimat yang bergerak dari lisan.
Lebih dari itu, zikir dapat menjadi pengingat bahwa di tengah persoalan yang berat, manusia tidak berjalan sendirian.
Kalimat seperti Subhanallah, Alhamdulillah, Astaghfirullah dan berbagai doa dapat menjadi sarana untuk mengarahkan kembali perhatian kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa ketenteraman hati memiliki hubungan erat dengan mengingat Allah.
Karena itu, ketika pikiran mulai penuh dan hati terasa tidak nyaman, mendekat kepada-Nya dapat menjadi salah satu bentuk ikhtiar untuk mencari ketenangan.
Zikir Saat Hati Belum Tenang, Perlukah Menunggu Khusyuk?
Sebagian orang mungkin merasa bahwa dirinya belum pantas berzikir ketika pikiran sedang kacau.
Ada yang berpikir bahwa zikir harus dilakukan ketika hati sudah benar-benar tenang dan mampu berkonsentrasi sepenuhnya.
Padahal, seseorang tidak harus menunggu hatinya sempurna terlebih dahulu untuk mulai mengingat Allah.
Justru ketika pikiran sedang berantakan, lisan dapat mulai dibiasakan mengucapkan kalimat-kalimat zikir.
Dari kebiasaan tersebut, perlahan perhatian dapat diarahkan kembali kepada Allah.
Tentu, menghadirkan hati dalam zikir merupakan hal yang penting. Namun, proses menuju kekhusyukan juga membutuhkan latihan.
Tidak sedikit kebiasaan baik yang awalnya terasa berat, kemudian menjadi ringan karena terus dilakukan.
Begitu pula dengan zikir.
Ketika dilakukan secara rutin, seseorang dapat belajar menjadikan mengingat Allah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya ketika sedang menghadapi masalah.
Saat Amarah Datang, Jangan Biarkan Emosi Menentukan Tindakan
Kegelisahan sering kali berjalan beriringan dengan emosi.
Ketika hati sedang tertekan, seseorang dapat menjadi lebih sensitif. Nada bicara orang lain terasa menyakitkan.
Perselisihan kecil bisa berkembang menjadi pertengkaran karena emosi tidak segera dikendalikan.
Masalahnya, perkataan yang keluar ketika marah terkadang tidak mudah ditarik kembali.
Seseorang mungkin menyesal beberapa menit setelah mengucapkannya. Namun, orang yang mendengar sudah terlanjur terluka.
Karena itulah kemampuan menahan diri menjadi bagian penting dalam menghadapi kemarahan.
Ketika emosi mulai meningkat, memberi jeda sebelum bertindak merupakan langkah yang bijaksana.
Jangan terburu-buru membalas perkataan, jangan langsung mengambil keputusan dan jangan membiarkan kemarahan menjadi pengendali diri.
Berhenti sejenak bisa menjadi awal untuk mengembalikan kendali kepada akal dan hati.
Mengubah Posisi Saat Marah Bisa Menjadi Awal Menenangkan Diri
Dalam ajaran Islam terdapat tuntunan untuk menghadapi kemarahan, salah satunya dengan mengubah posisi tubuh.
Jika seseorang sedang marah dalam keadaan berdiri, ia dapat mencoba duduk. Jika masih belum mereda, ia dapat mengambil jeda dan menjauh sejenak dari situasi yang memicu emosi.
Langkah sederhana tersebut dapat memberikan ruang bagi seseorang untuk tidak langsung bereaksi.
Sebab, terkadang yang dibutuhkan bukan jawaban cepat, melainkan waktu beberapa saat agar emosi mereda.
Menahan diri bukan berarti kalah.
Justru kemampuan menahan perkataan dan tindakan ketika marah merupakan bentuk kekuatan dalam mengendalikan diri.
Wudu dan Salat Bisa Menjadi Jeda dari Kegelisahan
Ketika hati terasa panas dan pikiran sulit dikendalikan, mengambil wudu dapat menjadi salah satu bentuk ikhtiar spiritual.
Wudu bukan hanya bagian dari persiapan ibadah, tetapi juga memberikan kesempatan kepada seseorang untuk berhenti dari suasana yang membuatnya emosi.
Setelah itu, seseorang dapat melanjutkannya dengan salat dan berdoa.
Dua rakaat yang dilakukan dengan kesadaran dapat menjadi momen untuk meninggalkan sejenak berbagai persoalan duniawi dan menghadap kepada Allah SWT.
Di hadapan-Nya, seseorang dapat mencurahkan kegelisahan yang mungkin sulit disampaikan kepada manusia.
Ada kalanya manusia tidak membutuhkan banyak kata untuk menjelaskan masalahnya. Ia hanya membutuhkan tempat untuk berserah dan memohon pertolongan.
Membaca Al-Qur’an Memberi Ruang bagi Hati untuk Beristirahat
Selain zikir dan salat, membaca Al-Qur’an juga dapat menjadi bagian dari upaya mendekatkan diri kepada Allah ketika hati sedang tidak tenang.
