Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.160, Ancaman Konflik AS-Iran Jadi Sorotan Pasar

Kombis43 Dilihat

KONCOdewe.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengakhiri perdagangan Selasa (3/11/2026) di zona pelemahan.

Mata uang Garuda turun tipis 4 poin atau sekitar 0,02 persen sehingga berada di posisi Rp18.160 per dolar AS.

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa salah satu faktor eksternal yang memengaruhi pergerakan rupiah berasal dari laporan serangan AS terhadap Pulau Qeshm milik Iran.

Sejumlah pejabat AS menyebut serangan tersebut bersifat defensif.

Langkah itu diklaim bertujuan membatasi kemampuan Iran dalam melakukan serangan terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.

“Pada hari Senin, Trump melontarkan keraguan mengenai apakah ia akan benar-benar melanjutkan ancaman serangan militer terhadap Iran, seraya menambahkan bahwa kesepakatan dengan Teheran mungkin saja tercapai,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Di tengah ketegangan tersebut, komunikasi antara Iran dan AS untuk mencari jalan keluar dari konflik masih berlangsung.

Sebelumnya, serangkaian perundingan Iran dengan pihak mediator dari Qatar telah menghasilkan proposal yang diperbarui.

Namun, pembahasan tersebut belum menunjukkan kemajuan yang signifikan.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan bahwa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei telah memberikan kewenangan tertentu kepada pemerintah untuk menjalankan pembicaraan perdamaian.

Sementara itu, AS juga merencanakan pertemuan delegasi Ukraina dan Rusia di Abu Dhabi pada 10–11 November.

Agenda tersebut mencakup pembahasan penghentian perang Rusia-Ukraina, pengaturan keamanan setelah konflik, serta langkah-langkah untuk meredakan ketegangan.

Pasar Menanti Pemilu AS dan Data Ekonomi

Dari perkembangan global, perhatian investor turut tertuju pada pemilihan umum paruh waktu atau midterm elections AS yang berlangsung pada 3 November.

BACA:  Dolar AS Menguat di Pembukaan Perdagangan Hari Ini, Rupiah Berada di Level Rp17.671

Selain itu, pelaku pasar akan mencermati sejumlah indikator ekonomi untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.

Sejumlah data penting dijadwalkan rilis sepanjang pekan ini. Data lowongan pekerjaan JOLTS akan diumumkan pada Selasa.

Berikutnya, laporan perubahan tenaga kerja ADP dan indeks aktivitas sektor jasa ISM Services PMI dijadwalkan keluar pada Rabu.

Rangkaian data tersebut akan menjadi perhatian pasar menjelang publikasi laporan ketenagakerjaan AS atau Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat.

Inflasi Pangan Jadi Tekanan dari Dalam Negeri

Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi perkembangan inflasi pangan pada Oktober.

Kenaikan harga bahan pangan menunjukkan bahwa biaya kebutuhan pokok masyarakat masih menghadapi tekanan.

Inflasi pangan tercatat mencapai level tertinggi dalam lima bulan terakhir.

Kondisi tersebut dipengaruhi gangguan pasokan akibat fenomena El Niño yang berdampak terhadap produksi dan distribusi sejumlah komoditas.

Beras, cabai, sayuran, serta berbagai bahan pangan lainnya berpotensi mengalami kenaikan harga ketika pasokan terganggu.

Situasi ini menjadi perhatian karena lonjakan harga kebutuhan pokok dapat mengurangi daya beli masyarakat, khususnya kelompok berpendapatan menengah ke bawah.

Walaupun inflasi secara umum sedikit melandai dan masih berada dalam sasaran Bank Indonesia, tekanan pada kelompok pangan memperlihatkan bahwa beban biaya hidup masyarakat belum sepenuhnya mereda.

Surplus Perdagangan Indonesia Masih Menghadapi Tantangan

Faktor lainnya berasal dari perkembangan neraca perdagangan Indonesia.

Pada September 2026, surplus perdagangan tercatat sebesar USD3,36 miliar, lebih tinggi dibandingkan perkiraan.

Meski demikian, kondisi tersebut masih menghadapi tantangan karena pertumbuhan impor berlangsung lebih cepat daripada ekspor.

Artinya, peningkatan nilai barang yang masuk ke Indonesia lebih besar dibandingkan pertumbuhan nilai barang yang dikirim ke pasar luar negeri.

BACA:  Harga Bawang Putih Jadi Perhatian, Turun Rp200 per Kilogram pada 22 September 2026

Ibrahim menilai peningkatan impor tidak selalu menjadi sinyal negatif.

Kenaikan tersebut dapat mencerminkan bertambahnya kebutuhan bahan baku dan barang modal untuk mendukung aktivitas industri dalam negeri.

“Namun, jika pertumbuhan impor terus melampaui ekspor, selisih surplus perdagangan akan semakin menyempit,” kata dia.

Menurut Ibrahim, hal yang perlu dicermati adalah sejauh mana kenaikan impor mampu meningkatkan kapasitas produksi dan memperkuat ekspor nasional.

Jika tidak diimbangi pertumbuhan ekspor, surplus perdagangan Indonesia berisiko semakin menipis.

Berdasarkan berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya masih akan berfluktuasi dengan kecenderungan melemah.

Nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak dalam kisaran Rp18.160 hingga Rp18.210 per dolar AS. (kangtop)