Fitrah Ketuhanan Sudah Ada Sejak Lahir, Tapi Mengapa Banyak Manusia Menjauh dari Allah?

Religi61 Dilihat

KONCOdewe.com – Sejak dilahirkan ke dunia, setiap manusia membawa fitrah untuk mengenal dan mengakui keberadaan Allah SWT.

Fitrah tersebut merupakan anugerah yang telah Allah tanamkan dalam hati setiap insan sebagai bekal untuk mengenal Sang Pencipta dan menjalani kehidupan sesuai tujuan penciptaannya.

Karena itulah, di berbagai belahan dunia, manusia selalu memiliki dorongan untuk mencari sesuatu yang dianggap paling tinggi, paling berkuasa, dan paling layak menjadi tempat bergantung.

Namun dalam perjalanan hidup, fitrah itu tidak selalu tetap terjaga.

Berbagai godaan dunia seperti harta, jabatan, kekuasaan, popularitas, hingga hawa nafsu perlahan dapat menggeser posisi Allah dalam hati manusia.

Bahkan di era modern, tidak sedikit orang yang menjadikan logika, ilmu pengetahuan, atau dirinya sendiri sebagai ukuran mutlak kebenaran.

Ketika hal itu terjadi, tanpa disadari manusia telah menempatkan sesuatu selain Allah sebagai pusat pengabdian.

Fitrah Mengenal Allah Telah Ada Sejak Alam Ruh

Islam menjelaskan bahwa pengakuan terhadap Allah bukanlah sesuatu yang baru muncul ketika manusia hidup di dunia.

Sebelum dilahirkan, seluruh ruh manusia telah bersaksi bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan.

Hal tersebut ditegaskan dalam Surah Al-A’raf ayat 172, ketika Allah mengambil kesaksian seluruh keturunan Nabi Adam AS dengan pertanyaan:

“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Seluruh ruh manusia menjawab, “Benar, Engkau adalah Tuhan kami.”

Kesaksian tersebut menjadi dasar mengapa dalam diri manusia selalu ada dorongan untuk mencari Tuhan.

Meski demikian, lingkungan, pendidikan, serta pengaruh kehidupan sering kali membuat fitrah tersebut tertutupi sehingga manusia kehilangan arah dalam beribadah.

Setan dan Hawa Nafsu Menjadi Ujian Kehidupan

Al-Qur’an menjelaskan bahwa setan tidak pernah berhenti menggoda manusia agar menjauh dari jalan Allah SWT.

Bisikan untuk meragukan keberadaan Tuhan, mempertanyakan agama, hingga mengutamakan kepentingan dunia merupakan bagian dari tipu daya yang terus dilakukan.

Selain godaan setan, hawa nafsu juga menjadi ujian terbesar.

Ketika manusia lebih mengutamakan kesenangan dunia daripada perintah Allah, fitrah ketuhanan perlahan melemah.

Akibatnya, manusia menjadikan harta, jabatan, kekuasaan, atau kesenangan sebagai tujuan utama hidupnya.

BACA:  Otak Menyimpan, Hati Menentukan, Begini Cara Allah Mengatur Proses Berpikir Manusia

Padahal Allah SWT telah mengingatkan bahwa setan adalah musuh yang nyata dan akan terus mengajak manusia menuju jalan yang menyesatkan apabila tidak selalu mendekatkan diri kepada-Nya.

Ketika Dunia Menjadi “Tuhan”

Tidak semua bentuk penyembahan dilakukan dengan sujud kepada berhala.

Dalam kehidupan modern, bentuk “penyembahan” sering kali hadir dalam wujud yang lebih halus.

Ada orang yang rela mengorbankan keluarga demi mengejar kekayaan.

Ada pula yang menghalalkan segala cara demi mempertahankan jabatan atau popularitas.

Sebagian lainnya begitu mengagungkan logika hingga menolak semua petunjuk wahyu.

Dalam pandangan Islam, ketika sesuatu lebih ditaati daripada perintah Allah SWT, maka hal tersebut telah mengambil posisi sebagai “sesembahan” dalam kehidupan seseorang.

Alam Semesta Menjadi Bukti Keberadaan Allah

Salah satu cara paling mudah mengenal Allah adalah dengan memperhatikan alam semesta.

