KONCOdewe.com – Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa perguruan tinggi semestinya menjadi ruang untuk bertukar dan menguji gagasan secara ilmiah, bukan menjadi arena yang memicu pertentangan.
Menurutnya, kebebasan akademik harus dimanfaatkan untuk melahirkan inovasi dan solusi bagi kemajuan bangsa.
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat menutup Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) di Jakarta, Minggu.
Ia mengibaratkan Indonesia sebagai sebuah kapal besar yang hanya dapat melaju menuju tujuan apabila seluruh potensi bangsa bersatu dan memberikan kontribusi terbaik.
Presiden mengatakan perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar di lingkungan kampus.
Namun, perbedaan itu seharusnya diwujudkan melalui adu argumentasi, pemikiran, filosofi, maupun inovasi dalam suasana akademis yang sehat.
Menurutnya, makna kebebasan akademik bukanlah kebebasan tanpa batas, melainkan kebebasan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan secara bertanggung jawab.
Karena itu, ia berharap perguruan tinggi tetap berfokus pada pengembangan sains dan teknologi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Prabowo juga mengingatkan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral karena pembiayaannya turut berasal dari masyarakat melalui pajak.
Hal tersebut berlaku baik bagi kampus negeri maupun swasta yang memperoleh berbagai bentuk dukungan pemerintah, termasuk subsidi di sejumlah sektor.
Dalam kesempatan itu, Presiden menerima berbagai masukan dari guru besar, rektor, dosen, peneliti, dan perwakilan perguruan tinggi.
Beberapa usulan yang disampaikan mencakup pemberian beasiswa doktor bagi dosen, pendanaan riset melalui sebagian laba BUMN.
Penguatan kerja sama internasional antaruniversitas, hingga strategi hilirisasi sumber daya alam menjadi produk bernilai tambah.
Prabowo memastikan berbagai gagasan yang dinilai konstruktif akan dipelajari dan ditindaklanjuti.
Ia bahkan berkelakar bahwa dirinya tidak hanya menerima masukan dari kalangan akademisi, tetapi juga dari masyarakat desa yang menyampaikan aspirasi melalui media sosial.
Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa Presiden memandang para dekan, rektor, dan guru besar sebagai sumber daya intelektual terbaik yang dimiliki bangsa.
Oleh sebab itu, Prabowo mengajak seluruh sivitas akademika untuk ikut berkontribusi menyelesaikan berbagai persoalan nasional sesuai bidang keahlian masing-masing.
Prasetyo mengatakan ajakan tersebut sebenarnya telah disampaikan Presiden sejak pembukaan KSTI pada Jumat (26/6).
Saat itu, Prabowo mendorong para akademisi agar mengarahkan penelitian, inovasi, dan kemampuan ilmiahnya demi mempercepat kemajuan Indonesia serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Presiden juga menegaskan bahwa pemerintahannya sejak awal melibatkan banyak ilmuwan dan profesor dalam posisi strategis.
Menurutnya, keberhasilan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh teknologi atau peralatan canggih, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya.
Ia mengibaratkan seorang pemimpin sebagai nakhoda yang membutuhkan awak kapal yang kompeten agar mampu membawa Indonesia mencapai tujuan pembangunan. (kangtop)









