KONCOdewe.com – Salat lima waktu merupakan salah satu kewajiban utama dalam Islam yang harus dilaksanakan oleh setiap Muslim yang telah memenuhi ketentuan syariat.
Ibadah ini bukan sekadar rutinitas harian, melainkan bentuk ketaatan, penghambaan, dan pengakuan seorang manusia atas kedudukannya sebagai makhluk di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Namun, dalam kehidupan bermasyarakat, ibadah salat terkadang menjadi bahan perbincangan yang tidak selalu dipahami secara utuh.
Salah satu ungkapan yang kerap terdengar adalah, ”lebih baik tidak salat tetapi jujur daripada rajin salat tetapi masih suka berbohong”.
Kalimat tersebut biasanya muncul sebagai bentuk kritik terhadap seseorang yang terlihat tekun menjalankan ibadah, tetapi perilakunya justru bertentangan dengan nilai-nilai kebaikan.
Misalnya, seseorang yang rajin pergi ke masjid, tetapi masih gemar mengingkari janji, mengambil hak orang lain, menyebarkan kebohongan, atau memperlakukan sesama dengan tidak adil.
Kritik semacam itu mengandung pengingat yang penting.
Ibadah seharusnya mendorong seseorang untuk terus memperbaiki diri, termasuk dalam hal kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.
Akan tetapi, menjadikan perilaku buruk seseorang sebagai alasan untuk meremehkan kewajiban salat juga bukan sikap yang tepat.
Persoalan ini perlu dilihat secara seimbang.
Salat adalah kewajiban seorang hamba kepada Allah, sedangkan kejujuran dan akhlak mulia merupakan bagian penting dari tanggung jawab manusia dalam menjalani kehidupan.
Keduanya tidak seharusnya dipertentangkan, seolah-olah seseorang harus memilih salah satunya.
Salat Merupakan Bentuk Ketaatan kepada Allah
Dalam ajaran Islam, salat memiliki kedudukan yang sangat penting.
Perintah melaksanakan salat ditegaskan dalam Al-Qur’an, salah satunya melalui Surah Al-Baqarah ayat 43: “Wa aqīmuṣ-ṣalāta wa ātuz-zakāta warka‘ū ma‘ar-rāki‘īn.”
Artinya: “Tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa salat bukan sekadar pilihan yang dilakukan ketika seseorang merasa nyaman atau sedang memiliki waktu luang.
Salat merupakan perintah agama yang menjadi bagian dari ketaatan seorang Muslim kepada Allah.
Karena itu, kewajiban salat tidak semestinya diukur hanya berdasarkan penilaian manusia terhadap perilaku orang yang melaksanakannya.
Seseorang yang masih memiliki kekurangan dalam akhlak tetap perlu menjalankan salat sekaligus berusaha memperbaiki kekurangannya.
Begitu pula seseorang yang merasa telah berlaku jujur, ringan tangan membantu orang lain, dan tidak pernah merugikan sesama, tetap memiliki kewajiban untuk menjalankan ibadah sesuai tuntunan agama.
Kebaikan sosial tidak otomatis menggantikan kewajiban ibadah.
Sebaliknya, pelaksanaan ibadah juga tidak menjadikan seseorang bebas dari tanggung jawab moral terhadap orang lain.
Mengapa Orang yang Rajin Salat Masih Bisa Berbuat Salah?
Salah satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa manusia merupakan makhluk yang memiliki kekurangan.
Menjalankan ibadah tidak berarti seseorang langsung terbebas dari kesalahan, godaan, atau kebiasaan buruk.
Ada orang yang rajin salat, tetapi masih berjuang mengendalikan amarah.
Ada pula yang tekun beribadah, tetapi belum mampu meninggalkan kebiasaan berbohong atau bersikap tidak adil.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa proses memperbaiki diri membutuhkan kesungguhan dan konsistensi.
Ibadah tidak seharusnya dijadikan alasan untuk merasa paling benar.