Langit yang membentang, pergantian siang dan malam, hujan yang turun, hingga kehidupan yang terus berjalan menunjukkan adanya aturan yang sangat sempurna.

Tidak ada satu pun bangunan berdiri tanpa pembangun. Demikian pula alam raya yang begitu luas tidak mungkin hadir tanpa pencipta.

Para ulama sejak dahulu sering menyampaikan kisah sederhana orang Badui yang berkata:

“Jejak kaki menunjukkan ada yang berjalan, sedangkan kotoran unta menunjukkan adanya unta. Maka langit yang bertabur bintang dan bumi yang terbentang luas tentu menunjukkan adanya Sang Pencipta Yang Maha Agung.”

Logika sebab-akibat tersebut menjadi salah satu bukti bahwa seluruh ciptaan pasti memiliki pencipta.

Dan pada akhirnya seluruh sebab bermuara kepada Allah SWT sebagai Musabbibul Asbab, penyebab dari segala sebab.

Para Nabi Mengajarkan Pentingnya Merenung

Al-Qur’an juga mengisahkan bagaimana para nabi mengajarkan manusia untuk menggunakan akal dalam mengenal Allah.

Nabi Ibrahim AS pernah memperhatikan bintang, bulan, dan matahari sebelum akhirnya menyadari bahwa semuanya hanyalah makhluk ciptaan Allah.

Nabi Musa AS pernah memohon agar dapat melihat Allah secara langsung, tetapi Allah menjelaskan bahwa manusia tidak akan mampu melihat-Nya di dunia.

Sementara Rasulullah SAW ketika menerima wahyu pertama juga mengalami kegelisahan hingga mendatangi Waraqah bin Naufal bersama Khadijah RA.

BACA:  Jalan Menuju Allah Ternyata Dimulai dari Diri Sendiri, Ini Penjelasan yang Perlu Dipahami

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa proses mencari keyakinan merupakan bagian dari perjalanan iman, selama tetap berpijak pada petunjuk Allah.

Allah Sangat Dekat dengan Hamba-Nya

Meski tidak dapat dilihat oleh mata, Allah SWT menegaskan bahwa Dia selalu dekat dengan hamba-hamba-Nya.

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 186, Allah berfirman bahwa Dia mengabulkan doa orang yang memohon kepada-Nya.

Kedekatan tersebut dapat dirasakan melalui berbagai nikmat kehidupan, mulai dari kesehatan, udara yang dihirup, rezeki yang diperoleh, hingga ketenangan hati saat beribadah.

Seluruh keteraturan alam, termasuk pergantian bulan sebagaimana dijelaskan dalam Surah At-Taubah ayat 36, menjadi bukti bahwa kehidupan ini berjalan sesuai ketetapan Allah SWT.

Mengenal Allah Melalui Ayat-Ayat-Nya

Islam mengajarkan bahwa manusia tidak diperintahkan membayangkan zat Allah karena kemampuan akal sangat terbatas.

Yang diajarkan justru mengenal Allah melalui nama-nama, sifat-sifat, serta tanda-tanda kebesaran-Nya yang tersebar di seluruh alam semesta.

Dalam Surah Thaha ayat 14, Allah menegaskan, “Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku. Maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku.”

Sementara dalam Surah Al-Ikhlas ayat 1-4, Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Tuhan Yang Maha Esa, tempat bergantung segala makhluk, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.

Menjaga Fitrah agar Tetap Lurus

Fitrah mengenal Allah adalah bekal yang dimiliki setiap manusia sejak sebelum dilahirkan.

Namun fitrah tersebut perlu terus dijaga melalui ilmu, ibadah, zikir, doa, serta perenungan terhadap ayat-ayat Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an maupun alam semesta.

Semakin seseorang mengenal ciptaan Allah, semakin besar pula kesadarannya akan kebesaran Sang Pencipta.

Tujuan hidup manusia bukan sekadar mengejar kenikmatan dunia, melainkan kembali kepada fitrahnya sebagai hamba yang mengabdi hanya kepada Allah SWT.

Dengan menjaga fitrah itu tetap hidup, manusia akan menemukan ketenangan, keberkahan, dan makna kehidupan yang sesungguhnya. (kangtop)