KONCOdewe.com – Tubuh yang mudah lelah, wajah tampak pucat, sering pusing, hingga sulit berkonsentrasi kerap dianggap sebagai dampak kurang istirahat.
Padahal, keluhan tersebut bisa menjadi tanda anemia defisiensi zat besi, yaitu jenis anemia yang paling banyak dialami masyarakat.
Kondisi ini terjadi ketika tubuh kekurangan zat besi sehingga tidak mampu memproduksi hemoglobin dalam jumlah yang cukup.
Hemoglobin merupakan protein penting di dalam sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh jaringan tubuh.
Saat kadar hemoglobin menurun, pasokan oksigen ikut berkurang sehingga berbagai organ tidak dapat bekerja secara optimal.
Akibatnya, tubuh menjadi cepat lelah meski hanya melakukan aktivitas ringan.
Melansir Healthline, banyak penderita anemia defisiensi zat besi tidak menyadari kondisinya karena gejala sering muncul secara perlahan dan dapat berlangsung selama bertahun-tahun.
Sebagian besar kasus memang tergolong ringan dan mudah diatasi apabila ditangani sejak dini.
Namun jika dibiarkan, kekurangan zat besi dapat menimbulkan berbagai komplikasi yang lebih serius.
Kekurangan Zat Besi Bisa Memicu Berbagai Komplikasi
Anemia defisiensi zat besi bukan sekadar membuat tubuh terasa lemas.
Dalam kondisi tertentu, kekurangan zat besi dapat menyebabkan detak jantung menjadi lebih cepat atau tidak teratur karena jantung harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan oksigen tubuh.
Pada kasus yang berat, kondisi tersebut bahkan dapat berkembang menjadi pembesaran jantung maupun gagal jantung.
Risiko lain juga dapat terjadi pada ibu hamil. Kekurangan zat besi yang berat meningkatkan kemungkinan bayi lahir prematur atau memiliki berat badan lahir rendah.
Tidak hanya itu, bayi dan anak-anak yang mengalami kekurangan zat besi dalam waktu lama juga berisiko mengalami gangguan pertumbuhan serta keterlambatan perkembangan.
Oleh karena itu, mengenali penyebab anemia sejak awal menjadi langkah penting agar kondisi ini tidak berkembang menjadi lebih parah.
Mengapa Tubuh Bisa Mengalami Anemia Defisiensi Besi?
Menurut Mayo Clinic, anemia defisiensi besi terjadi ketika tubuh tidak memiliki cadangan zat besi yang cukup untuk membentuk hemoglobin.
Kondisi tersebut dapat muncul karena asupan zat besi yang kurang, kehilangan darah dalam jumlah banyak, atau gangguan penyerapan zat besi di saluran pencernaan.
Ketika kebutuhan zat besi tidak terpenuhi secara terus-menerus, produksi hemoglobin akan menurun sehingga jumlah sel darah merah yang sehat ikut berkurang.
Akibatnya, suplai oksigen ke seluruh tubuh menjadi tidak optimal.
Kehilangan Darah Menjadi Penyebab Paling Umum
Salah satu penyebab utama anemia defisiensi besi adalah kehilangan darah.
Setiap kali tubuh kehilangan darah, cadangan zat besi juga ikut berkurang karena mineral tersebut tersimpan di dalam sel darah merah.
Wanita yang mengalami menstruasi dengan volume darah berlebihan memiliki risiko lebih tinggi mengalami anemia.
Selain itu, perdarahan kronis akibat tukak lambung, hernia hiatal, polip usus besar, kanker kolorektal, maupun perdarahan saluran cerna akibat penggunaan aspirin dalam jangka panjang juga dapat menjadi pemicunya.
Kurangnya Asupan Makanan Kaya Zat Besi
Tubuh memperoleh zat besi dari makanan yang dikonsumsi setiap hari.
Jika asupannya tidak mencukupi dalam waktu lama, cadangan zat besi akan terus menurun hingga akhirnya memicu anemia.
Makanan yang menjadi sumber zat besi antara lain daging, telur, sayuran hijau, serta berbagai produk pangan yang telah diperkaya zat besi.
Bayi dan anak-anak juga membutuhkan asupan zat besi yang cukup untuk mendukung proses pertumbuhan dan perkembangan mereka.
Gangguan Penyerapan Nutrisi Juga Berpengaruh
Meski seseorang mengonsumsi makanan bergizi, tubuh belum tentu mampu menyerap zat besi secara optimal.
Penyerapan zat besi berlangsung di usus halus sehingga gangguan pada organ tersebut dapat menghambat proses tersebut.
Penyakit celiac, misalnya, dapat mengurangi kemampuan usus menyerap nutrisi dari makanan.
Selain itu, seseorang yang pernah menjalani operasi pengangkatan sebagian usus halus juga berisiko mengalami kekurangan zat besi karena kemampuan penyerapan nutrisi menjadi berkurang.
Ibu Hamil Membutuhkan Zat Besi Lebih Banyak
Kehamilan menjadi salah satu kondisi yang meningkatkan kebutuhan zat besi secara signifikan.
Cadangan zat besi ibu tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya sendiri, tetapi juga untuk menunjang pertumbuhan janin.
Tanpa tambahan suplemen zat besi sesuai anjuran tenaga kesehatan, banyak ibu hamil berisiko mengalami anemia defisiensi besi selama masa kehamilan.
Siapa Saja yang Berisiko Mengalami Anemia?
Beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami anemia defisiensi zat besi.
Wanita menjadi kelompok yang paling rentan karena mengalami menstruasi setiap bulan.
Bayi, terutama yang lahir prematur atau memiliki berat badan lahir rendah, juga memerlukan perhatian khusus karena kebutuhan zat besinya cukup tinggi selama masa pertumbuhan.
Selain itu, orang yang menjalani pola makan vegetarian berisiko mengalami kekurangan zat besi apabila tidak mengonsumsi sumber zat besi non-hewani secara cukup dan seimbang.
Kelompok lain yang juga perlu mewaspadai kondisi ini adalah pendonor darah rutin.
Donor darah yang dilakukan secara berkala dapat mengurangi cadangan zat besi dalam tubuh.
Karena itu, apabila kadar hemoglobin rendah saat akan mendonorkan darah, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan penyebabnya sekaligus memperoleh penanganan yang tepat.
Menjaga pola makan bergizi seimbang, memenuhi kebutuhan zat besi harian, serta melakukan pemeriksaan kesehatan apabila sering mengalami gejala anemia menjadi langkah penting untuk mencegah dampak yang lebih serius di kemudian hari. (kangtop)










