Kolesterol Jahat Bisa Diam-Diam Menumpuk, Begini Cara Mengenal Risikonya Lebih Awal

Kesehatan49 Dilihat

KONCOdewe.com – Kolesterol merupakan salah satu zat yang sebenarnya dibutuhkan tubuh.

Namun, ketika kadar kolesterol tertentu dalam darah terlalu tinggi, kondisi tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk penyakit jantung dan stroke.

Masalahnya, kadar kolesterol yang tinggi sering kali tidak menimbulkan gejala yang mudah dikenali.

Seseorang bisa saja merasa sehat dan tetap menjalani aktivitas seperti biasa, sementara hasil pemeriksaan darah menunjukkan adanya kadar kolesterol yang perlu diperhatikan.

Karena itu, mengetahui kadar kolesterol melalui pemeriksaan berkala menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan pembuluh darah, terutama ketika seseorang memiliki faktor risiko tertentu.

Kolesterol dan Risiko Penyumbatan Pembuluh Darah

Salah satu hal yang banyak diperhatikan dalam pemeriksaan kolesterol adalah kolesterol LDL atau yang sering disebut sebagai kolesterol “jahat”.

Jika kadar LDL terlalu tinggi dalam waktu lama, kolesterol dapat berkontribusi terhadap proses terbentuknya plak di dinding arteri.

Penumpukan plak tersebut dapat menyebabkan pembuluh darah menjadi lebih sempit dan kaku.

Kondisi tersebut berkaitan dengan meningkatnya risiko berbagai masalah kardiovaskular.

Namun, risiko penyakit jantung dan stroke tidak hanya ditentukan oleh satu angka kolesterol.

Tekanan darah, kebiasaan merokok, diabetes, berat badan, aktivitas fisik, pola makan, usia, serta faktor keturunan juga dapat berpengaruh.

Pemeriksaan Kolesterol Tidak Hanya untuk Orang Lanjut Usia

Melansir laporan yang diterbitkan Time pada 2019, CDC Amerika Serikat merekomendasikan pemeriksaan kolesterol secara berkala mulai usia 20 tahun.

Pentingnya pemeriksaan sejak relatif muda juga menjadi perhatian dalam penelitian besar yang diterbitkan di jurnal The Lancet.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti melihat hubungan antara kadar kolesterol non-HDL pada usia muda dengan risiko penyakit kardiovaskular di kemudian hari.

Kolesterol non-HDL merupakan ukuran yang mencakup berbagai jenis kolesterol yang berpotensi berkontribusi terhadap penumpukan plak di pembuluh darah.

Dengan melakukan pemeriksaan lebih awal, seseorang memiliki kesempatan untuk mengetahui kondisi tubuhnya dan melakukan perubahan gaya hidup apabila ditemukan faktor risiko.

Penelitian Melibatkan Ratusan Ribu Orang

Penelitian yang menjadi perhatian tersebut menggabungkan data dari 38 studi yang dilakukan di wilayah Amerika Utara, Eropa, dan Australia.

Total terdapat sekitar 400.000 peserta yang pada awal penelitian belum memiliki riwayat penyakit kardiovaskular. Sekitar sepertiga peserta berusia kurang dari 45 tahun.

Pada awal pengamatan, kadar kolesterol peserta diukur. Para peneliti juga mengumpulkan informasi mengenai riwayat kesehatan, gaya hidup, serta karakteristik demografis.

Peserta kemudian diamati dalam jangka panjang. Setelah sekitar 43 tahun, hampir 55.000 orang tercatat mengalami penyakit jantung atau stroke.

Data tersebut kemudian digunakan untuk melihat hubungan antara kadar kolesterol pada usia lebih muda dengan kemungkinan terjadinya penyakit kardiovaskular di masa mendatang.

BACA:  Bukan Sekadar Berwarna Merah, Buah Bit Ternyata Punya 5 Manfaat Menarik bagi Tubuh

Risiko Berbeda Berdasarkan Kadar Kolesterol dan Faktor Lain

Dalam pemodelan penelitian, peneliti menggunakan kadar kolesterol non-HDL sekitar 145–185 mg/dL pada peserta berusia di bawah 45 tahun sebagai salah satu skenario.

Sebagai pembanding, kadar kolesterol non-HDL di bawah 130 mg/dL sering digunakan sebagai salah satu nilai rujukan dalam konteks tertentu, meskipun target yang tepat dapat berbeda berdasarkan kondisi kesehatan dan risiko masing-masing orang.

Berdasarkan model tersebut, laki-laki dengan kadar non-HDL dalam rentang tersebut diperkirakan memiliki risiko penyakit kardiovaskular yang lebih tinggi sepanjang perjalanan hidup dibandingkan mereka yang memiliki kadar lebih rendah.

Dalam salah satu perhitungan penelitian, risiko mengalami masalah jantung pada usia 75 tahun diperkirakan sekitar 29 persen pada kelompok laki-laki dengan kondisi tersebut. Pada perempuan, angkanya diperkirakan sekitar 16 persen.

Angka tersebut merupakan hasil pemodelan populasi dan bukan berarti setiap orang dengan kadar kolesterol tertentu pasti akan mengalami penyakit jantung.

Risiko aktual seseorang tetap dipengaruhi banyak faktor lainnya.

Mengapa Mengetahui Kolesterol Sejak Dini Bisa Penting?

Salah satu pesan utama dari penelitian tersebut adalah pentingnya mengenali faktor risiko lebih awal.

