PBB Sebut Kesepakatan Israel-Lebanon Bersejarah, Namun Situasi Masih Belum Sepenuhnya Aman

Politik56 Dilihat

KONCOdewe.com – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyambut positif tercapainya kesepakatan kerangka kerja antara Israel dan Lebanon yang dimediasi Amerika Serikat (AS).

Organisasi internasional tersebut menilai kesepakatan itu menjadi langkah penting untuk membuka jalan menuju perdamaian jangka panjang setelah konflik yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Mengutip Antara, Juru Bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan kesepakatan trilateral yang diumumkan pada 26 Juni merupakan tonggak bersejarah.

Dalam upaya mengakhiri ketegangan berkepanjangan sekaligus menciptakan stabilitas yang lebih berkelanjutan di kawasan Timur Tengah.

Menurut Dujarric, PBB terus mendorong seluruh pihak agar menyelesaikan berbagai persoalan yang masih tersisa melalui jalur dialog.

Pendekatan diplomatik dinilai menjadi kunci untuk menjaga keamanan di kedua sisi Garis Biru atau Blue Line, sekaligus menghormati kedaulatan Israel maupun Lebanon.

PBB Siap Dukung Implementasi Kesepakatan

Dujarric menegaskan PBB berkomitmen mendukung kedua negara dalam menjalankan seluruh kewajiban yang telah disepakati.

Ia berharap kesepakatan tersebut dapat menjadi fondasi awal menuju perdamaian permanen.

Setelah bertahun-tahun kawasan perbatasan diwarnai konflik bersenjata dan ketegangan militer.

PBB juga akan terus memantau perkembangan di lapangan melalui Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) yang bertugas menjaga stabilitas di wilayah perbatasan.

Tidak Ada Serangan Roket Selama Akhir Pekan

Berdasarkan laporan UNIFIL, situasi keamanan di sepanjang wilayah operasi relatif lebih tenang dibandingkan sebelumnya.

Dujarric menyebut selama akhir pekan tidak terdeteksi adanya peluncuran roket maupun proyektil di area operasi pasukan penjaga perdamaian.

Meski demikian, UNIFIL masih mencatat adanya aktivitas militer Pasukan Pertahanan Israel (IDF) di darat serta pelanggaran wilayah udara Lebanon yang menunjukkan situasi belum sepenuhnya stabil.

BACA:  Tak Sekadar Kunjungan Kenegaraan, Pertemuan Prabowo dan Narendra Modi Bahas Isu Strategis Ini

Kesepakatan Ditandatangani di Washington

Sebelumnya, Amerika Serikat, Israel, dan Lebanon resmi menandatangani perjanjian kerangka kerja trilateral yang bertujuan mengakhiri konflik bersenjata di kawasan.

Prosesi penandatanganan berlangsung di Washington dan dihadiri sejumlah pejabat tinggi dari ketiga pihak.

Dokumen tersebut ditandatangani oleh Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat Yechiel Leiter, Duta Besar Lebanon untuk AS Nada Hamadeh Moawad, serta Penasihat Departemen Luar Negeri AS Daniel Joseph Holler.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio turut menyaksikan penandatanganan tersebut dan menyebut kesepakatan itu sebagai “awal dari sebuah permulaan.”

Meski optimistis, Rubio mengingatkan bahwa proses menuju perdamaian masih panjang dan penuh tantangan sehingga seluruh pihak harus tetap berkomitmen menjalankan isi perjanjian.

Hizbullah Tolak Kesepakatan

Di sisi lain, kesepakatan tersebut mendapat penolakan dari kelompok Hizbullah.

Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menilai perjanjian yang ditandatangani di Washington tidak memiliki kekuatan mengikat bagi organisasinya.

Ia bahkan menyebut kesepakatan itu sebagai bentuk hilangnya kedaulatan Lebanon.

Salah satu poin penting dalam perjanjian tersebut adalah mempertahankan zona keamanan Israel di wilayah Lebanon selatan serta rencana perlucutan senjata Hizbullah secara menyeluruh, sebagaimana diinginkan pemerintah Israel.

Gencatan Senjata Masih Rapuh

Sebelum kesepakatan terbaru tercapai, laporan Reuters menyebut Israel dan Hizbullah telah lebih dahulu menyetujui gencatan senjata yang mulai berlaku pada 19 Juni.

Namun, sehari setelahnya serangan udara masih dilaporkan terjadi sehingga memunculkan keraguan terhadap efektivitas penghentian konflik tersebut.

Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel, Eyal Zamir, bahkan menggambarkan gencatan senjata itu sebagai kondisi yang masih rapuh.

Ia meminta pasukan Israel tetap berada dalam kondisi siaga karena potensi kembali pecahnya pertempuran dinilai masih cukup besar.

BACA:  AS Pastikan Tiket 32 Besar Usai Kalahkan Australia 2-0, Ada Rekor Bersejarah yang Tercipta

Meski tantangan masih membayangi, dukungan PBB terhadap kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat diharapkan dapat menjadi momentum baru untuk mengurangi ketegangan.

Sekaligus membuka peluang terciptanya perdamaian yang lebih berkelanjutan di kawasan Timur Tengah. (kangtop)