Sering Dibuat Wedang, Kenali Perbedaan dan Manfaat Jahe Gajah, Emprit, atau Merah bagi Tubuh

Kesehatan47 Dilihat

KONCOdewe.com – Jahe merupakan salah satu tanaman herbal yang sudah sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Selain dimanfaatkan sebagai bumbu masakan, rimpang dengan cita rasa khas ini sejak lama digunakan sebagai bahan minuman tradisional maupun pelengkap berbagai ramuan herbal.

Sensasi hangat dan rasa pedas yang muncul ketika mengonsumsi jahe membuat tanaman ini kerap dicari ketika udara terasa dingin.

Jahe dapat diolah menjadi wedang jahe, dicampurkan dengan bahan herbal lain, maupun digunakan sebagai penyedap dalam berbagai makanan.

Namun, jahe ternyata tidak hanya dikenal karena sensasi hangatnya.

Rimpang ini juga memiliki sejumlah senyawa alami yang membuatnya banyak diteliti dan dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional.

Tiga Jenis Jahe yang Umum Dikenal

Secara umum, jahe dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis. Perbedaannya dapat dilihat dari ukuran, bentuk, hingga warna rimpangnya.

  1. Jahe Gajah atau Jahe Kuning Besar

Jenis pertama adalah jahe putih atau kuning besar yang cukup populer dengan sebutan jahe gajah.

Sesuai namanya, ukuran rimpang jenis ini relatif lebih besar dibandingkan jenis jahe lainnya.

Jahe gajah banyak dimanfaatkan sebagai bahan campuran minuman maupun berbagai produk olahan.

Karakter rasanya cenderung tidak sepedas jahe emprit atau jahe merah sehingga cukup umum digunakan dalam kebutuhan sehari-hari.

  1. Jahe Emprit atau Jahe Sunti

Berikutnya ada jahe putih atau kuning kecil yang dikenal sebagai jahe emprit atau jahe sunti.

Ukuran rimpangnya lebih kecil dibandingkan jahe gajah. Meski demikian, rasa pedas yang dihasilkan justru cenderung lebih kuat.

Karakter tersebut membuat jahe emprit cukup sering digunakan sebagai bahan dalam ramuan tradisional.

  1. Jahe Merah

Jenis berikutnya adalah jahe merah yang relatif mudah dikenali dari warna rimpangnya.

Ukurannya cenderung lebih kecil dan warna merah menjadi salah satu ciri khasnya.

Dari segi rasa, jahe merah juga dikenal memiliki sensasi pedas yang lebih kuat dibandingkan jahe gajah.

Karena karakter tersebut, jahe merah banyak digunakan dalam berbagai olahan herbal tradisional.

Dari Mana Rasa Pedas dan Hangat Jahe Berasal?

Sensasi khas yang muncul ketika mengonsumsi jahe tidak muncul begitu saja. Karakter tersebut berkaitan dengan berbagai senyawa alami yang terdapat di dalam rimpang jahe.

BACA:  Tak Hanya Menggoda Selera, Mangga Punya Kandungan yang Baik untuk Tubuh

Dalam buku The Miracle of Herbs (2013) karya dr. Prapti Utami dan Desty Ervira Puspaningtyas, S.Gz, disebutkan bahwa karakter khas jahe berkaitan dengan kandungan minyak asiri dan oleoresin.

Minyak asiri berperan dalam memberikan aroma khas pada jahe. Sementara itu, oleoresin berkontribusi terhadap rasa pedas yang menjadi ciri tanaman tersebut.

Kandungan minyak asiri pada jahe dapat berbeda-beda, tetapi secara umum berada di kisaran 1–3 persen. Adapun oleoresinnya berkisar sekitar 4–7,5 persen.

Selain kedua komponen tersebut, terdapat pula gingerol yang termasuk dalam kelompok senyawa fenilalkil keton.

Gingerol menjadi salah satu senyawa yang berhubungan erat dengan sensasi pedas khas jahe.

Bukan Hanya Gingerol, Jahe Mengandung Beragam Senyawa

Jahe memiliki komposisi senyawa alami yang cukup beragam.

Selain minyak asiri, rimpang ini diketahui mengandung berbagai komponen seperti zingiberena, zingiberol, kamfena, lemonin, bisabolena, kurkumen, gingerol, filandrena, resin pahit, flavonoid, senyawa fenolik, asam organik, alkaloid, dan terpenoid.

Kombinasi berbagai senyawa tersebut menjadi salah satu alasan mengapa jahe sejak lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional.

Dalam penggunaannya sehari-hari, jahe lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari pola hidup sehat atau sebagai bahan herbal pendamping.