Seseorang yang telah menjalankan salat justru perlu menjadikannya sebagai pengingat untuk terus mengevaluasi pikiran, ucapan, dan perbuatannya.
Ketika menyadari telah berbuat salah, ia perlu berani mengakui kesalahan, meminta maaf apabila merugikan orang lain, memperbaiki dampak perbuatannya, dan berusaha tidak mengulanginya.
Dengan demikian, kesalahan seseorang tidak seharusnya dijadikan alasan untuk meninggalkan salat.
Sebaliknya, kesalahan tersebut perlu menjadi dorongan untuk memperbaiki ibadah sekaligus membenahi perilaku.
Salat bukan tanda bahwa seseorang telah sempurna.
Salat merupakan kewajiban sekaligus bagian dari ikhtiar seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki kehidupannya.
Salat dan Akhlak Tidak Seharusnya Dipertentangkan
Ungkapan bahwa lebih baik tidak salat tetapi jujur daripada salat tetapi berbohong seolah-olah menempatkan ibadah dan kejujuran dalam dua pilihan yang saling berlawanan.
Padahal, seorang Muslim semestinya berusaha menjalankan keduanya.
Ia tidak cukup hanya menjaga hubungan dengan Allah melalui ibadah ritual, tetapi juga perlu memperhatikan bagaimana dirinya memperlakukan orang lain.
Kejujuran merupakan nilai penting dalam kehidupan. Tanpa kejujuran, kepercayaan mudah rusak.
Hubungan keluarga dapat terganggu, kerja sama menjadi sulit, dan kehidupan bermasyarakat kehilangan rasa aman.
Begitu pula dengan amanah, tanggung jawab, sikap adil, dan kepedulian terhadap sesama. Semua itu merupakan nilai yang perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Di sisi lain, salat tetap memiliki kedudukan tersendiri sebagai kewajiban ibadah.
Seseorang tidak bisa menjadikan kejujuran sebagai pembenaran untuk mengabaikan salat, sebagaimana seseorang tidak dapat menggunakan salat sebagai pembenaran untuk melakukan kebohongan.
Cara pandang yang lebih tepat adalah menjadikan ibadah dan akhlak sebagai dua hal yang perlu dijaga bersama.
Ketika seseorang menemukan kekurangan pada salah satunya, ia perlu memperbaikinya tanpa meremehkan yang lain.
Al-Qur’an Mengingatkan agar Salat Tidak Berhenti pada Gerakan
Al-Qur’an juga memberikan peringatan kepada orang-orang yang melaksanakan salat, tetapi lalai terhadap makna dan tanggung jawab ibadah tersebut.
Dalam Surah Al-Ma’un ayat 4–5, Allah berfirman: “Fa wailul lil-muṣallīn. Allażīna hum ‘an ṣalātihim sāhūn.”
Artinya: “Maka celakalah orang-orang yang melaksanakan salat, (yaitu) mereka yang lalai terhadap salatnya.”
Ayat ini mengingatkan bahwa salat tidak semestinya dijalankan secara sembarangan atau hanya menjadi penampilan lahiriah.
Ibadah perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh, termasuk dalam hal kesadaran, ketertiban, dan tanggung jawab seorang hamba terhadap perintah Allah.
Surah Al-Ma’un juga mengingatkan tentang perilaku yang mengabaikan anak yatim, tidak mendorong pemberian makan kepada orang miskin, serta melakukan kebaikan hanya untuk dilihat orang lain.
Rangkaian pesan tersebut mengajarkan bahwa keberagamaan tidak semestinya berhenti pada simbol dan penampilan.
Perhatian kepada sesama, kepedulian sosial, dan ketulusan juga menjadi bagian penting dari kehidupan seorang Muslim.
Meski demikian, ayat-ayat tersebut tidak berarti seseorang boleh meninggalkan salat ketika merasa akhlaknya belum baik.
Pesannya justru mengajak manusia agar tidak lalai dalam beribadah sekaligus tidak mengabaikan tanggung jawab sosial.
Salat perlu dijaga, sementara akhlak harus terus diperbaiki.
