Cara Mengobati Anemia Sesuai Jenisnya, Jangan Asal Minum Obat! Kenali Penyebabnya agar Penanganan Lebih Tepat

Kesehatan30 Dilihat

KONCOdewe.com – Tubuh yang sering terasa lemas, mudah lelah, pusing, hingga sakit kepala berkepanjangan bisa menjadi tanda seseorang mengalami anemia.

Kondisi ini sering dianggap sepele karena gejalanya mirip dengan kelelahan biasa.

Padahal, jika dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, anemia dapat menurunkan produktivitas, mengganggu aktivitas harian, bahkan memicu komplikasi kesehatan yang lebih serius.

Banyak orang langsung mengonsumsi suplemen penambah darah ketika mengalami gejala anemia.

Namun, langkah tersebut belum tentu menjadi solusi terbaik.

Pasalnya, anemia bukan hanya satu jenis penyakit, melainkan terdiri dari berbagai tipe dengan penyebab yang berbeda-beda.

Karena itu, pengobatan harus disesuaikan dengan jenis anemia yang dialami agar hasilnya lebih efektif.

Secara umum, anemia terbagi menjadi beberapa jenis, yakni anemia aplastik, anemia hemolitik, anemia sel sabit, anemia defisiensi vitamin, anemia defisiensi zat besi, talasemia, serta anemia akibat penyakit kronis.

Masing-masing memiliki mekanisme penyebab dan metode penanganan yang berbeda.

  1. Anemia Aplastik, Terjadi Saat Sumsum Tulang Gagal Memproduksi Sel Darah

Mengacu pada penjelasan Mayo Clinic, anemia aplastik merupakan kondisi ketika sumsum tulang tidak mampu menghasilkan sel darah merah dalam jumlah yang cukup.

Gangguan ini dapat dipicu oleh infeksi tertentu, penyakit autoimun, penggunaan obat-obatan tertentu, hingga paparan bahan kimia beracun.

Penanganannya biasanya dilakukan melalui transfusi darah untuk meningkatkan jumlah sel darah merah.

Pada kasus yang lebih berat, dokter dapat merekomendasikan transplantasi sumsum tulang apabila organ tersebut sudah tidak mampu memproduksi sel darah yang sehat.

  1. Anemia Hemolitik, Sel Darah Merah Hancur Terlalu Cepat

Berbeda dengan anemia aplastik, anemia hemolitik terjadi karena sel darah merah mengalami kerusakan atau penghancuran lebih cepat dibandingkan kemampuan tubuh memproduksi sel darah baru.

Menurut Mayo Clinic, pengobatan dapat dilakukan dengan menghentikan penggunaan obat yang diduga menjadi pemicu, mengatasi infeksi yang mendasari.

BACA:  Banyak Orang Menjalani Puasa, Tapi Tidak Semua Menyadari Manfaat Besarnya bagi Tubuh

Hingga terapi untuk menekan sistem kekebalan tubuh apabila penyebabnya berasal dari gangguan autoimun.

Sementara itu, Medical News Today menjelaskan bahwa pasien juga dapat memperoleh terapi berupa obat imunosupresan maupun prosedur plasmapheresis untuk menyaring darah.

Pada kondisi berat, penderita umumnya memerlukan perawatan jangka panjang.

  1. Anemia Sel Sabit Memerlukan Penanganan Intensif

Anemia sel sabit merupakan kelainan genetik yang menyebabkan hemoglobin berbentuk seperti bulan sabit.

Bentuk sel darah merah yang tidak normal tersebut membuat sel lebih mudah rusak sehingga jumlahnya terus berkurang.

Mayo Clinic menyebutkan bahwa pengobatan dapat berupa pemberian oksigen, cairan infus maupun cairan oral, serta obat pereda nyeri untuk mengurangi gejala.

Selain itu, dokter dapat memberikan transfusi darah, antibiotik, suplemen asam folat, hingga obat hidroksiurea yang membantu mengurangi komplikasi penyakit.

  1. Kekurangan Vitamin Juga Bisa Menyebabkan Anemia

Tidak semua anemia terjadi akibat kekurangan zat besi.

Sebagian penderita mengalami anemia karena tubuh kekurangan vitamin B12 maupun folat yang berperan penting dalam pembentukan sel darah merah.

Untuk mengatasinya, penderita perlu memenuhi kebutuhan vitamin tersebut melalui makanan maupun suplemen.

Apabila tubuh mengalami gangguan penyerapan vitamin B12 dari saluran pencernaan, dokter dapat memberikan terapi suntikan vitamin B12.

  1. Anemia Defisiensi Besi, Jenis yang Paling Sering Terjadi

Anemia defisiensi besi merupakan jenis anemia yang paling banyak ditemukan.

Kondisi ini muncul ketika tubuh tidak memiliki cukup zat besi untuk membentuk hemoglobin, yaitu protein yang membawa oksigen ke seluruh tubuh.

Karena itu, pengobatan umumnya dilakukan dengan mengonsumsi suplemen zat besi sesuai anjuran tenaga medis sekaligus memperbaiki pola makan agar kebutuhan zat besi harian dapat terpenuhi.

  1. Talasemia Tidak Selalu Memerlukan Pengobatan

Talasemia termasuk anemia yang diturunkan secara genetik. Pada kondisi ini, sel darah merah tidak berkembang secara normal sehingga fungsinya terganggu.

BACA:  Jangan Asal Makan! Ini Deretan Makanan Penambah Darah yang Baik untuk Penderita Anemia

Menurut Mayo Clinic, talasemia ringan biasanya tidak membutuhkan terapi khusus.

Namun pada kasus yang lebih berat, pasien dapat memerlukan transfusi darah rutin, konsumsi suplemen asam folat, obat-obatan tertentu, operasi pengangkatan limpa, hingga transplantasi sel induk darah dan sumsum tulang.

  1. Anemia Akibat Penyakit Kronis Diobati dari Penyebab Utamanya

Anemia juga dapat muncul sebagai komplikasi dari berbagai penyakit kronis.

Mayo Clinic menjelaskan bahwa penanganan utamanya adalah mengendalikan penyakit yang menjadi penyebab.

Dalam beberapa kondisi, dokter dapat memberikan transfusi darah maupun suntikan eritropoietin, yaitu hormon sintetis yang berfungsi merangsang pembentukan sel darah merah sehingga membantu mengurangi rasa lelah.

Medical News Today menyebutkan beberapa penyakit yang sering berkaitan dengan anemia kronis, di antaranya penyakit ginjal, diabetes, kanker, AIDS, gagal jantung, penyakit hati, hingga rheumatoid arthritis.

Perbaiki Pola Makan agar Produksi Sel Darah Merah Optimal

Selain terapi medis, pola makan juga memiliki peran penting, terutama bagi penderita anemia akibat kekurangan nutrisi.

Asupan makanan kaya zat besi dapat membantu tubuh meningkatkan produksi hemoglobin secara alami.

Beberapa makanan yang direkomendasikan antara lain sereal dan roti yang diperkaya zat besi, bayam, kale, selada air, kacang-kacangan.

Polong-polongan, beras merah, daging merah maupun daging putih, ikan, tahu, telur, biji-bijian, serta buah kering seperti aprikot, kismis, dan plum.

Meski demikian, apabila gejala anemia tidak kunjung membaik atau sering kambuh, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.

Pemeriksaan yang tepat akan membantu mengetahui jenis anemia yang dialami sehingga pengobatan dapat diberikan sesuai penyebabnya, bukan sekadar mengatasi gejalanya. (kangtop)