Diam Bukan Berarti Menyerah, Ini Penjelasan Ulama Mengapa Sebagian Masalah Perlu Disikapi dengan Bijak

Religi8 Dilihat

KONCOdewe.com – Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa setiap persoalan yang muncul harus segera dihadapi dan diselesaikan.

Ungkapan seperti “jangan lari dari masalah” bahkan menjadi nasihat yang sangat akrab di tengah masyarakat.

Namun dalam pandangan Islam, persoalan tersebut tidak sesederhana itu. Tidak semua masalah harus langsung dihadapi dengan tindakan yang cepat dan tegas.

Dalam kondisi tertentu, sikap menahan diri justru menjadi pilihan yang lebih bijaksana apabila langkah yang diambil berpotensi memunculkan kerusakan yang jauh lebih besar.

Para ulama sejak dahulu telah menjelaskan bahwa kebijaksanaan bukan hanya terletak pada keberanian bertindak, melainkan juga kemampuan menimbang dampak dari setiap keputusan.

Sebab, niat baik yang dilakukan tanpa pertimbangan dapat berubah menjadi penyebab lahirnya kemungkaran yang lebih besar.

Rasulullah SAW Mengingatkan Bahaya Fitnah Akhir Zaman

Prinsip kehati-hatian itu memiliki landasan kuat dalam hadis Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah telah mengingatkan bahwa menjelang akhir zaman, berbagai fitnah akan bermunculan dan membuat manusia sulit membedakan mana tindakan yang benar serta mana yang justru memperkeruh keadaan.

Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

“Akan datang suatu masa penuh fitnah. Orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri, yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik daripada yang berlari.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut bukan mengajarkan umat Islam untuk bersikap pasif terhadap kemungkaran.

Sebaliknya, Rasulullah mengingatkan agar seseorang tidak mudah terpancing masuk ke dalam persoalan yang belum jelas duduk perkaranya, terlebih jika keterlibatan itu justru memperbesar kerusakan.

Semakin besar potensi fitnah yang muncul, semakin besar pula kebutuhan seseorang untuk mengendalikan diri dan mempertimbangkan setiap langkah secara matang.

Menegur Kemungkaran Tidak Selalu Menjadi Solusi Terbaik

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak contoh yang menunjukkan bahwa tindakan yang benar belum tentu menghasilkan akibat yang baik apabila dilakukan tanpa melihat kondisi.

Misalnya ketika seorang remaja yang sedang mencari perhatian sengaja mengejek atau bersiul saat melihat seorang kiai melintas.

Perbuatannya jelas merupakan tindakan yang tidak pantas dan layak mendapat teguran.

Namun persoalannya berubah ketika karakter pelaku ternyata sangat temperamental. Teguran yang seharusnya menjadi nasihat bisa saja memancing emosi.

BACA:  Banyak Orang Baru Menyadari, Ternyata Pertempuran Terbesar Manusia Terjadi di Dalam Hati

Jika kemarahan itu berkembang menjadi tindakan kekerasan, maka persoalan yang semula hanya berupa penghinaan berubah menjadi penganiayaan, bahkan bukan tidak mungkin berujung pada pembunuhan.

Dalam kondisi seperti ini, tujuan awal mencegah kemungkaran justru gagal tercapai karena kemaksiatan yang lahir setelahnya jauh lebih berat daripada kesalahan pertama.

Imam Nawawi Menjelaskan Syarat Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Para ulama telah memberikan pedoman mengenai hal tersebut.

Imam Nawawi menjelaskan bahwa amar ma’ruf nahi munkar memang merupakan kewajiban, tetapi pelaksanaannya memiliki syarat yang tidak boleh diabaikan.

Salah satu syarat terpenting adalah memastikan bahwa upaya mencegah kemungkaran tidak justru melahirkan kemungkaran yang lebih besar.

Artinya, seseorang harus mampu menilai situasi sebelum bertindak.

Bila tindakan yang dilakukan diperkirakan hanya akan memperburuk keadaan, maka diperlukan cara lain yang lebih tepat.

Inilah yang membedakan antara keberanian dengan kebijaksanaan. Tidak semua tindakan yang terlihat tegas merupakan tindakan yang paling benar menurut syariat.

Fenomena Pacaran Menjadi Contoh Penting

Contoh lain yang sering ditemui adalah ketika orang tua mengetahui anaknya berpacaran.

Dalam ajaran Islam, hubungan tersebut memang dilarang. Akan tetapi, cara menyikapinya tidak boleh dilakukan hanya berdasarkan emosi.