Salat Semestinya Mendorong Perubahan Perilaku
Dalam Surah Al-Ankabut ayat 45, Allah menjelaskan bahwa salat mencegah perbuatan keji dan mungkar.
Ayat tersebut mengandung pesan penting mengenai hubungan antara ibadah dan perilaku.
Salat bukan hanya kegiatan yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu, melainkan ibadah yang semestinya mengingatkan seseorang untuk menjauhi perbuatan buruk.
Ketika seseorang berdiri menghadap Allah, ia mengakui bahwa dirinya adalah hamba yang membutuhkan petunjuk dan pertolongan-Nya.
Pengakuan tersebut semestinya mendorongnya untuk lebih berhati-hati dalam bertindak.
Orang yang menjaga salat perlu terus belajar menjaga lisannya agar tidak menyakiti orang lain.
Ia juga perlu mengendalikan keinginan agar tidak mengambil hak orang lain, menepati janji, dan bersikap adil meskipun sedang menghadapi kepentingan pribadi.
Namun, perubahan perilaku tidak selalu terjadi seketika. Ada proses belajar, perjuangan melawan kebiasaan lama, dan upaya memperbaiki kesalahan yang harus dijalani.
Karena itu, ketika melihat seseorang yang rajin salat tetapi masih melakukan kesalahan, sikap yang lebih bijak adalah mengingatkan tanpa merendahkan.
Kritik boleh disampaikan, tetapi sebaiknya diarahkan pada perbaikan, bukan untuk membenarkan pengabaian terhadap kewajiban agama.
Begitu pula bagi orang yang sedang berusaha memperbaiki diri, jangan menunggu menjadi manusia sempurna untuk menjalankan salat.
Justru ibadah dan usaha memperbaiki akhlak perlu dilakukan secara bersamaan.
Jangan Merasa Paling Baik Hanya karena Rajin Beribadah
Menjalankan salat bukan alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Penampilan religius, pengetahuan agama, atau kebiasaan hadir di tempat ibadah tidak seharusnya menjadi dasar untuk merendahkan sesama.
Seseorang mungkin terlihat tekun beribadah, tetapi masih memiliki kekurangan yang perlu dibenahi.
Orang lain mungkin belum menjalankan semua kewajiban dengan baik, tetapi tetap memiliki kesempatan untuk belajar, bertobat, dan memperbaiki diri.
Manusia tidak memiliki kewenangan untuk memastikan nilai akhir seseorang di hadapan Allah hanya berdasarkan penampilan luarnya.
Yang dapat dilakukan adalah menilai perbuatan secara proporsional, mengingatkan ketika ada kesalahan, dan menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan introspeksi bagi diri sendiri.
Surah An-Najm ayat 32 mengingatkan:“Falā tuzakkū anfusakum, huwa a‘lamu bimanittaqā.”
Artinya: “Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.”
Pesan tersebut mengajak manusia untuk menjaga kerendahan hati.
Ketaatan perlu diusahakan dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak semestinya melahirkan kesombongan atau perasaan bahwa diri sendiri paling bersih dari kesalahan.
Orang yang rajin salat tetap perlu melakukan introspeksi. Orang yang memiliki akhlak baik juga perlu terus belajar memenuhi kewajiban agamanya.
Setiap orang memiliki ruang untuk memperbaiki diri, tanpa harus merendahkan atau meniadakan kebaikan yang lain.
Kejujuran Harus Dijaga, Salat Juga Harus Dilaksanakan
Dalam kehidupan sehari-hari, kejujuran dan ibadah sama-sama membutuhkan komitmen.
Menjaga kejujuran terkadang tidak mudah, terutama ketika seseorang berhadapan dengan tekanan, kepentingan pribadi, atau peluang mendapatkan keuntungan melalui cara yang tidak benar.
Begitu pula menjaga salat membutuhkan kedisiplinan, kesadaran, dan kesungguhan untuk tetap menjalankannya di tengah kesibukan.
Karena itu, keduanya tidak seharusnya dijadikan alasan untuk saling meniadakan.