Membaca ayat demi ayat secara perlahan memberikan kesempatan bagi seseorang untuk menghentikan sejenak berbagai pikiran yang berputar di kepala.
Tidak harus selalu dalam jumlah banyak.
Yang terpenting adalah menyediakan waktu untuk membaca, memahami dan merenungkan pesan yang terkandung di dalamnya.
Dari sana, seseorang dapat kembali mengingat bahwa persoalan dunia memiliki batas, sementara pertolongan Allah tidak terbatas.
Membaca Al-Qur’an juga dapat menjadi pengingat agar seseorang tidak mengambil keputusan ketika sedang dikuasai emosi.
Lima Langkah Sederhana Ketika Amarah Mulai Memuncak
Ketika emosi terasa sulit dikendalikan, ada beberapa langkah yang dapat dijadikan ikhtiar.
- Ubah posisi dan beri jeda.
Jika sedang berdiri, cobalah duduk. Jika situasi semakin memanas, menjauh sejenak dapat membantu menghindari perkataan atau tindakan yang disesali.
- Berwudulah.
Ambil waktu untuk membersihkan diri sekaligus menenangkan pikiran. Wudu juga dapat menjadi pengingat bahwa kita hendak kembali mendekat kepada Allah.
- Tunaikan salat.
Ambil waktu untuk beribadah dan memohon kepada Allah agar diberikan ketenangan serta kemampuan mengendalikan diri.
- Membaca Al-Qur’an.
Alihkan perhatian dari sumber kemarahan kepada bacaan yang dapat mengingatkan hati kepada Allah SWT.
- Perbanyak zikir dan doa.
Ucapkan zikir dan mohon kepada Allah agar hati diberikan kesabaran, keteguhan dan kemampuan menghadapi persoalan dengan cara yang lebih baik.
Langkah-langkah tersebut bukan berarti semua persoalan akan langsung selesai. Namun, setidaknya seseorang memberikan dirinya kesempatan untuk merespons masalah dengan lebih tenang.
Menjaga Hati Bukan Pekerjaan Sekali Jadi
Ketenangan hati bukan sesuatu yang selalu hadir dalam sekali usaha.
Ia perlu dijaga dan dilatih.
Hari ini seseorang mungkin berhasil menahan amarah, tetapi pada kesempatan lain bisa saja kembali terpancing. Hal tersebut menjadi bagian dari proses manusia memperbaiki dirinya.
Yang terpenting adalah tidak berhenti belajar.
Ketika melakukan kesalahan, segera introspeksi. Ketika emosi muncul, berusaha menahannya. Ketika hati mulai jauh, kembali mengingat Allah.
Sedikit demi sedikit, kebiasaan tersebut dapat membentuk cara seseorang menghadapi kehidupan.
Ketenangan Bukan Berarti Hidup Tanpa Masalah
Tidak ada manusia yang sepenuhnya terbebas dari persoalan.
Setiap orang memiliki ujian dengan bentuk yang berbeda. Ada yang diuji melalui pekerjaan, keluarga, kesehatan, ekonomi, hubungan sosial maupun berbagai persoalan yang tidak diketahui orang lain.
Karena itu, ketenangan bukan berarti hidup tanpa masalah.
Ketenangan adalah kemampuan untuk tetap menjaga hati ketika masalah datang.
Seseorang boleh menangis, boleh merasa sedih dan boleh mengakui bahwa dirinya sedang lelah. Namun, jangan sampai kesedihan membuatnya kehilangan harapan.
Ketika masalah terasa berat, manusia dapat kembali kepada Allah SWT melalui doa, salat, membaca Al-Qur’an dan zikir.
Ketika Hati Gelisah, Ada Tempat untuk Kembali
Manusia mungkin tidak selalu bisa menghindari masalah. Tetapi manusia masih memiliki pilihan tentang bagaimana menghadapi masalah tersebut.
Ketika pikiran terasa penuh, berhentilah sejenak. Ketika emosi mulai meninggi, jangan langsung bereaksi.
Ketika hati gelisah, ambillah waktu untuk berdoa. Ketika perasaan terasa berat, perbanyaklah mengingat Allah SWT.
Sebab, kehidupan tidak selamanya berjalan sesuai dengan keinginan. Ada hari ketika semuanya terasa mudah, tetapi ada pula waktu ketika satu persoalan datang setelah persoalan lainnya.
Dalam keadaan seperti itulah hati membutuhkan tempat untuk kembali.
Zikir, doa, salat dan membaca Al-Qur’an dapat menjadi bagian dari ikhtiar seorang Muslim untuk mendekat kepada Allah sekaligus menata kembali dirinya.
Sebab, ketenangan bukan selalu ditemukan ketika semua masalah telah selesai.
Tetapi juga dapat tumbuh ketika hati belajar bersandar kepada Allah SWT di tengah masalah yang masih dihadapi. (kangtop)












