Takwa Bukan Hanya Menjauhi Dosa, Ada Satu Bentuk Keburukan yang Sering Luput dari Perhatian

Religi44 Dilihat

KONCOdewe.com – Banyak orang memahami takwa sebagai usaha menjauhi segala bentuk maksiat dan menjalankan perintah Allah SWT.

Pemahaman tersebut memang benar, tetapi para ulama menjelaskan bahwa hakikat takwa jauh lebih luas.

Seorang muslim tidak hanya dituntut meninggalkan sesuatu yang jelas diharamkan.

Tetapi juga belajar mengendalikan diri dari sikap berlebihan terhadap perkara yang sebenarnya diperbolehkan.

Karena itu, perjalanan menuju ketakwaan bukan sekadar persoalan halal dan haram.

Ada dimensi akhlak serta pengendalian diri yang menjadi bagian penting dalam menyempurnakan keimanan.

Ketika seseorang mampu menjaga dirinya dari dua bentuk keburukan tersebut, maka jalan menuju derajat takwa akan semakin terbuka.

Keburukan Pertama: Maksiat yang Jelas Dilarang

Bentuk keburukan yang paling mendasar adalah segala perbuatan yang telah ditegaskan sebagai larangan dalam syariat Islam.

Maksiat, kezaliman, kemungkaran, hingga berbagai tindakan yang diharamkan wajib ditinggalkan oleh setiap muslim tanpa pengecualian.

Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu mendekati perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.” (QS. Al-An’am: 151)

Menjauhi dosa merupakan pondasi utama ketakwaan. Tanpa meninggalkan maksiat, seseorang akan sulit mencapai kehidupan yang dipenuhi keberkahan.

Karena itulah para ulama menempatkan usaha menjauhi segala yang haram sebagai langkah pertama dalam membangun hubungan yang benar dengan Allah SWT.

Keburukan Kedua: Berlebihan dalam Perkara Halal

Selain maksiat, ada bentuk keburukan lain yang sering kali tidak disadari, yaitu sikap berlebihan terhadap sesuatu yang sebenarnya halal.

Misalnya makan secara berlebihan, terlalu mencintai harta, mengejar kenikmatan dunia tanpa batas, atau larut dalam berbagai kesenangan hingga melalaikan ibadah.

Allah SWT telah mengingatkan dalam firman-Nya: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.”(QS. Al-A’raf: 31)

BACA:  Makna Penciptaan Manusia dalam Kisah Nabi Adam, Amanah Besar yang Diemban Sejak Awal Kehidupan

Ayat tersebut menunjukkan bahwa sesuatu yang halal pun dapat berubah menjadi penyebab kelalaian apabila dilakukan tanpa kendali.

Sikap berlebihan berpotensi mengeraskan hati, menumbuhkan sifat tamak, serta menjauhkan seseorang dari kehidupan yang sederhana dan penuh syukur.

Warak, Tingkatan Takwa yang Lebih Tinggi

Para ulama menjelaskan bahwa meninggalkan maksiat akan menjadikan seseorang sebagai pribadi yang istiqamah dalam menjalankan agama.

Namun, ketika seseorang juga mampu mengendalikan diri dari sikap berlebihan terhadap perkara halal, ia mulai memasuki tingkatan yang lebih tinggi, yaitu warak.

Warak adalah sikap sangat berhati-hati dalam menjaga diri agar tidak terjatuh ke dalam perkara yang meragukan maupun yang dapat menyeret kepada dosa.

Orang yang memiliki sifat ini selalu berusaha menjaga kebersihan hati sekaligus memperhatikan setiap amal yang dilakukan.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara yang samar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut mengajarkan pentingnya kehati-hatian dalam menjalani kehidupan sehingga seorang muslim tidak mudah terjerumus ke dalam sesuatu yang dapat merusak ketakwaannya.

Lima Anggota Tubuh yang Harus Dijaga

Takwa bukan hanya urusan hati, tetapi juga harus tampak dalam perilaku sehari-hari.

Para ulama menerangkan bahwa ada lima anggota tubuh yang perlu dijaga agar ketakwaan benar-benar terwujud.

Yang pertama adalah mata, yang harus dijauhkan dari pandangan yang diharamkan.

Allah SWT berfirman: “Katakanlah kepada orang-orang beriman agar mereka menundukkan pandangannya.” (QS. An-Nur: 30)

Kedua adalah telinga, yang hendaknya tidak digunakan untuk mendengarkan ghibah, fitnah, maupun perkataan yang mengundang dosa.

Ketiga adalah lisan. Ucapan memiliki pengaruh besar terhadap amal seseorang. Menjaga lisan berarti menghindari dusta, celaan, fitnah, serta perkataan sia-sia.

BACA:  Banyak Orang Baru Sadar, Ternyata Tiga Sikap Ini yang Membuat Seseorang Dihormati

Allah SWT berfirman: “Tidaklah suatu kata diucapkan melainkan ada malaikat yang selalu mencatat.”(QS. Qaf: 18)

Keempat ialah perut, yang harus dijaga dari makanan haram sekaligus dari kebiasaan makan secara berlebihan meskipun makanan tersebut halal.

Sedangkan yang kelima adalah hati. Hati perlu dibersihkan dari penyakit seperti riya, dengki, ujub, serta kesombongan karena penyakit batin inilah yang sering kali merusak amal tanpa disadari.

Takwa Adalah Disiplin Menjaga Diri

Takwa bukan hanya tentang rajin beribadah, melainkan juga kemampuan mengendalikan seluruh aspek kehidupan.

Menjauhi maksiat, menghindari sikap berlebihan, serta menjaga hati dan anggota tubuh merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Semakin seseorang mampu mengendalikan dirinya dari hal-hal yang mendekatkannya kepada dosa maupun kelalaian, semakin dekat pula ia kepada ridha Allah SWT.

Itulah hakikat perjalanan takwa, sebuah proses panjang yang membentuk manusia menjadi pribadi yang lebih bersih, lebih bijaksana, dan lebih berhati-hati dalam setiap langkah kehidupannya. (kangtop)