Ketika seseorang mampu menjaga kejujuran, ia perlu mempertahankan sikap tersebut sekaligus memenuhi kewajiban salat.
Ketika seseorang telah tekun salat, ia perlu menjadikan ibadah itu sebagai pengingat untuk terus memperbaiki kejujuran dan tanggung jawabnya.
Jika pernah berbohong, ia perlu berhenti, mengakui kesalahan, dan memperbaiki akibat yang ditimbulkan.
Jika pernah melalaikan salat, ia perlu berusaha kembali menjalankan kewajibannya sesuai tuntunan agama.
Memperbaiki diri bukan perlombaan untuk terlihat paling saleh. Perbaikan diri merupakan perjalanan untuk menjadi manusia yang lebih taat, jujur, amanah, dan bermanfaat bagi sesama.
Menjaga Hubungan dengan Allah dan Sesama Manusia
Salat mengajarkan manusia untuk mengingat Allah di tengah berbagai kesibukan kehidupan.
Sementara itu, hubungan sosial menguji bagaimana nilai-nilai kebaikan diterapkan ketika seseorang berhadapan langsung dengan orang lain.
Seseorang bisa saja berbicara tentang kesabaran, tetapi perlu membuktikannya ketika menghadapi perbedaan pendapat.
Ia dapat mengaku menjunjung kejujuran, tetapi nilai itu baru benar-benar terlihat ketika harus memilih antara keuntungan pribadi dan kebenaran.
Demikian pula, seseorang dapat menjaga rutinitas ibadah, tetapi tetap perlu memperhatikan cara berbicara, menepati janji, memenuhi hak orang lain, dan menyelesaikan tanggung jawabnya.
Kehidupan beragama tidak seharusnya hanya terlihat dalam kegiatan ritual. Nilai-nilai kebaikan juga perlu hadir dalam keluarga, lingkungan kerja, pergaulan, dan kehidupan bermasyarakat.
Meski demikian, kualitas akhlak seseorang tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran untuk menggantikan seluruh kewajiban ibadahnya.
Setiap kewajiban memiliki kedudukan yang perlu dipahami dan dijalankan sesuai tuntunan Islam.
Dengan cara pandang tersebut, seseorang tidak mudah menghakimi orang lain, tetapi juga tidak mengabaikan kesalahan yang memang perlu diperbaiki.
Jangan Tinggalkan Salat, Jangan Abaikan Akhlak
Salat lima waktu merupakan kewajiban penghambaan kepada Allah, bukan sekadar penampilan yang digunakan untuk mendapatkan pengakuan dari manusia.
Pada saat yang sama, menjalankan salat tidak membuat seseorang bebas dari tuntutan untuk berlaku jujur, amanah, adil, dan peduli kepada sesama.
Ungkapan yang mempertentangkan salat dengan kejujuran perlu disikapi secara bijak.
Kritik terhadap orang yang rajin beribadah tetapi masih berbuat buruk dapat menjadi pengingat penting.
Namun, kritik tersebut tidak seharusnya berubah menjadi pembenaran untuk meremehkan atau meninggalkan salat.
Seorang Muslim semestinya terus berusaha menjaga ibadah sekaligus memperbaiki perilaku.
Jika masih memiliki kekurangan, jangan menjadikannya alasan untuk berhenti beribadah.
Jika telah tekun menjalankan salat, jangan merasa cukup sebelum terus berusaha memperbaiki akhlak.
Oleh karena itu, tujuan introspeksi bukan untuk mencari siapa yang paling buruk atau paling baik, melainkan untuk menyadari kekurangan diri dan memperbaikinya.
Salat perlu dijaga sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, sedangkan kejujuran dan akhlak mulia perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Jangan jadikan keburukan orang lain sebagai alasan untuk meninggalkan kewajiban.
Sebaliknya, jadikan setiap kekurangan sebagai pengingat untuk memperbaiki ibadah, membenahi akhlak, dan terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. (kangtop)












