Mengapa Bubur Suro Selalu Hadir di Bulan Muharram? Ternyata Begini Sejarahnya

Religi113 Dilihat

KONCOdewe.com – Memasuki bulan Muharram atau yang dalam penanggalan Jawa dikenal sebagai bulan Suro, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia kembali menjalankan beragam tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Selain menjadi penanda pergantian Tahun Baru Islam, bulan ini juga dipandang sebagai momentum untuk memperbanyak ibadah, berbagi kepada sesama, serta melestarikan tradisi yang sarat makna.

Salah satu tradisi yang masih bertahan hingga kini adalah membuat Bubur Suro.

Hidangan khas ini tidak sekadar menjadi sajian keluarga, tetapi juga memiliki nilai spiritual dan sosial yang kuat.

Di sejumlah daerah, bubur tersebut dibagikan kepada tetangga, anak yatim, kaum dhuafa, hingga masyarakat yang membutuhkan sebagai bentuk sedekah dan rasa syukur kepada Allah SWT.

Tradisi Bubur Suro masih dapat dijumpai di berbagai wilayah seperti Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, hingga Solo.

Meski penyajiannya memiliki variasi di setiap daerah, makna yang terkandung di dalamnya tetap sama, yakni mempererat kebersamaan sekaligus mengawali tahun baru Islam dengan doa dan harapan baik.

Sejarah Tradisi Bubur Suro

Dalam tradisi masyarakat Jawa, Bubur Suro erat kaitannya dengan peringatan 1 Suro yang bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah.

Kalender Jawa yang digunakan hingga saat ini merupakan hasil penyatuan sistem penanggalan yang dilakukan Sultan Agung Mataram dengan mengacu pada kalender Hijriah.

Sejak saat itu, masyarakat Jawa memiliki kebiasaan membagikan bubur kepada warga sekitar sebagai simbol rasa syukur atas datangnya tahun baru.

Tradisi tersebut kemudian diwariskan dari generasi ke generasi hingga tetap lestari sampai sekarang.

Selain memiliki akar budaya Jawa, terdapat pula riwayat yang menghubungkan tradisi Bubur Suro dengan kisah Nabi Nuh AS.

BACA:  Jangan Anggap Sepele! Wudhu Ternyata Bisa Mengubah Ketenangan Hidup Seseorang

Sebagaimana dikutip dari berbagai literatur Islam, salah satunya dalam kitab Bada’i az-Zuhur karya Syekh Muhammad bin Ahmad bin Iyas Al-Hanafi yang juga dinukil oleh Imam As-Suyuthi.

Disebutkan bahwa kapal Nabi Nuh AS berlabuh dengan selamat di sebuah gunung tepat pada tanggal 10 Muharram atau Hari Asyura.

Sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan tersebut, Nabi Nuh AS melaksanakan puasa dan memerintahkan seluruh pengikutnya untuk ikut berpuasa pada hari itu.

Setelah kapal berlabuh, sisa bahan makanan yang masih tersimpan di dalam kapal kemudian dikumpulkan.

Konon, persediaan makanan yang tersisa hanya berupa beberapa jenis biji-bijian dengan jumlah yang tidak banyak.

Seluruh biji-bijian tersebut lalu dimasak bersama hingga menjadi satu hidangan sederhana yang kemudian dinikmati bersama-sama.

Tradisi memasak makanan dari berbagai jenis biji-bijian inilah yang diyakini menjadi salah satu asal-usul Bubur Suro.

Filosofi Bubur Suro

Bubur Suro bukan sekadar makanan tradisional. Hidangan ini menyimpan filosofi mendalam tentang rasa syukur, kebersamaan, dan harapan agar kehidupan di tahun yang baru dipenuhi keberkahan.

Di kalangan masyarakat Jawa, Bubur Suro bukan pula dianggap sebagai sesajen yang bersifat animistis.

Bubur tersebut lebih dipahami sebagai simbol atau perlengkapan adat (uba rampe) yang memiliki makna filosofis dalam menyambut datangnya tahun baru.

Karena itu, tradisi ini lebih menekankan nilai spiritual berupa doa kepada Allah SWT agar diberikan keselamatan, kesehatan, rezeki yang berkah, serta kehidupan yang lebih baik pada tahun mendatang.

Tradisi Sedekah di Bulan Muharram

Selain membuat Bubur Suro, masyarakat juga mengisi bulan Muharram dengan berbagai amalan sunnah.

Seperti berpuasa pada Hari Asyura, memperbanyak sedekah, menyantuni anak yatim, memperbanyak doa, hingga berbagai bentuk ibadah lainnya.

BACA:  Ternyata Ini yang Membuat Amal Tidak Sempurna Meski Sudah Rajin Ibadah

Di banyak daerah, Bubur Suro sengaja dimasak dalam jumlah besar agar dapat dibagikan kepada masyarakat sekitar.

Tradisi berbagi makanan ini menjadi wujud kepedulian sosial sekaligus mempererat hubungan antarwarga.

Tidak sedikit pula yang membagikan Bubur Suro kepada mereka yang sedang berbuka puasa pada 10 Muharram sehingga nilai ibadah dan semangat berbagi terasa semakin kuat.

Keunikan Bubur Suro

Setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri dalam menyajikan Bubur Suro.

Umumnya bubur dibuat dari beras yang dimasak bersama santan, daun salam, serai, serta berbagai rempah sehingga menghasilkan cita rasa gurih yang khas.

Yang membuat Bubur Suro semakin unik adalah penggunaan beragam jenis biji-bijian sebagai pelengkap.

Beberapa daerah menambahkan beras putih, beras merah, kacang hijau, kacang tanah, kacang tolo, kedelai, hingga jenis kacang lainnya.

Bahkan, dalam tradisi tertentu, sajian Bubur Suro dilengkapi tujuh macam kacang, suwiran jeruk bali, dan buah delima.

Angka tujuh dipercaya melambangkan harapan akan keberkahan, kelancaran rezeki, serta keselamatan dalam menjalani kehidupan sepanjang tahun.

Meski zaman terus berubah, tradisi Bubur Suro masih terus dipertahankan oleh banyak masyarakat Indonesia.

Bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya rasa syukur, kepedulian sosial, dan semangat berbagi kepada sesama di awal Tahun Baru Islam. (kangtop)