Gunung Semeru Kembali Erupsi, Badan Geologi Minta Warga Menjauh hingga 13 Km dari Puncak

Kabar45 Dilihat

KONCOdewe.com – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengeluarkan rekomendasi pembatasan aktivitas di sekitar Gunung Semeru, Jawa Timur, setelah gunung api tersebut kembali mengalami erupsi pada Senin pagi.

Erupsi yang terjadi sekitar pukul 10.00 WIB tersebut menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 500 meter di atas puncak.

Abu vulkanik yang terlihat berwarna kelabu pekat terpantau bergerak condong ke arah timur laut.

Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan, aktivitas erupsi tersebut tercatat pada seismogram dengan amplitudo maksimum mencapai 22 milimeter dan berlangsung selama sekitar 1 menit 34 detik.

“Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi sekitar 1 menit 34 detik. Kolom abu berwarna kelabu tebal teramati condong ke arah timur laut,” ujarnya, dikutip dari Antara.

Gunung Semeru saat ini masih berada pada Status Level III atau Siaga.

Sejalan dengan kondisi tersebut, Badan Geologi meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang jalur aliran Besuk Kobokan hingga sejauh 13 kilometer dari pusat erupsi.

Pembatasan tersebut diberlakukan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bahaya yang dapat ditimbulkan oleh aktivitas vulkanik Gunung Semeru.

Masyarakat yang berada di luar radius 13 kilometer juga diminta tetap menjauhi area 500 meter dari tepian sungai di sepanjang Besuk Kobokan.

Kawasan tersebut masih memiliki potensi terdampak perluasan awan panas maupun aliran lahar yang dapat menjangkau hingga sekitar 17 kilometer dari puncak.

Selain zona larangan aktivitas hingga 13 kilometer di sektor tertentu, Badan Geologi juga menetapkan kawasan berbahaya dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru.

BACA:  Erupsi Anak Krakatau Mulai Mereda, Tapi 209 Penerbangan dan 22.798 Penumpang Terdampak

Area tersebut harus terbebas dari aktivitas masyarakat maupun wisatawan karena masih terdapat risiko lontaran material vulkanik, termasuk batu pijar.

Masyarakat maupun wisatawan yang berada di sekitar kawasan Gunung Semeru diminta mematuhi rekomendasi tersebut demi mengurangi risiko apabila terjadi peningkatan aktivitas secara tiba-tiba.

Badan Geologi juga mengingatkan adanya sejumlah potensi bahaya susulan yang perlu diwaspadai. Ancaman tersebut antara lain awan panas guguran, guguran lava, serta banjir lahar hujan.

Potensi bahaya terutama perlu diperhatikan di sepanjang sungai atau lembah yang berhulu dari kawasan puncak Gunung Semeru.

Beberapa jalur aliran yang perlu mendapat perhatian khusus meliputi Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.

Kondisi tersebut membuat masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar jalur sungai diminta terus mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Semeru.

Badan Geologi mengimbau masyarakat tidak mengandalkan informasi yang belum terverifikasi terkait perkembangan erupsi.

Informasi mengenai aktivitas Gunung Semeru dan rekomendasi teknis dapat dipantau melalui kanal resmi Magma Indonesia dan Badan Geologi.

“Perkembangan aktivitas dan rekomendasi teknis dapat dipantau melalui magma.esmd.go.id badan geologi,” ujarnya.

Dengan status Gunung Semeru yang masih berada pada Level III atau Siaga, kepatuhan terhadap batas zona bahaya menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko bagi masyarakat di sekitar kawasan gunung api tersebut. (kangtop)