Diplomasi AS-Iran Redakan Kekhawatiran Pasokan Minyak, Apa Dampaknya bagi Rupiah?

Kombis39 Dilihat

KONCOdewe.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengawali perdagangan Selasa dengan penguatan tipis.

Pada pukul 09.10 WIB, rupiah naik 0,02 persen ke posisi Rp18.160 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp18.156 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS sempat dibuka melemah 0,06 persen ke posisi Rp18.145.

Analis Doo Financial, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih memiliki peluang untuk menguat secara terbatas.

Salah satu faktor pendukungnya adalah penurunan harga minyak mentah dunia yang cukup signifikan.

“Rupiah diperkirakan masih berfluktuatif dalam rentang ketat dengan potensi menguat terbatas didukung oleh penurunan harga minyak mentah dunia yang cukup besar oleh harapan pembicaraan damai Timteng (Timur Tengah),” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.

Mengutip Anadolu, harga minyak mentah Brent pada Senin (2/11) untuk pertama kalinya sejak awal Oktober turun ke bawah 105 dolar AS per barel.

Penurunannya hampir mencapai 8 persen seiring berkurangnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak, menyusul perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran.

Minyak Brent yang menjadi acuan harga minyak internasional tercatat diperdagangkan pada level 104,43 dolar AS per barel pada pukul 17.00 GMT.

Angka tersebut turun 7,94 persen. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) sebagai patokan minyak AS merosot 7,62 dolar AS per barel atau 7,32 persen menjadi 96,50 dolar AS per barel.

Perkembangan diplomasi kedua negara turut menjadi perhatian pasar.

Kantor berita pemerintah Iran, IRNA, melaporkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Mojtaba Khamenei telah menyetujui langkah pemerintah untuk melakukan perundingan guna mengakhiri konflik.

BACA:  Harga Beras Hari Ini 24 Oktober 2026, Beras Super I Tembus Rp18.000 per Kilogram

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, pada Senin (2/11) menyebut Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi telah melakukan pertukaran pesan dengan pihak Washington melalui perantara Qatar di Doha.

Baghaei juga menyampaikan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz mensyaratkan Amerika Serikat mencabut blokade laut terhadap Iran.

Dari pihak AS, Menteri Luar Negeri Marco Rubio pada Sabtu (31/10) mengatakan Presiden Donald Trump lebih mengutamakan penyelesaian konflik melalui diplomasi.

Namun, Trump disebut belum mengambil keputusan mengenai kemungkinan memerintahkan serangan baru terhadap Iran.

Di tengah perkembangan geopolitik tersebut, pelaku pasar masih bersikap hati-hati.

Perhatian investor juga tertuju pada sejumlah agenda ekonomi penting di Amerika Serikat serta pelaksanaan pemilu legislatif paruh waktu AS yang dijadwalkan berlangsung bulan ini.

Lukman menjelaskan, data ekonomi AS yang dinantikan meliputi Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS), Nonfarm Payrolls (NFP), serta indikator aktivitas ekonomi dari Institute for Supply Management (ISM).

Sementara dari dalam negeri, investor menunggu rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026 yang dijadwalkan Kamis.

Produk Domestik Bruto (PDB) secara tahunan atau year on year (YoY) diperkirakan tumbuh 5,2 persen, lebih rendah dibandingkan capaian sebelumnya sebesar 5,29 persen.

Adapun pertumbuhan ekonomi secara kuartalan atau quarter on quarter (QoQ) diproyeksikan mencapai 1,3 persen, turun dari pertumbuhan sebelumnya sebesar 3,73 persen.

“Data AS di antaranya data pekerjaan Jolt dan NFP serta data ISM, dari domestik investor menantikan data PDB (Produk Domestik Bruto) kuartal III Indonesia pada hari Kamis. PDB YoY (year on year) Indonesia diperkirakan 5,2 persen, turun dari 5,29 persen, sedangkan QoQ (quarter over quarter) tumbuh 1,3 persen, lebih rendah dari 3,73 persen sebelumnya,” ungkap Lukman.

BACA:  Harga Daging Sapi 8 Agustus 2026 Capai Rp151.750, Ini Harga Kualitas I dan II

Selain perkembangan data ekonomi dan geopolitik, pergerakan rupiah juga dipengaruhi kondisi pasar saham yang masih menunjukkan pelemahan.

Sentimen di pasar ekuitas tersebut turut menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan investor dalam menentukan arah transaksi mata uang.

Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp18.100 hingga Rp18.200 per dolar AS pada perdagangan Selasa. (kangtop)