Tidak sedikit kasus ketika anak ditegur dengan kemarahan justru memilih kabur dari rumah bersama pasangannya.

Persoalan yang sebelumnya hanya sebatas hubungan yang tidak dibenarkan akhirnya berkembang menjadi masalah yang jauh lebih besar, mulai dari meninggalkan keluarga, hidup tanpa pengawasan, hingga menikah tanpa restu orang tua.

Karena itu, pendekatan yang terlalu keras tidak selalu menghasilkan perubahan. Bahkan dalam banyak keadaan justru memperlebar jarak antara anak dengan keluarganya.

Kebijaksanaan Dimulai dari Memahami Karakter Manusia

Para ulama memahami bahwa setiap manusia memiliki sifat yang berbeda.

Ada orang yang langsung sadar ketika dinasihati dengan lembut. Ada pula yang justru semakin keras ketika ditekan.

Oleh sebab itu, metode dakwah tidak pernah dibuat sama untuk semua orang.

Tidak sedikit ulama yang memilih mendekati keluarga pelaku, sahabat dekatnya, atau tokoh yang dihormatinya terlebih dahulu sebelum memberikan nasihat secara langsung.

Pendekatan semacam ini sering kali lebih efektif karena tidak menimbulkan rasa malu ataupun perlawanan dari orang yang sedang dinasihati.

BACA:  Ternyata Surat Al Ashr Tidak Hanya Bicara Soal Waktu, Ada Pesan Besar yang Sering Terlupakan

Tujuan akhirnya tetap sama, yakni mengurangi kemungkaran, tetapi ditempuh melalui jalan yang lebih aman dan lebih memungkinkan menghasilkan perubahan.

Al-Qur’an Mengajarkan Agar Tidak Memicu Kerusakan yang Lebih Besar

Prinsip tersebut juga ditegaskan Allah SWT dalam Surah Al-An’am ayat 108.

Allah melarang kaum Muslim memaki sesembahan orang-orang musyrik karena tindakan tersebut justru dapat memancing mereka membalas dengan menghina Allah SWT tanpa dasar ilmu.

Ayat ini memberikan pelajaran yang sangat dalam.

Sekalipun seseorang berada di pihak yang benar, cara menyampaikan kebenaran tetap harus mempertimbangkan akibat yang mungkin muncul.

Jika tindakan yang benar justru membuka pintu keburukan yang lebih luas, maka cara tersebut perlu ditinjau kembali.

Tidak Semua Masalah Harus Diselesaikan Secara Frontal

Dalam sejarah Islam, para ulama besar dikenal sangat berhati-hati ketika menjalankan amar ma’ruf nahi munkar.

Mereka tidak serta-merta turun tangan setiap kali melihat kemaksiatan.

Setiap tindakan selalu diawali dengan pertimbangan: apakah langkah ini akan memperbaiki keadaan atau justru memperparah persoalan?

Apabila risiko kerusakan lebih besar daripada manfaat yang diharapkan, mereka memilih strategi lain yang lebih bijaksana.

Sikap seperti inilah yang sering kali disalahpahami sebagai membiarkan kemungkaran.

Padahal hakikatnya bukan membiarkan, melainkan menunda tindakan langsung demi mencegah munculnya dosa dan kerusakan yang lebih besar.

Hikmah Besar di Balik Sikap Menahan Diri

Islam tidak pernah mengajarkan umatnya bersikap acuh terhadap kemaksiatan. Amar ma’ruf nahi munkar tetap menjadi kewajiban yang akan terus berlaku hingga hari kiamat.

Namun syariat juga mengajarkan bahwa setiap kewajiban harus dilaksanakan dengan ilmu, hikmah, dan perhitungan yang matang.

Keberhasilan mencegah kemungkaran tidak hanya diukur dari keberanian menegur, tetapi juga dari kemampuan menjaga agar keadaan tidak berubah menjadi lebih buruk.

Karena itu, sebelum terburu-buru menyelesaikan sebuah persoalan, seseorang perlu bertanya kepada dirinya sendiri.

Apakah tindakan ini benar-benar akan memperbaiki keadaan, atau justru membuka pintu munculnya dosa yang lebih besar?

Di situlah letak kebijaksanaan yang selama ini diajarkan para ulama.

Kadang-kadang, menahan diri bukanlah bentuk kelemahan, melainkan strategi terbaik untuk menjaga kemaslahatan yang lebih luas. (kangtop)