Rupiah Sempat Menguat, Tapi Ancaman Tembus Rp18.000 per Dolar AS Masih Mengintai

Kombis52 Dilihat

KONCOdewe.com – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Jumat (3/7/2026), meski sempat menunjukkan penguatan di awal sesi.

Beragam faktor, baik dari dalam negeri maupun global, diperkirakan masih akan memengaruhi pergerakan mata uang Garuda.

Mulai dari kondisi sektor manufaktur Indonesia hingga perkembangan ekonomi Amerika Serikat.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah bergerak di rentang Rp17.990 hingga Rp18.050 per dolar AS.

Pada perdagangan Kamis (2/7/2026), rupiah ditutup melemah di level Rp17.995 per dolar AS seiring tekanan yang juga dialami mayoritas mata uang di kawasan Asia.

Meski demikian, saat pembukaan perdagangan Jumat pagi, rupiah justru menguat.

Hingga sekitar pukul 09.05 WIB, mata uang Indonesia terapresiasi sekitar 42 poin atau 0,23 persen ke posisi Rp17.941 per dolar AS.

Pada saat yang sama, indeks dolar AS turun tipis 0,03 persen menjadi 100,83.

Pergerakan mata uang di Asia juga berlangsung beragam. Yuan China, yen Jepang, won Korea Selatan, dolar Singapura, dan baht Thailand mencatatkan penguatan terhadap dolar AS.

Sementara itu, dolar Hong Kong dan dolar Taiwan bergerak melemah.

Menurut Ibrahim, salah satu sentimen eksternal yang masih menjadi perhatian pasar adalah perkembangan hubungan antara Amerika Serikat dan Iran.

Pembicaraan tidak langsung yang dimediasi Qatar di Doha dilaporkan menunjukkan kemajuan, khususnya terkait keamanan Selat Hormuz serta pembahasan pencairan dana milik Iran.

Selain isu geopolitik, pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed.

Berdasarkan proyeksi CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September masih menjadi perhatian utama investor.

BACA:  Bank Indonesia Pastikan Stabilitas Rupiah Dijaga 24 Jam di Tengah Tekanan Global

Dari sisi ekonomi AS, sejumlah data terbaru menunjukkan perlambatan aktivitas.

Laporan ADP mencatat penambahan tenaga kerja sektor swasta sebanyak 98.000 orang selama Juni, lebih rendah dari ekspektasi pasar yang mencapai 113.000.

Di sisi lain, indeks manufaktur ISM turun menjadi 53,3 dari sebelumnya 54,0.

Fokus investor kini tertuju pada rilis data nonfarm payrolls Amerika Serikat.

Pasar memperkirakan jumlah lapangan kerja baru bertambah sekitar 110.000 pada Juni, sedangkan tingkat pengangguran diprediksi bertahan di kisaran 4,3 persen.

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai sentimen terhadap aset Indonesia masih dibayangi sejumlah tantangan.

Mulai dari kasus korupsi bernilai besar, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal, defisit neraca perdagangan Mei, kenaikan inflasi.

Hingga tertundanya pengumuman terkait pasar modal Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI.

Tekanan juga datang dari sektor manufaktur nasional.

Data S&P Global menunjukkan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia turun menjadi 46,9 pada Juni 2026.

Yang menandakan kontraksi terdalam dalam setahun akibat melemahnya permintaan baru dan berkurangnya aktivitas produksi.

Sementara itu, Fitch Ratings memperkirakan cadangan devisa Indonesia pada 2026 hanya mampu menutup sekitar 4,9 bulan kebutuhan pembayaran eksternal berjalan.

Sedikit di bawah median negara dengan peringkat BBB yang mencapai sekitar lima bulan.

Penurunan tersebut dipengaruhi oleh kenaikan harga energi global, intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing, serta pembayaran utang luar negeri.

Di sisi lain, dolar AS sempat tertekan setelah data resmi Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan penciptaan lapangan kerja pada Juni hanya mencapai 57.000.

Jauh di bawah proyeksi pasar sebesar 110.000. Kondisi tersebut membuat indeks dolar AS melemah sekitar 0,6 persen ke level 100,81.

Sementara euro menguat sekitar 0,6 persen menjadi 1,1438 dolar AS. (kangtop)