Khasiat yang disebutkan dalam literatur tradisional juga tidak berarti jahe dapat menggantikan pemeriksaan maupun pengobatan medis ketika seseorang mengalami penyakit tertentu.

Beragam Manfaat Jahe dalam Pengobatan Tradisional

Jahe telah lama digunakan dalam berbagai ramuan tradisional.

Pemanfaatannya antara lain berkaitan dengan membantu menghangatkan tubuh, meredakan rasa tidak nyaman, mendukung nafsu makan, serta membantu fungsi pencernaan.

Sejumlah literatur herbal juga mencatat pemanfaatan jahe sebagai karminatif atau bahan yang membantu mengurangi keluhan akibat gas dalam saluran pencernaan.

Jahe juga secara tradisional digunakan sebagai stimulan dan diaforetik, yakni membantu merangsang keluarnya keringat.

Dalam pengobatan tradisional, jahe juga disebut digunakan untuk membantu mengatasi keluhan seperti mulas, sakit kepala, salesma, serta beberapa masalah yang diaplikasikan sebagai obat luar.

Jahe juga dikenal memiliki berbagai aktivitas biologis yang masih terus diteliti, antara lain aktivitas antioksidan, antiinflamasi, antimikroba, antiemetik, antitusif, antialergi, serta sejumlah aktivitas lainnya.

Istilah tersebut perlu dipahami sebagai aktivitas atau potensi biologis dari senyawa yang terkandung di dalam jahe, bukan berarti mengonsumsi jahe secara otomatis dapat menyembuhkan seluruh penyakit tersebut.

BACA:  Pepaya untuk Sembelit, Benarkah Buah Ini Bisa Membantu Melancarkan BAB?

Jahe dan Rasa Nyeri

Salah satu alasan jahe sering digunakan dalam ramuan tradisional adalah karena kandungan gingerol dan sensasi hangat yang dihasilkannya.

Sensasi hangat tersebut secara tradisional dipercaya membantu membuat tubuh terasa lebih nyaman.

Sementara itu, berbagai penelitian mengenai senyawa jahe juga banyak membahas kaitannya dengan proses peradangan dan rasa nyeri.

Karena itu, jahe kerap dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pendamping ketika seseorang mengalami keluhan ringan.

Namun, apabila nyeri berlangsung terus-menerus, semakin berat, atau disertai gejala lain, penyebabnya tetap perlu diperiksa agar mendapatkan penanganan yang sesuai.

Manfaat Jahe dalam Literatur Herbal Tradisional

Buku Temu-temuan dan Empon-empon (2009) karya Ir. Fauziah Muhlisah juga mencatat berbagai penggunaan jahe dalam pengobatan tradisional.

Di antaranya adalah pemanfaatan jahe sebagai obat luar untuk membantu mengatasi eksim, gangguan rematik, serta keluhan pada saraf muka.

Jahe juga secara tradisional digunakan pada lecet dan luka tertentu.

Selain penggunaan luar, jahe disebut dimanfaatkan untuk membantu membuang angin, memberikan sensasi hangat pada tubuh, meningkatkan nafsu makan, dan memperkuat fungsi lambung.

Dalam tradisi pemanfaatan tanaman obat, jahe juga digunakan untuk membantu pencernaan dan meredakan sejumlah keluhan seperti sesak dada.

Cara Bijak Mengonsumsi Jahe

Jahe dapat dikonsumsi dalam berbagai bentuk. Salah satu yang paling sederhana adalah menjadikannya minuman hangat.

Rimpang jahe juga dapat digunakan sebagai campuran masakan atau dikombinasikan dengan bahan pangan lainnya.

Meski berasal dari tanaman herbal, penggunaannya tetap perlu memperhatikan kondisi masing-masing orang.

Konsumsi berlebihan atau penggunaan dalam bentuk tertentu dapat menimbulkan keluhan pada sebagian orang.

Bagi seseorang yang sedang menjalani pengobatan, memiliki penyakit tertentu, atau menggunakan obat secara rutin, penggunaan jahe sebagai herbal sebaiknya diperhatikan dan bila perlu dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan.

Dengan demikian, jahe bukan sekadar bahan dapur yang memberikan rasa pedas dan aroma khas.

Di balik rimpangnya terdapat berbagai senyawa alami yang membuatnya sejak lama digunakan dalam tradisi kuliner sekaligus pengobatan herbal.

Mengenal jenisnya, memahami kandungannya, serta mengetahui batas penggunaannya menjadi bagian penting agar manfaat jahe dapat diperoleh secara bijak tanpa mengabaikan kebutuhan terhadap penanganan medis. (kangtop)