Jika kadar kolesterol diketahui sejak usia muda, seseorang memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan perubahan pola hidup.

Dalam kondisi tertentu, dokter juga dapat mempertimbangkan terapi obat berdasarkan tingkat risiko dan kondisi kesehatan pasien.

Dalam analisis penelitian, pengendalian kadar kolesterol sejak usia lebih muda dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit kardiovaskular dalam model perhitungan.

Misalnya, pada skenario tertentu, risiko penyakit jantung pada laki-laki yang memiliki kadar kolesterol non-HDL tinggi sejak usia muda diperkirakan dapat turun dari sekitar 29 persen menjadi 6 persen apabila kadar tersebut dapat diturunkan secara optimal.

Pada perempuan, perhitungan serupa menunjukkan penurunan dari sekitar 16 persen menjadi 4 persen.

Sekali lagi, angka tersebut merupakan hasil pemodelan penelitian.

Kondisi setiap orang berbeda sehingga angka tersebut tidak dapat digunakan untuk menentukan risiko pribadi tanpa penilaian medis.

Pola Makan Ikut Menentukan

Pemeriksaan kolesterol menjadi lebih bermanfaat apabila diikuti dengan upaya menjaga gaya hidup.

Pola makan merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan. Konsumsi makanan yang tinggi lemak jenuh secara berlebihan dapat berkontribusi terhadap peningkatan kadar LDL pada sebagian orang.

Beberapa makanan yang dapat mengandung lemak jenuh antara lain mentega, keju, krim, serta berbagai produk makanan olahan tertentu.

Bukan berarti makanan tersebut harus selalu dihilangkan dari menu, tetapi jumlah dan frekuensi konsumsinya perlu disesuaikan dengan kebutuhan tubuh.

Sebaliknya, pola makan seimbang dapat lebih banyak memasukkan sumber lemak tak jenuh, sayuran, buah-buahan, biji-bijian, kacang-kacangan, serta ikan.

Ada Banyak Faktor yang Bisa Mendorong Kolesterol Tinggi

Kadar kolesterol tidak hanya dipengaruhi makanan.

BACA:  Harganya Bersahabat, Kandungan Pepaya Ternyata Tak Bisa Dipandang Sebelah Mata

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko kolesterol tinggi antara lain kurang aktivitas fisik, kebiasaan merokok, obesitas, serta konsumsi alkohol berlebihan.

Kondisi medis tertentu juga dapat berhubungan dengan gangguan kadar kolesterol. Beberapa di antaranya adalah hipertensi, diabetes, hipotiroidisme, penyakit hati, dan penyakit ginjal.

Faktor usia juga tidak bisa diabaikan. Seiring bertambahnya usia, perubahan metabolisme tubuh dapat membuat risiko gangguan kadar kolesterol dan aterosklerosis meningkat.

Faktor genetik atau riwayat keluarga juga dapat berperan. Karena itu, seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat kolesterol tinggi atau penyakit jantung pada usia relatif muda sebaiknya lebih memperhatikan pemeriksaan kesehatan.

Jangan Menunggu Gejala

Salah satu alasan pemeriksaan kolesterol penting adalah karena kondisi ini sering kali tidak memberikan tanda yang jelas.

Seseorang tidak harus menunggu munculnya nyeri dada atau keluhan lain untuk mulai memperhatikan kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Pemeriksaan darah dapat memberikan gambaran mengenai kadar kolesterol total, LDL, HDL, dan trigliserida. Dokter kemudian dapat menilai hasil tersebut bersama faktor risiko lainnya.

Dari sana, langkah berikutnya dapat disesuaikan, mulai dari perubahan pola makan dan aktivitas fisik hingga pemberian obat jika memang diperlukan.

Langkah Sederhana Menjaga Kolesterol

Menjaga kadar kolesterol bukan hanya tentang menghindari satu jenis makanan. Kebiasaan sehari-hari secara keseluruhan juga berperan.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • menerapkan pola makan seimbang;
  • memperbanyak makanan sumber serat;
  • memilih sumber lemak yang lebih sehat, seperti ikan, kacang-kacangan, dan alpukat;
  • rutin melakukan aktivitas fisik;
  • menjaga berat badan tetap sehat;
  • tidak merokok;
  • membatasi konsumsi alkohol;
  • mengelola stres;
  • mendapatkan tidur yang cukup; serta
  • melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Tidak semua perubahan harus dilakukan sekaligus. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian dari pola hidup yang lebih sehat.

Kolesterol Bukan Sekadar Angka di Hasil Laboratorium

Mengetahui kadar kolesterol sebaiknya tidak membuat seseorang langsung panik. Hasil pemeriksaan perlu dilihat dalam konteks kondisi tubuh secara keseluruhan.

Nilai yang dianggap perlu mendapat perhatian juga dapat berbeda berdasarkan usia, riwayat penyakit, risiko kardiovaskular, dan kondisi kesehatan seseorang.

Karena itu, hasil pemeriksaan kolesterol sebaiknya dibicarakan dengan dokter agar dapat diketahui apakah cukup ditangani melalui perubahan gaya hidup atau membutuhkan langkah medis lainnya.

Dengan demikian, pemeriksaan kolesterol sejak usia dewasa muda dapat menjadi salah satu cara untuk mengenali faktor risiko lebih awal.

Dipadukan dengan pola makan seimbang, aktivitas fisik, tidak merokok, tidur cukup, dan pengelolaan berat badan, langkah tersebut dapat membantu menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah dalam jangka panjang. (kangtop)