Gunung Anak Krakatau Bergejolak Lagi, Kolom Letusan Capai 400 Meter, Warga dan Wisatawan Diminta Waspada

Kabar50 Dilihat

KONCOdewe.com – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau kembali meningkat.

Gunung api yang berada di Selat Sunda tersebut mengalami erupsi pada Selasa (25/8/2026) siang sekitar pukul 12.31 WIB.

Erupsi tersebut memunculkan kolom abu setinggi sekitar 400 meter di atas puncak, atau mencapai kurang lebih 557 meter di atas permukaan laut.

Kolom letusan terlihat berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan terpantau bergerak ke arah barat daya.

Erupsi Terekam Seismograf Selama 61 Detik

Badan Geologi mencatat erupsi Gunung Anak Krakatau terjadi pada pukul 12.31 WIB.

Aktivitas tersebut turut terekam melalui perangkat seismograf dengan amplitudo maksimum mencapai 56 milimeter.

“Terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau pada hari Selasa, 25 Agustus 2026, pukul 12:31 WIB. Tinggi kolom letusan teramati ± 400 meter di atas puncak,” tulis Badan Geologi, Selasa (25/8/2026).

Petugas Pengamatan Gunung Api, Deny Mardiono, melaporkan bahwa letusan berlangsung selama sekitar 61 detik.

Kemunculan kolom abu menjadi salah satu tanda adanya aktivitas erupsi yang kembali terjadi di gunung api tersebut.

Kondisi tersebut membuat perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau perlu terus dipantau.

Masyarakat di sekitar kawasan maupun wisatawan yang berencana beraktivitas di wilayah Selat Sunda juga diminta memperhatikan setiap informasi resmi dari pihak berwenang.

Warga dan Wisatawan Diminta Menjauh dari Kawah

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengingatkan masyarakat, wisatawan, pengunjung, maupun pendaki untuk tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau.

Aktivitas masyarakat juga dilarang dilakukan dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.

Batas tersebut ditetapkan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bahaya yang dapat muncul akibat aktivitas vulkanik.

BACA:  Nanas Bikin Perut Buncit atau Justru Bisa Jadi Teman Diet? Ini yang Perlu Diketahui

PVMBG meminta masyarakat tidak mengabaikan rekomendasi keselamatan tersebut.

Terlebih, aktivitas gunung api dapat berubah sewaktu-waktu sehingga kondisi di sekitar kawah perlu diperlakukan dengan kewaspadaan tinggi.

Ikuti Informasi Resmi Perkembangan Gunung Api

Erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi pengingat bahwa aktivitas gunung api perlu terus dipantau.

Masyarakat diharapkan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dan menjadikan keterangan dari lembaga berwenang sebagai rujukan utama.

Dengan mematuhi radius aman dan mengikuti perkembangan informasi resmi, risiko yang mungkin timbul akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau dapat diminimalkan. (kangtop)